Pier Giorgio Frassati: Verso l’Alto, Mendaki Puncak Kekudusan

Ada anak muda yang menemukan jalan kekudusan lewat layar dan kabel internet. Ada pula yang menemukannya lewat sepatu gunung, napas yang memburu, dan rute menanjak.

Katolikana.com—Jika Carlo Acutis dikenang sebagai cyber apostle yang merintis jalan tol menuju surga melalui dunia digital, maka Pier Giorgio Frassati (1901–1925) adalah sosok pendaki tangguh yang membuktikan bahwa kekudusan bisa dicapai melalui petualangan, persahabatan, dan aksi sosial yang berani.

Gereja meneguhkan kesaksian itu ketika Pier Giorgio dikanonisasi bersama Carlo Acutis di Roma, Minggu (7/9/2025). Dua generasi, dua bahasa zaman, satu arah yang sama: menuju kekudusan yang konkret, bukan yang teoritis.

Anak Elit yang “Asing” di Rumahnya Sendiri

Lahir di Turin pada Sabtu Suci, 6 April 1901, Pier Giorgio tumbuh di keluarga terpandang. Ayahnya, Alfredo Frassati, berkecimpung dalam politik dan dunia pers—pendiri surat kabar La Stampa—serta pernah dipercaya menjadi duta besar Italia untuk Jerman.

Ibunya, Adelaide Ametis, seorang seniman. Secara sosial, keluarganya berada di lingkar elite. Secara rohani, rumahnya tidak selalu menjadi tempat yang menghangatkan iman.

Sama seperti Carlo, ia menjadi sebuah “kejutan” di keluarganya: seorang pemuda yang memiliki iman menyala-nyala di tengah lingkungan yang cenderung agnostik dan sekuler.

Ekaristi Menjadi Bahan Bakar

Bagi Pier Giorgio, bahan bakar utama hidupnya adalah Ekaristi. Ia adalah seorang pendoa yang tekun, sering menghabiskan waktu malam dalam adorasi yang mendalam.

Baginya, Kristus yang ia jumpai di dalam Sakramen Mahakudus adalah Kristus yang sama yang ia layani di lorong-lorong kumuh kota Turin. Sejak usia remaja, ia bergabung dengan Serikat Vinsensius de Paul, menggunakan seluruh uang sakunya untuk membantu mereka yang menderita.

Ia mengunjungi orang miskin, orang sakit, yang tersisih—bukan sebagai aktivitas “amal”, melainkan sebagai cara hidup. Tradisi devosi tentang dirinya bahkan mencatat keyakinan kuat bahwa ia tertular polio dari orang-orang miskin dan sakit yang ia layani di kawasan kumuh Turin.

Ia seringkali memberikan tiket busnya kepada orang miskin sehingga ia harus berlari pulang demi mengejar jam makan malam keluarga. Ia tidak hanya memberi bantuan finansial, tetapi memberikan dirinya seutuhnya; mengunjungi orang sakit yang menderita penyakit menular tanpa rasa takut, karena ia melihat wajah Yesus secara nyata di sana.

Meskipun memiliki kedalaman spiritual yang mistik, Pier Giorgio adalah seorang atlet sejati yang penuh gairah. Ia mencintai pegunungan, ski, dan panjat tebing. Namun, baginya, mendaki gunung bukan sekadar hobi fisik, melainkan metafora kehidupan rohani yang dinamis.

Ada kisah-kisah kecil yang membuat spiritualitasnya terasa membumi: uang sakunya habis untuk bantuan; sesuatu yang ia rencanakan untuk diri sendiri tiba-tiba berubah menjadi obat, makanan, atau ongkos bagi orang lain. Ia tidak hanya memberi “sesuatu”, ia memberi dirinya—waktu, tenaga, perhatian, juga keberanian untuk hadir di tempat-tempat yang orang lain hindari.

Verso l’Alto: Mendaki yang Lebih Tinggi dari Puncak

Pier Giorgio mencintai pegunungan. Ia mendaki, bermain ski, berjalan jauh bersama teman-temannya. Namun gunung baginya tidak berhenti sebagai hobi: gunung adalah sekolah karakter, sekaligus metafora rohani.

Pada sebuah foto pendakian yang diambil oleh sesama pendaki, ia menulis “Verso l’alto”—“menuju ke tempat yang tinggi”—di bagian belakang foto itu. Foto tersebut bertanggal Sabtu (7/6/1925), dan ternyata menjadi pendakian terakhirnya sebelum wafat sebulan kemudian.

Verso l’Alto bukanlah sekadar ajakan untuk mencapai puncak geografis, melainkan sebuah seruan untuk terus mendaki menuju puncak kebajikan.

Ia tidak sibuk membangun citra rohani. Tetapi justru karena hidupnya konsisten, frasa itu kemudian menjadi ringkasan yang tepat: hidup rohani adalah pendakian—berat, menuntut, kadang membuat lutut bergetar—namun selalu mengarah ke atas.

Ia menunjukkan bahwa seorang pengikut Kristus bisa menjadi orang yang paling ceria, suka bercanda, dan penuh energi di tengah pergaulan sosial, tanpa sedikit pun kehilangan integritas imannya.

Pier Giorgio Frassati di puncak gunung. Foto: slmedia.org

Memilih Teknik Pertambangan

Sebagai mahasiswa teknik pertambangan, Pier Giorgio memilih jalan studinya dengan niat yang sangat spesifik: “untuk melayani Kristus di antara para penambang.”

Iman, bagi Pier Giorgio, bukan tempat bersembunyi dari dunia, melainkan alasan untuk masuk ke dalamnya dengan kompas moral yang jelas. Ia hidup pada masa Italia yang bergejolak—ketika fasisme bertumbuh dan kekerasan politik menjadi bagian dari udara zaman.

Kesaksiannya kerap dibaca sebagai teladan bahwa orang muda Katolik tidak dipanggil menjadi penonton sejarah. Ia dipanggil hadir—dengan keberanian, kewarasan, dan daya tahan batin.

Ia juga sangat aktif secara politik, secara terbuka menentang bangkitnya fasisme di Italia dengan keberanian yang luar biasa. Ia adalah sosok yang menolak memisahkan doa dari tanggung jawab publik.

Pier Giorgio membuktikan bahwa kekudusan tidak berarti menarik diri dari dunia, melainkan terjun ke dalam hiruk-pikuk persoalan sosial dengan kompas moral yang teguh. Ia adalah antitesis dari sikap apatis, menunjukkan bahwa iman harus mewujud dalam tindakan nyata yang transformatif.

Pier Giorgio, rasul orang muda.

Wafat di Usia 24, tetapi Tidak Pernah “Selesai”

Perjalanan hidup Pier Giorgio berakhir secara mendadak pada usia 24 tahun pada Sabtu (4/7/1925) akibat polio, yang diyakini ia kontrak dari orang miskin yang ia layani di pemukiman kumuh.

Bahkan di hari-hari terakhirnya saat ia sedang sekarat, ia masih sempat menulis catatan kecil dengan tangan yang gemetar untuk memastikan obat-obatan terkirim kepada seorang fakir miskin.

Kematiannya membawa kejutan besar bagi keluarganya yang selama ini meremehkan spiritualitasnya. Di hari pemakaman, ribuan orang memenuhi jalanan Turin.

Ayahnya tertegun melihat bahwa massa yang datang bukanlah para pejabat atau kaum elit, melainkan ribuan gelandangan dan buruh yang telah dibantu Pier Giorgio secara diam-diam selama bertahun-tahun.

Proses Beatifikasi

Mukjizat yang mengukuhkan beatifikasi Pier Giorgio adalah penyembuhan Domenico Sellan pada 1933. Sellan lumpuh dan hampir meninggal karena penyakit tuberkulosis pada tulang belakang ketika seorang pastor membawakan kartu doa Pier Giorgio kepadanya. Sellan sembuh secara ajaib, dan hidup hingga usia 75 tahun.

Mukjizat kedua terjadi pada 2017 setelah Juan Miguel Gutierrez, yang saat itu masih seminaris, mengalami cedera tendon Achilles saat bermain basket. Ia memulai novena kepada Beato Pier Giorgio.

Saat ia berdoa di kapel, ia merasakan kehangatan di sekitar pergelangan kakinya tepat sebelum rasa sakitnya hilang. Ketika ia kembali ke dokter, tidak ada robekan.

Saat membeatifikasikannya pada 20 Mei 1990, Paus Yohanes Paulus II menjuluki Pier Giorgio sebagai “Manusia Delapan Sabda Bahagia” (The Man of the Eight Beatitudes)—sebuah cara untuk mengatakan bahwa Injil tidak berhenti sebagai teks, melainkan menjadi watak, gaya hidup, dan keberanian.

Beliau melihat dalam diri Pier Giorgio seorang anak muda yang mampu menyatukan kegembiraan hidup dengan pengorbanan diri yang radikal. Pier Giorgio Frassati meninggalkan warisan berharga bahwa menjadi suci tidak berarti menjadi kaku atau membosankan.

Ia adalah bukti bahwa seorang pemuda yang merokok pipa, mencintai seni, mendaki gunung, dan vokal dalam politik, bisa tetap menjadi seorang saksi Kristus yang tak tergoyahkan.

Ia menantang generasi muda saat ini untuk tidak sekadar “menjalani hidup,” tetapi memiliki hidup yang berkelimpahan dengan terus melangkah menuju puncak kasih yang tertinggi.

Puncak yang Ditawarkan Pier Giorgio kepada Kita

Pier Giorgio Frassati meninggalkan warisan yang sederhana tetapi menuntut: kekudusan tidak mematikan kemanusiaan. Ia tidak mengubah orang muda menjadi sosok asing yang anti-suka cita.

Ia justru menata ulang definisi “hidup penuh”: bersahabat tanpa kehilangan prinsip; aktif tanpa kehilangan doa; berani tanpa kehilangan kelembutan; mencintai ciptaan tanpa mengabaikan penderitaan manusia.

Verso l’alto, pada akhirnya, bukan ajakan untuk menjadi “hebat” di mata orang, melainkan ajakan untuk setia mendaki: sedikit demi sedikit, hari demi hari, menuju puncak kasih yang lebih tinggi daripada semua puncak yang pernah kita impikan.

Penulis: Kristian, Mahasiswa Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Beato Carlo AcutisPier Giorgio Frassatirasul orang muda
Comments (0)
Add Comment