Festival Golo Koe 2026, Mgr. Maksi: Jangan Sampai Labuan Bajo Dikagumi Dunia, Tetapi Manusianya Kehilangan Tanah, Budaya, dan Alam

Ketika Pariwisata Labuan Bajo Dipanggil Merawat Iman, Budaya, dan Bumi.

KATOLIKANA.COM, Labuan Bajo – Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menegaskan Festival Golo Koe tidak hanya menjadi ajang keagamaan dan kebudayaan, tetapi juga ruang kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pariwisata yang berdampak bagi masyarakat lokal.

Hal tersebut disampaikan Mgr. Maksimus Regus saat membuka Festival Golo Koe 2026 di Marina Waterfront Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin 10 Agustus 2026.

Menurut Mgr. Maksi Festival Golo Koe 2026 kembali mempertemukan kita dengan tema, “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan”.

“Tema ini bukan sekadar slogan festival. Ia adalah sebuah ajakan untuk membaca dengan jernih ke mana Labuan Bajo, yang dilabeli sebagai pariwisata super premium, sedang bergerak, dengan sejumlah pertanyaan mendasar. Siapa yang ikut berjalan dalam perubahan ini? Siapa yang tertinggal, dan apa yang sedang terjadi pada rumah bersama kita?”, kata Mgr. Maksi.

Mgr. Maksi menegaskan beberapa poin penting dari gagasan ini. Pertama, ziarah komunal berarti kita memilih untuk berjalan bersama-sama. Labuan Bajo, Flores, telah berkembang menjadi salah satu sentra baru pariwisata dan pertumbuhan ekonomi terutama di kawasan timur Indonesia.

Baca Juga: Menteri Pariwisata Widiyanti Apresiasi Uskup Labuan Bajo di Festival Golo Koe 2026

Mgr. Maksi mengatakan bahwa Tuhan memberkati daerah ini dengan keindahan paripurna. Kita mensyukuri pembangunan, investasi, lapangan kerja, infrastruktur, serta terbukanya berbagai peluang baru. Namun, pertumbuhan tidak boleh membuat kita kehilangan pertanyaan yang paling mendasar: pertumbuhan untuk siapa?

“Kita tidak boleh memiliki kawasan pariwisata yang semakin indah, tetapi masyarakat lokal perlahan merasa asing di tanahnya sendiri (seolah-olah menjadi orang asing). Kita tidak boleh memiliki pariwisata kelas dunia sementara sebagian masyarakat hanya menjadi penonton. Kemajuan harus mengangkat nelayan, petani, UMKM, kaum perempuan, generasi muda, masyarakat adat, kelompok difabel, dan keluarga-keluarga sederhana,” kata Mgr. Maksi.

Menurut Mgr. Maksimus Regus ukuran keberhasilan pariwisata bukan hanya berapa banyak wisatawan yang datang, hotel yang dibangun, investasi yang masuk, atau pendapatan yang meningkat, tetapi juga berapa banyak kehidupan yang layak dan adil bagi masyarakat lokal yang ikut terwujud.

Kedua, persekutuan sinergis berarti tidak ada satu pihak pun yang dapat berjalan sendiri. Pemerintah, Gereja, masyarakat adat, dunia usaha, pelaku pariwisata, komunitas budaya, generasi muda, dan masyarakat sipil harus menjadi mitra yang setara dalam menjaga (merawat) masa depan Labuan Bajo-Flores.

Sinergi bukan sekadar duduk bersama dalam sebuah acara. Sinergi berarti keberanian untuk saling mendengarkan, saling mengoreksi, berbagi tanggung jawab, bahkan membatasi kepentingan sendiri demi kepentingan bersama terutama dengan memberikan ruang bagi mereka yang cenderung tertinggal (menjadi korban) dalam kereta pembangunan pariwisata.

Kita membutuhkan pembangunan yang bukan hanya cepat, tetapi juga tepat; bukan hanya besar, tetapi juga adil; bukan hanya menghasilkan keuntungan semata (profit-oriented) hari ini, tetapi juga menjamin kehidupan generasi mendatang.

Ketiga, merawat keutuhan ciptaan berarti berani mengoreksi cara kita memperlakukan alam. Manusia mempunyai kecenderungan yang sangat kuat dan cenderung brutal, bahwa manusia jauh lebih mudah mengambil dari alam daripada mengembalikan kepada alam apa yang telah kita ambil.

Uskupan Labuan Bajo Mgr. Maksimus dan Menteri Pariwisata Widiyanti menabung gong dalam pembukaan Festival Golo Koe di Labuan Bajo (10/8/2026). Foto: Vinsen Patno/Katolikana.com

Kekuatan-kekuatan yang rakus menggali tanah, mengambil air, menebang pohon, mengeksploitasi laut, membangun pantai, menghasilkan sampah, dan mengonsumsi energi. Alam memberi hampir tanpa berbicara. Namun, karena alam diam, jangan kita mengira bahwa alam tidak memiliki batas.

Festival Golo Koe harus menjadi sebuah itikad ekologis yakni mengembalikan kepada alam apa yang selama ini kita ambil tanpa batas. Jika kita mengambil pohon, kita harus menanamnya. Jika kita menggunakan air, kita harus menjaga sumbernya.

Jika kita menikmati laut, kita harus melindungi pesisirnya. Jika kita menghasilkan sampah, kita harus bertanggung jawab atasnya.

Keempat, pariwisata berkelanjutan juga harus menjaga budaya dan ruang religius masyarakat. Flores tidak boleh hanya dijual sebagai panorama. Flores memiliki jiwa. Ada budaya, adat, bahasa, kampung, tanah leluhur, ritus, gereja, kapela, masjid dan tradisi kehidupan yang telah membentuk masyarakat selama berabad-abad.

“Jangan sampai pembangunan membuat kita semakin terkenal di dunia, tetapi justru membuat kita semakin kehilangan jati diri. Kita menghendaki Labuan Bajo Flores yang modern tanpa kehilangan akar, terbuka kepada dunia tanpa tercerabut dari kebudayaan, maju secara ekonomi tanpa mengalami kemiskinan sosial dan spiritual,” katanya, menegaskan.

Mgr. Maksimus Regus berbicara kepada media tentang Festival Golo Koe 2026. Foto: Vinsen Patno/Katolikana.com

Kelima, Festival Golo Koe adalah sebuah ziarah pertobatan bersama. Keindahan paripurna Labuan Bajo Flores akan mengalami erosi mengerikan jika kerakusan dan ketidakpedulian ekologis mengurungnya. Festival ini, kata Mgr. Maksi, mengajak kita mengubah paradigma, yaitu dari eksploitasi menuju perawatan, dari dominasi menuju persaudaraan, dari keuntungan semata menuju kesejahteraan bersama, dari mengambil tanpa batas menuju keberanian untuk mengembalikan.

Inilah wajah pembangunan pariwisata yang kita impikan, yaitu ekonomi bertumbuh, masyarakat berdaya, budaya terpelihara, iman mendapat ruang, dan alam tetap bernapas.

Karena pada akhirnya kita bukan pemilik bumi ini. Kita hanyalah peziarah yang menerima bumi dari generasi sebelum kita dan mempunyai kewajiban moral untuk menyerahkannya (mewariskannya) dalam keadaan yang tetap layak dihuni kepada generasi sesudah kita. Semoga Festival Golo Koe 2026 menjadi suara yang mengingatkan kita semua: jangan sampai kita membangun Labuan Bajo yang dikagumi dunia, tetapi di sini, manusianya kehilangan tanah, budaya, dan alam.

“Saya berharap Festival Golo Koe, yang menjadi agenda tahunan, akan terus menjadi bagian dari TOP 10 KEN setiap tahun sebagai salah satu penyangga utama promosi pariwisata sekaligus promotor prinsip-prinsip keberlanjutan ekologis dalam wajah pembangunan (pariwisata) di daerah ini,” kata Mgr. Maksi.

Selanjutnya Mgr. Maksimus Regus mengungkapkan bahwa Labuan Bajo, Pulau Flores, mozaik mungil nan indah ini, ruang masa depan kehidupan, wajib kita jaga dari aksi tangan-tangan rakus.

“Saya dengan tegas menolak secara mutlak segala bentuk kebijakan, rencana, dan uji coba eksploitasi tanpa batas terhadap sumber daya alam (ekstraktif, panas bumi/geotermal) di Pulau Flores,” kata Mgr. Maksi.

 Editor: Basilius Triharyanto

Penulis adalah kontributor Katolikana.com di Labuan Bajo.

Festival Golo Koe 2026Labuan BajoMgr. Maksimus Regus
Comments (0)
Add Comment