Katolikana.com, Yogyakarta – Bagaikan bejana siap dibentuk, demikian secuil lagu rohani yang kerap kita dengarkan. Namun frasa tersebut ternyata begitu bermakna bagi pelayanan awam katolik (prodiakon), bahwa pelayanan dimulai dari kerapuhan—bukan kesempurnaan.
Pelayanan sebagai prodiakon, sedikit yang menganggapnya sebuah panggilan. Kebanyakan cuma untuk menggenapi tuntutan dari kekosongan pelayanan di lingkungan. Di sisi lain, ketika pelayanan berjalan, kegiatan prodiakon dianggap hanya sebagai rutinitas. Padahal, proadiakon semestinya dihayati layaknya bejana yang berhartakan kasih, sehingga dapat menyambung kisah Kristus.
Hal ini terungkap dalam kegiatan belajar bersama Prodiakon Paroki Keluarga Kudus, Banteng, Sleman, Yogyakarta, bertemakan ”Belajar Bersama di Luar Paroki : Menemukan Kedalaman Pelayanan dalam Spiritualitas Keluarga Kudus.”
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, mulai dari 8 Agustus 2026 di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, Kabupaten Magelang Jawa Tengah, menghadirkan narasumber Dr. Fransiskus Nikolaus Lakebelek Teluma, MSF, M.Hum, imam dari Kongregasi Misionari Keluarga Kudus (MSF).
Romo Ranis, begitu nama akrabnya, membuka kegiatan tersebut dengan merefleksikan 2 Korintus 4:7—yang perikopnya berbunyi demikian,” Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat , supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.”
Ia menjelaskan bagaimana bejana tanah lihat tersebut dapat menggambarkan pelayanan prodiakon di tengah kesibukan duniawi dan rutinitas menggereja. Bejana tanah liat menganalogikan sebuah wadah yang rapuh—mudah pecah, demikian halnya pelayanan awam katolik yang kerap dalam situasi kerapuhan.
Kerapuhan tersebut ditunjukkan dengan pelayanan yang justru berada dalam titik kejenuhan, kelelahan, dan penilaian atas ketidaklayakan seorang prodiakon dalam menjalankan pelayanan awamnya.
Padahal, sebagai sebuah wadah, prodiakon sama halnya dengan bejana dimana Allah menaruh harta yang berlimpah- limpah, yakni berupa kasih. ”Perlu disadari menjadi prodiakon itu adalah menjadi pelayan Tuhan, yang artinya diharapkan mampu menyambung kasih Kristus dalam setiap pelayanannya,” ungkapnya.
Kasih Kristus itu diwujudkan dalam banyak hal, misalnya dalam pelayanan mengunjungi orang sakit, mengirim komuni, bertemu dan mendengar cerita umat yang tidak mampu dijangkau oleh romo.
Romo Ranis juga menyampaikan pelayanan yang baik dalam pandangan spiritualitas keluarga kudus adalah seberapa besar pelayanan awam katolik tersebut juga mampu mendatangkan kebaikan bagi keluarga prodiakon itu sendiri. ”Pelayanan yang baik, tidak berarti mengesampingkan keutuhan keluarganya sendiri,” katanya.
Refleksi ini mengunggah hati 67 Prodiakon Paroki Banteng yang mengikuti kegiatan tersebut. Yulius Felicianus, salah satunya. Lantaran merasa semakin dikuatkan, baginya refleksi tersebut kedepan sebaiknya diberikan sebagai bekal awal ketika begitu prodiakon dilantik.
Hal ini mengingat tak sedikit prodiakon yang masih bimbang menjalankan pelayanannya, karena menilai dirinya belum sepenuhnya layak. Kondisi ini juga dialami umat ketika ditunjuk untuk menjadi prodiakon. Mereka memilih menolak dengan alasan tidak pantas, karena merasa tidak suci.
Sebagian prodiakon lain memandang ke depan perlu menyelenggarakan semacam kegiatan hari panggilan pelayan awam, sehingga mampu mendorong panggilan-panggilan umat untuk bergabung dalam pelayanan prodiakon.
Kontributor: Andreas Tri Pamungkas, Yogyakarta
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.