Obrolan Sahabat, Menulis, dan Tentang Makna

Katolikana.com – Suasana  pagi itu terasa berbeda saat sahabat muda, Fr. Tanny SJ, mahasiswa STF Driyarkara asal Thailand, duduk bersama untuk mendiskusikan satu hal yang sering kali dianggap sebagai “beban” namun sebenarnya adalah jalan menuju keabadian: menulis. Percakapan kami mengalir, menyentuh relung terdalam dari proses kreatif yang melampaui sekadar menyusun kata di atas kertas.

Menulis: Jembatan Antara Hati dan Logika

Bagi banyak orang, berbicara adalah aktivitas spontan yang ringan, namun menulis sering kali dirasakan sebagai pekerjaan yang jauh lebih berat. Mengapa demikian? Karena menulis menuntut kesunyian, disiplin, dan pengasahan nurani.

Jika berbicara adalah angin yang lewat, maka menulis adalah memahat batu. Ia membutuhkan latihan konsisten, gairah (passion) membara, dan yang terpenting: kepekaan. Kepekaan ini tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari kebiasaan yang terus dirawat. Menulis merupakan cara kita berbicara pada dunia dengan cara lebih terukur dan mendalam.

Mencari Peneguhan dalam Keraguan

​Dalam proses kreatif, keraguan adalah hal yang manusiawi. Muncul pertanyaan dalam benak: “Apakah tulisan ini layak dikonsumsi publik?” Di sinilah pentingnya kerendahan hati untuk mencari peneguhan.

Kita membutuhkan sosok otoritas atau sahabat diskusi yang lebih mumpuni untuk memberikan masukan. Berdiskusi mengenai kualitas tulisan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah bijak untuk memastikan pesan yang kita sampaikan memiliki bobot yang tepat.

Medan Publikasi: Internal dan Eksternal

​Pilihan media menjadi faktor penting dalam perjalanan seorang penulis. Ada dua ranah yang memiliki dinamika berbeda, baik media internal atau pun eksternal.

​Media internal, di sini, risiko dampak biasanya lebih terkendali. Editor umumnya sudah mengenal gaya dan karakter penulisnya, sehingga proses kurasi berfungsi sebagai ruang belajar yang lebih “hangat” dan aman.

​Media eksternal (nasional/publik), masuk ke ranah ini berarti siap untuk menghadapi “hutan belantara” pendapat publik. Jika sebuah tulisan mengandung kekeliruan atau kontroversi, komentar netizen akan melimpah ruah. Di sinilah tanggung jawab intelektual seorang penulis benar-benar diuji.

Menjaga Ketajaman dalam Keanggunan

​Menulis yang berkualitas membutuhkan sensitivitas pas. Ibarat pisau bedah, tulisan terlihat tajam dan kritis untuk membedah realitas, namun tetap elegan dalam penyampaian. Kritik yang kasar hanya akan memancing amarah, namun kritik yang anggun akan memantik kesadaran.

​Akhirnya, menulis adalah tentang pertanggungjawaban. Setiap kata yang kita lepas ke ruang publik adalah cerminan dari kedalaman berpikir dan kejernihan hati kita. Melalui diskusi dengan Fr. Tanny SJ, kita kembali diingatkan bahwa menulis bukan sekadar soal merangkai kalimat, melainkan tentang bagaimana merawat kemanusiaan melalui literasi yang bermartabat.

Imam Jesuit, Direktur Perkumpulan Strada, dan Pemerhati Pendidikan

MenulisProses Kreatif
Comments (0)
Add Comment