Menabung Kebaikan

Oleh Stanley E. E. Tjoa

Katolikana.com—Pagi itu terang, tetapi tidak menyengat seperti biasanya. Awan menggantung tipis, seolah menahan panas agar tidak jatuh menimpa kepala. Tidak ada tanda-tanda hujan, hanya semacam teduh yang jarang mampir.

Aku berdiri di depan garasi, memandangi sepeda yang tiga hari terakhir seperti “berbaring” tanpa daya. Ban belakangnya kempis total—bukan sekadar kurang angin, melainkan benar-benar menyerah.

Entah kapan tepatnya bocor. Yang kuingat, tiga hari lalu aku masih sempat mengayuh menuju sekolah, lalu mendadak sepeda terasa berat, seperti ada tangan tak terlihat yang menahan roda.

Sejak itu, sepeda masuk garasi, aku menunda menambal, dan menunda biasanya punya bakat aneh: ia bisa berubah menjadi kebiasaan.

Hari ini libur. Aku berpikir, mumpung libur, sekalian cari tambal ban. Tidak ada alasan lagi untuk menunda.

Aku membuka gerbang, menuntun sepeda keluar, refleks menoleh kanan-kiri seperti orang hendak menyeberang di jalan besar—padahal jalan kampung itu sepi. Biasanya, aku langsung mengayuh.

Pagi ini, aku berjalan pelan sambil sesekali menjinjit, berharap ada keajaiban kecil di ujung jalan: tukang tambal ban yang ternyata tetap buka, kompresor yang terdengar dari jauh, atau setidaknya seseorang yang bisa kutanya.

Jalan yang kulalui sama seperti jalan setiap hari. Bedanya, pada hari sekolah, aku melewatinya dengan tergesa: mengejar bel, mengejar waktu, mengejar rutinitas.

Pagi ini, jalan seperti memberi ruang untuk dilihat: pohon-pohon yang daunnya menua, pagar rumah yang catnya mengelupas, dan suara burung yang biasanya kalah oleh deru motor.

Sejujurnya aku sedikit cemas.

Kalau tidak ada tambal ban yang buka, bagaimana?

Karena libur, orang boleh istirahat—termasuk abang tambal ban. Aku mengerti itu. Hanya saja, mengerti tidak otomatis menghapus rasa panik kecil yang sering muncul kalau sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Aku berjalan tanpa arah pasti, menuntun sepeda yang bannya kempis. Rodanya sesekali “menggesek” dengan bunyi pelan.

Di kepalaku, daftar kemungkinan berputar: tambal ban dekat pasar, tambal ban di ujung perempatan, bengkel sepeda di gang sebelah.

Di depan sekolah—sekolah yang biasa kutuju setiap hari—aku melihat sosok yang sudah akrab di mataku, meski tidak pernah benar-benar kukenal.

Seorang bapak separuh baya duduk di bangku kecil dekat pagar sekolah. Tubuhnya sedikit membungkuk, tangannya bertumpu di lutut. Ia seperti orang yang sedang menunggu sesuatu, atau mungkin tidak menunggu apa-apa, hanya duduk karena itulah yang bisa dilakukan.

Setiap pagi aku melihatnya. Kadang ia berdiri sebentar, kadang duduk kembali. Kadang menatap jalan, kadang menunduk. Aku tidak tahu namanya. Aku juga tidak tahu ia bekerja di sekolah itu atau sekadar singgah.

Namun ada satu hal yang selalu sama: setiap kali aku lewat, aku menyapanya—sekadar karena merasa canggung kalau melewati orang yang selalu ada di tempat yang sama tanpa pernah mengucapkan apa pun.

Biasanya sapaan itu hanya berakhir dengan anggukan kecil. Kadang senyum tipis yang cepat hilang.

Pagi ini, karena jalan sepi dan aku sedang menuntun sepeda seperti orang kehabisan rencana, sapaan itu terasa lebih perlu.

“Pak…” panggilku, mendekat sedikit agar suaraku tidak tertelan angin.

Bapak itu mengangkat kepala. Alisnya berkerut, seolah ia memastikan suaraku bukan suara orang lain. Ia lalu berdiri pelan dan melangkah menghampiriku. Tangannya terangkat, bukan untuk melambaikan, melainkan seperti refleks orang yang hendak menolong.

Ia menatap ban belakang sepedaku—dan sebelum aku sempat menjelaskan, ia berkata dengan suara berat, singkat, tetapi tepat sasaran.

“Bannya bocor, ya. Sini, Bapak antar ke tambal ban.”

Aku terdiam sepersekian detik. Bukan karena tidak mengerti, tetapi karena terkejut: ini pertama kalinya aku mendengar kalimat panjang keluar dari mulutnya.

Selama ini, ia seperti seseorang yang menyimpan kata-kata rapat-rapat, hanya mengeluarkan “ya” seperlunya. Dan anehnya, kalimat pertama yang ia berikan padaku adalah kalimat yang sejak tadi kucari: sebuah solusi.

“Boleh, Pak?” tanyaku, masih agak ragu.

“Boleh,” jawabnya. “Kamu sendirian, kan? Jalan sepi begini… ya sekalian.”

Ia mengambil bagian depan sepeda, sementara aku memegang bagian belakang. Langkah kami pelan, seolah menyesuaikan ritme roda yang kempis.

Kami berjalan menyusuri jalan kampung yang lengang. Tidak ada suara motor, hanya sesekali suara ayam atau pintu rumah yang dibuka.

Aku baru menyadari: menuntun sepeda sendirian itu terasa lama. Namun menuntun sepeda bersama orang lain, bahkan orang yang baru benar-benar bicara hari ini, membuat jarak terasa pendek.

Bapak itu mulai bercerita—awalnya tentang hal yang ringan.

“Kalau hari sekolah, kamu lewat jam segini juga?”

Aku mengangguk. “Iya, Pak. Cuma biasanya aku ngebut. Takut telat.”

Bapak tertawa kecil. Bukan tawa keras, lebih seperti hembusan napas yang berubah bentuk.

“Dulu anak saya juga begitu. Kalau sudah terlambat, semua orang di jalan disalahkan.”

Aku menoleh. “Anaknya sekolah di situ juga, Pak?”

“Dulu,” katanya. “Sekarang sudah kerja. Di luar kota.”

Kalimat itu berhenti di sana, tetapi ada nada yang terselip—nada yang membuatku paham: “di luar kota” bukan sekadar lokasi, melainkan jarak yang panjang, jarak yang membuat rumah terasa sepi.

Kami berjalan lagi beberapa menit. Aku menunggu apakah ia akan melanjutkan. Dan ia melanjutkan, tetapi tidak langsung ke arah yang berat. Ia memilih jalan berkelok, seperti orang yang hati-hati menyentuh topik yang sensitif.

“Bapak ini sebenarnya bukan orang sekolah,” katanya. “Bapak cuma sering duduk di situ. Tempatnya enak. Ada angin. Kalau pagi ramai, ada yang lewat-lewat, jadi rasanya hidup.”

Aku mengangguk, meski kalimat itu membuat sesuatu di dadaku seperti tersentuh pelan.

“Aku kira Bapak satpam,” kataku jujur.

“Satpam sekolahnya beda orang,” ia tersenyum. “Bapak dulu tukang bengkel. Pernah juga bantu tambal ban. Cuma sekarang sudah tidak kerja tetap.”

Kami melewati tikungan kecil. Dari sana terlihat deretan rumah lebih rapat. Aku mulai yakin tambal ban yang dimaksud pasti di area ini. Namun, jarak terus memanjang. Lima menit berlalu, sepuluh menit berlalu. Aku hampir bertanya, tambal ban-nya masih jauh, Pak? tetapi sungkan.

Bapak itu seperti membaca pikiranku.

“Agak jauh,” katanya. “Tapi yang itu biasanya bagus. Kalau buka.”

Kata “kalau” menampar kecemasanku yang tadi sempat reda. Dan benar saja.

Ketika kami tiba di lokasi yang ia maksud, bengkel tambal ban itu tertutup rapat. Pagar besi digembok. Di depan pintu ada kertas kecil yang ditempel seadanya. Aku tidak sempat membaca jelas, tetapi aku bisa menebak isinya: libur.

Aku menahan napas. Rasa kecewa muncul, tetapi aku berusaha tidak menunjukkannya. Bapak itu berdiri di sampingku, menatap pagar tertutup itu sebentar—wajahnya tenang, seolah ia sudah memperkirakan.

“Ya,” katanya pelan, “libur.”

Aku menunduk. “Gimana ya, Pak…”

Bapak itu mengangkat tangan seperti memberi tanda agar aku diam dulu. “Kamu tunggu sini sebentar.”

Ia berjalan ke samping bengkel, menuju area belakang yang tampaknya masih satu kompleks. Aku mengira ia hendak pulang, atau mencari orang lain.

Namun beberapa menit kemudian ia muncul membawa seember air, sepotong karet, lem, amplas kecil, dan beberapa alat sederhana yang entah dari mana ia dapatkan.

Aku terpana. “Pak… itu…”

Bapak itu tidak menjawab panjang. Ia langsung berjongkok di dekat sepeda, melepas roda belakang dengan cekatan. Tangannya bergerak seperti tangan yang sudah menyimpan ingatan kerja bertahun-tahun.

Ia membongkar ban, menemukan titik bocor, merendam ban dalam ember untuk melihat gelembung kecil yang muncul di permukaan air.

“Ini,” katanya sambil menunjuk. “Lubangnya kecil, tapi cukup bikin kamu dorong sepeda jauh-jauh.”

Aku ikut jongkok, memperhatikan. Ia mengamplas area bocor, mengoleskan lem, menunggu beberapa saat, lalu menempelkan tambalan karet. Semua dilakukan pelan, teliti, seperti ritual kecil yang tak boleh terburu-buru.

Sambil bekerja, ia bicara lagi—kali ini lebih pelan, lebih personal.

“Bapak itu… kalau pagi, biasanya ya duduk saja. Anak sudah pergi, di rumah cuma Bapak sama istri. Istri…,” ia berhenti sebentar, menelan kata-kata, “istri sering sakit. Jadi Bapak kalau pagi keluar sebentar. Biar kepala tidak penuh.”

Aku menatapnya. Ingin bertanya lebih jauh, tetapi takut pertanyaanku malah menambah beban. Aku memilih mendengarkan.

“Kalau kamu lewat, kamu selalu sapa,” lanjutnya. “Bapak tidak biasa ngobrol sama orang. Tapi entah kenapa… kalau kamu sapa, rasanya seperti… ya, ada orang yang melihat Bapak.”

Kalimat itu membuatku kaku. Aku mendadak merasa kecil.

Selama ini, sapaan itu bagiku hanya formalitas: sebuah “selamat pagi” yang kulontarkan sambil setengah berlari. Aku tidak pernah mengira sapaan itu bisa berarti “pengakuan” bagi orang lain. Aku tidak pernah mengira bahwa orang dewasa pun bisa merasa tidak terlihat.

Bapak itu menyelesaikan pekerjaannya. Ia memasang kembali ban, memompa dengan pompa tangan yang juga entah dari mana ia ambil, lalu mengetes roda dengan memutarnya pelan.

“Sudah,” katanya.

Aku berdiri, memegang sepeda, dan mengayuh sedikit untuk memastikan. Ban terasa normal. Bahkan lebih keras dari yang terakhir kuingat.

Aku menelan ludah. “Pak… biayanya berapa?”

Bapak itu mengibaskan tangan, seolah menepis sesuatu yang mengganggu. “Tidak perlu.”

Aku spontan merogoh saku, mencari uang yang ada. Tidak banyak, tetapi setidaknya cukup untuk membayar tambal ban. Aku menyodorkannya.

Bapak itu menolak dengan halus, tangannya mendorong tanganku turun. “Tidak usah.”

Aku bingung. Wajahku mungkin jelas menunjukkan kebingungan itu.

Bapak itu tersenyum—bukan senyum tipis seperti biasanya, tetapi senyum yang lebih utuh.

“Ya tidak apa,” katanya. “Terima kasih saja sudah menyapa Bapak tiap pagi. Dan… mau jadi teman ngobrol Bapak hari ini.”

Aku terdiam.

Tiba-tiba, semua potongan kejadian pagi itu tersusun rapi: jalan sepi, sepeda bocor, tambal ban tutup, ember air, alat tambal, dan kalimat yang baru saja ia ucapkan. Seolah Tuhan menyelipkan sebuah pelajaran dalam kejadian yang tampaknya remeh.

Aku merasakan tenggorokanku mengencang. Aku ingin mengatakan sesuatu yang tepat, tetapi kalimat-kalimat di kepalaku terasa terlalu kecil. Akhirnya aku hanya mampu berkata pelan, “Makasih banyak, Pak. Serius.”

Bapak itu mengangguk, lalu duduk kembali di bangku kecil dekat bengkel, seolah pekerjaan pagi itu bukan hal besar. Seolah ia hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan manusia kepada manusia lain.

Aku menuntun sepeda beberapa langkah, lalu berhenti dan menoleh. “Pak, namanya siapa?”

Ia tertawa kecil lagi. “Pak Damar.”

“Pak Damar…” aku mengulang, memastikan nama itu menempel di kepalaku. “Besok-besok kalau lewat, aku sapa lagi ya, Pak.”

“Iya,” jawabnya. “Bapak di situ saja.”

Aku berjalan pulang dengan sepeda yang kini bisa dikayuh. Tetapi langkahku justru lebih pelan dari biasanya.

Kepalaku penuh, bukan oleh rencana yang kacau, melainkan oleh kesadaran yang sederhana: kebaikan tidak selalu berupa hal besar.

Kadang kebaikan adalah sebuah sapaan yang konsisten, sebuah perhatian kecil yang tidak kita hitung karena kita mengira itu tidak bernilai.

Pagi itu aku belajar sesuatu yang membuatku malu sekaligus bersyukur.

Aku datang dengan kebutuhan—sepeda yang bocor. Aku pulang dengan hadiah yang lebih dalam: pengertian bahwa orang lain punya luka yang tidak kelihatan. Kesepian yang tidak diumumkan. Harapan yang tidak pernah diucapkan.

Dan ternyata, “menabung kebaikan” tidak selalu berarti menyimpan uang atau melakukan aksi besar yang bisa dipamerkan. Menabung kebaikan bisa sesederhana: menyapa, memandang, mengakui bahwa di depan kita ada manusia yang ingin dihargai.

Sapaan kecil setiap hari mungkin terdengar murah, tetapi bagi seseorang, itu bisa mahal artinya. Senyum sederhana bisa jadi penguat langkah bagi orang yang hampir menyerah pada sepi.

Kita tidak perlu menunggu momen besar untuk berbuat baik. Kebaikan justru sering bekerja diam-diam—seperti tambalan kecil pada ban yang bocor: tidak kelihatan dari luar, tetapi membuat perjalanan bisa dilanjutkan.

Aku mengayuh sepeda pelan, membiarkan angin pagi menyapu wajahku.

Dalam hati aku berkata, semoga aku tidak lupa. Karena kebaikan yang ditabung terus-menerus, pada waktunya, akan kembali sebagai imbalan yang tidak kita sangka—tidak perlu ditagih, tidak perlu dihitung, sebab ganjarannya sering datang lewat cara yang tak terduga. (*)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

CerpenKebaikan
Comments (0)
Add Comment