Yogyakarta , Katolikana.com — Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta kini memiliki Taman Doa Bintaran. Taman doa ini diresmikan dalam Perayaan Ekaristi pembukaan Bulan Rosario, Kamis (1/10/2026) sore, oleh Vikaris Episkopalis Kevikepan Yogyakarta Timur, Romo Marcellinus Tanto, Pr.
“Syukur puji Tuhan bahwa paroki ini menginisiasi adanya taman doa. Semoga juga memberikan ruang bagi kita untuk mempunyai suasana hening, sekaligus membangun intimitas kita dengan Tuhan melalui situs-situs doa ini,” kata Romo Tanto saat mengawali misa.
Misa konselebrasi itu dipimpin Romo Tanto sebagai selebran utama, didampingi Romo Benediktus Danarto Agung Wibowo, Pr, Romo Yulius Sukardi, Pr, dan Romo Agustinus Yabarmase, Pr.
Taman Doa Bintaran dibangun di halaman belakang kompleks gereja. Di dalamnya terdapat sejumlah situs doa yang mengantar umat pada perjumpaan dengan Tuhan, antara lain patung Bunda Maria, patung Santo Yosef tidur, patung Keluarga Kudus, serta empat relief yang menggambarkan mimpi-mimpi Santo Yosef.
Devosi kepada Santo Yosef
Dalam homilinya, Romo Tanto berharap taman doa yang memberi ruang devosi kepada Santo Yosef ini memunculkan gerakan untuk berdoa bersamanya.
“Dalam Gereja Katolik, devosi kepada Santo Yosef memang kurang populer dibandingkan dengan Bunda Maria. Maka, baik jika di tempat ini muncul gerakan-gerakan untuk berdoa kepada Tuhan bersama dengan Santo Yosef. Karena, sebenarnya kehidupan Santo Yosef itu luar biasa,” ujarnya.
Mengutip Injil Matius (Mat. 1:24; 2:14–15; 2:21; 2:22), Romo Tanto mengajak umat memahami landasan biblis patung Santo Yosef tidur dan keempat relief mimpi tersebut.
Pertama, ketika bergulat dalam kebimbangan, Yosef didatangi malaikat Tuhan dalam mimpi dan diminta tidak takut mengambil Maria sebagai istrinya.
Kedua, setelah Yesus lahir, Herodes berniat membunuh Sang Anak. Lewat mimpi, Yosef diminta membawa Maria dan Yesus mengungsi ke Mesir dan tinggal di sana sampai Herodes meninggal.
Ketiga, setelah Herodes meninggal, Yosef kembali bermimpi dan diminta membawa Maria dan Yesus pulang ke tanah Israel. Keempat, dalam perjalanan pulang, Yosef mendengar bahwa Arkhelaus menggantikan Herodes, ayahnya, sebagai raja di Yudea. Ia takut pergi ke sana, lalu lewat mimpi dinasihati untuk menyingkir ke daerah Galilea dan tinggal di Nazaret.
Dalam Surat Apostolik Patris Corde (2020), Paus Fransiskus menyebut Yosef sebagai bapa yang taat. Setiap mimpi menyatakan kehendak Allah, dan Yosef segera melaksanakannya (Patris Corde, No. 3).
Mendiang Paus Fransiskus pula yang memopulerkan devosi kepada Santo Yosef tidur. Dalam perjumpaan dengan keluarga-keluarga di Manila, Filipina, Januari 2015, ia bercerita bahwa di meja kerjanya ada patung Santo Yosef tidur. Setiap kali menghadapi pergulatan atau permohonan, ia menuliskannya pada secarik kertas, lalu menyelipkannya di bawah patung itu agar turut didoakan Santo Yosef.
Misa Songolasan
Menjelang akhir misa yang dihadiri sekitar 300 umat Paroki Bintaran itu, Romo Yulius Sukardi, Pr menyampaikan bahwa iman umat perlu didukung devosi, salah satunya dengan berdoa kepada Tuhan bersama Santo Yosef. Karena itu, setiap tanggal 19 sore akan diadakan Perayaan Ekaristi di Taman Doa Bintaran untuk menghormati Santo Yosef. Tanggal 19 dipilih merujuk pada Hari Raya Santo Yosef, 19 Maret.
“Tapi kalau 19 kok kepanjangan. Maka, penamaan misa tanggal 19 lebih keren memakai bahasa Jawa: songolasan (sembilan belasan). Jadi, nanti misa di tempat ini disebut Misa Songolasan. Dan karena namanya devosi, sifatnya adalah kerelaan, tidak ada penunjukan siapa yang harus bertugas,” jelas romo yang berkarya di Gereja Santo Yusup Bintaran sejak 2024 itu.
Jejak 70 Romo
Selain taman doa, diresmikan pula papan nama para romo yang pernah berkarya di gereja berstatus cagar budaya ini. Tercatat 70 romo pernah dan sedang berkarya di Gereja Santo Yusup Bintaran, mulai dari Romo H. van Driessche, SJ (1932), salah seorang pelopor pembangunan gereja, hingga Romo Benediktus Danarta Agung Wibowo, Pr (2023, pastor paroki) dan Romo Yulius Sukardi, Pr (2024).
Romo pertama yang ditugaskan di Bintaran adalah Romo A.A.C.M. de Kuyper, SJ, dibantu Romo Albertus Soegijapranata, SJ, yang kelak menjadi uskup pribumi pertama di Indonesia. Keduanya berkarya di Paroki Bintaran sejak 12 Oktober 1933, sekitar enam bulan sebelum gedung gereja diresmikan pada 8 April 1934.
Kehadiran Taman Doa Bintaran melengkapi kekhasan Gereja Santo Yusup Bintaran. Selain menjadi warisan sejarah penting di Yogyakarta, gereja yang dijuluki “Gereja Jawa Pertama di Yogyakarta” itu kini menawarkan ruang hening untuk bersyukur dan berjumpa dengan Tuhan melalui devosi kepada Santo Yosef. (*)
Kontributor: Ariobimo Nusantara
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.