Raker I Pemuda Katolik Papua Tengah: Nyalakan Lilin Kemanusiaan dan Minta Gibran Tarik Militer dari Papua

Nabire, Katolikana.com–Rapat Kerja Perdana Pemuda Katolik Komisariat Daerah (PK-KOMDA) Papua Tengah, dibuka dengan misa syukur dan menyalakan seribu lilin kemanusiaan untuk Tanah Papua dan dunia yang sedang mengalami konflik dan perang.

Perayaan pembukaan Raker Perdana Pemuda Katolik Papua Tengah dilangsungkan di Kapela SMA Adhi Luhur Nabire pada Kamis 23 April 2025, yamg dihadiri berbagai perwakilan dari pengurus pusat sampai dengan pengurus daerah Pemuda Katolik.

Sesudah misa syukur Raker dilanjutkan penyalaan 1000 lilin disertai dengan doa-doa arwah kepada mereka yang korban akibat perang serta doa perdamaian di tanah Papua dan dunia. Peserta menghening sejenak dengan membacakaan puisi sebagai bentuk refleksi atas kekerasan dan represi keamanan terhadap orang asli Papua yang belum berakhir.  

Yohanes Adriyanto, SJ yang mendampingi  perayaan pembukaan Raker dan penyalaan 1000 lilin untuk kemanusiaan berpesan bahwa Rapat Kerja Pemuda Katolik menemukan program yang relevan dengan kehidupan sosial dan gereja untuk kontribusi dalam mewujudkan perdamaian, kemandirian, kesetaraan dan perlindungan umatnya.

Romo Yohanes mengungkapkan bahwa pada kenyataannya gereja membutuhkan Pemuda Katolik supaya kehadiran gereja itu semakin bisa dirasakan. 

“Kami berharap bahwa melalui kegiatan rapat kerja ini, bisa menyusun dan membuat program-program yang semakin bisa menyapa masyarakat pada umumnya semakin bisa dirasakan dampaknya,” kata Romo Yohanes.

Dalam konferensi pers Ketua Panitia Rapat Kerja Perdana Pemuda Katolik, Komisariat Daerah (PK-KOMDA) Papua Tengah, Hendrikus Yeimo, mengatakan bahwa tema besar yang diangkat yaitu “Sinergi Dengan Pemerintah Daerah.”

“Oleh sebab itu rangkaian kegiatan yang telah kami lakukan adalah pertama melakukan audiensi bersama pemerintah guna membangun mitra kerja karena kami melihat bahwa selama ini program-program yang ada di lapangan itu membutuhkan orang (tenaga kerja),” kata Hendrikus Yeimo. 

Hendrikus Yeimo sebagai Ketua Panitia memaparkan program pemerintah yang berjalan stagnan seperti program pertanian dan perkebunan,  sosialisasi peraturan daerah (PERDA) yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah. Pemuda Katolik juga  menyuarakan isu social  serta  hak asasi manusia.

Romo Yohanes Adriyanto, SJ memimpin misa syukur RAKER Perdana Pemuda Katolik Komisariat Daerah (PK-KOMDA) Papua Tengah/ 23 April 2026. Foto: Marinus Gobai/Katolikana.com

1000 Lilin Kemanusiaan

Dalam wawancara dengan kontributor Katolikana.com, Romo Yohanes Adriyanto SJ  mengungkapkan pentingnya solidaritas dan belanrasa terhadap situasi kemanusiaan di Papua.

“Penyalahan lilin itu sangat baik. Sebuah proses penyadaran bagi kita semua. Penyadaran dari apa yang namanya kondisi saat ini. Perlu ada  berbelarasa dengan mereka, kita mendoakan mereka dan kita juga punya komitmen untuk memperjuangkan juga dengan cara kita,” kata Romo Yohanes.

Menurutnya, penyalaan lilin itu merupakan bagian proses penyadaran yang baik untuk mengobarkan semangat Pemuda Katolik  untuk berani memperjuangkan martabat manusia, teristimewa para korban konflik di tanah Papua.

Hendrikus Yeimo mengatakan bahwa pimpinan Gereja Katolik, mulai dari Paus Leo XIV sampai Uskup Keuskupan Timika memperjuangkan perdamaian dunia.

“Pimpinan kami bicara damai maka kami Pemuda Katolik juga ambil bagian memperjuangkan perdamaian itu terwujud di bumi maka kita bersuara menolak penindasan dan pembunuhan manusia,” kata Hendrikus.

“Pemasangan lilin merupakan satu bentuk simbol kami merenungkan konflik yang berkepanjangan dari sejak tahun 1961 sampai 2026, di mana orang Papua mengalami penindasan, trauma, dan tinggal di pengungsian,” katanya.

Ia juga menyoroti adanya praktik kekerasan dan pembunuhan pada masyarakat sipil Papua yang terjadi sampai  saat ini.

“Data yang kami himpun dalam Keuskupan Timika di Dekenat KAMAPI, Dekenat Moni-Puncak tepatnya di Kab.Dogiyai, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Puncak, dalam tenggang waktu satu bulan terakhir antara bulan Maret – April 2026 sebanyak 28 orang ditembak mati oleh aparat Indonesia. Umur korban pembunuhan   anak-anak  sekitar 3-9 tahun, remaja dan orang dewasa,” kata Hendrikus.

Pemuda Katolik (PK) Papua Tengah bersama Wakil Presiden RI ke-9, Gibran Rakabumi Raka di Bandara Douw Atarure Nabire pada Selasa (21/4/2026). Foto: Dok Hendrikus Yeimo/Katolikana.com

Pemuda Katolik Papua Tengah Bertemu Wakil Presiden

Dalam mendorong upaya-upaya untuk perdamaian Papua, Pemuda Katolik Papua Tengah  menyampaikan dan menyerahkan aspirasi kepada Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabumi Raka saat bertemu di Bandara Douw-Atarure, Nabire Papua Tengah pada 21 April 2026. 

Menurut Hendrikus Yeimo, Wapres Gibran mendengarkan langsung aspirasi terkait penyelesaian konflik Papua. “Aspirasi yang kami bawa adalah tarik militer non organik dari tanah Papua, karena keberadaan mereka justru membuat konflik dan masyarakat biasa yang tidak tahu persoalan banyak yang mengalami korban,” kata Hendrikus.

Lanjut Hendrikus, “Anak-anak yang terdampak konflik mereka tidak bersekolah, mereka tidak mendapatkan hak mereka untuk makan dan minum sebagai warga pengungsi yang dijamin oleh PBB. Begitu pula perempuan tidak mendapatkan perlindungan secara khusus yang sedang alami kepada masyarakat Papua di Puncak dan  Intan Jaya.”

“Sebagai umat yang korban tiap waktu, kami sampaikan soal kemanusian kepada Wakil Presiden dimana keamanan yang berlebihan membuat manusia tak berdosa jatuh di ujung peluruh,” ungkapnya.

Raker Perdana ini akan dihadiri perwakilan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) yaitu Departemen  Gugus Tugas Papua, dan Wakil Bidang Ekonomi, yang membuka acara Raker  Perdana Pemuda Katolik Papua Tengah.  

Peserta lain dari delapan pimpinan Pemuda Katolik Komisariat Cabang, yaitu Kabupaten Nabire sebagai tuan rumah, Paniai sebanyak 5 orang, Intan Jaya sebanyak 5 orang,  Deiyai sebanyak 5 orang, Dogiyai sebanyak 5 orang, Mimika  sebanyak 1 orang, Kabupaten Puncak 1 orang, dan Kabupaten Puncak  Jaya.

Editor: Basilius Triharyanto

Kontributor Katolikana.com di Paniai, Papua. Lahir di Ibumaida, Paniai, tahun 1989. Penulis bekerja di Komisi Keadilan dan Perdamaian Keutuhan Ciptaan Paroki Kristus Sang Gembala (KSG) Wedaumamo, Keuskupan Timika. Ia juga aktif di organisasi Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Kabupaten Paniai.

Konflik PapuaPapua TengahPemuda Katolik
Comments (0)
Add Comment