Gereja inklusif adalah komunitas iman yang terbuka, merangkul, dan menegaskan partisipasi penuh setiap individu tanpa diskriminasi, terlepas dari perbedaan disabilitas, latar belakang, jenis kelamin, ekonomi dan sosial.
Surakarta, Katolikana.com – Komisi Keluarga Kevikepan Surakarta menyelenggarakan Misa Paskah Umat Berkebutuhan Khusus (UBK) pada Minggu (26/4/2026), pukul 10.WIB di Gereja Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta. Misa dipimpin Vikep Kevikepan Surakarta Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr didampingi Pendamping Komisi Keluarga Kevikepan Surakarta Romo Hibertus Hartono, MSF.
Peserta Umat Berkebutuhan Khusus 60 orang, didukung orang tua, Tim Komisi Keluarga Kevikepan Surakarta, murid SMA Ursulin Surakarta sebanyak 100 orang murid yang berasal dari 5 kelas yang mendukung Misa UBK. Perkiraan jumlah yang hadir mengikuti Misa sekitar 200 orang.
Misa merayakan Paskah Umat Berkebutuhan Khusus (UBK) sebagai wujud kasih, kepedulian, dan kebersamaan umat sebagai satu keluarga Allah.
Wajah Gereja yang inklusif
Misa ini menjadi kesempatan istimewa bagi umat untuk merayakan kebangkitan Tuhan bersama saudara-saudari yang berkebutuhan khusus, sekaligus menghadirkan wajah Gereja yang inklusif, penuh cinta, dan merangkul semua, dalam dukungan doa, sehingga sukacita Paskah semakin nyata dirasakan oleh semua umat.
Dalam Misa ini Komisi Keluarga Kevikepan juga mendukung perayaan dengan menyediakan Juru Bahasa Isyarat (JBI).
Petugas liturgi dalam Misa diantaranya lektor dan lektris, pemazmur, pembaca doa umat, pembawa persembahan melibatkan anak dan remaja UBK.
Harapan diselenggarakan Misa
Misa Paskah UBK bertujuan menyediakan aksesibilitas, dan menghilangkan stigma marginalisasi.
Harapan diselenggarakan untuk menghargai semua orang sebagai citra Allah, ramah bagi UBK dan secara aktif merangkul penyandang disabilitas.
Disisi lain Misa ini menunjukkan hakekat Gereja yang terbuka adanya dialog dengan UBK, orang tua, pendamping, dan komisi keluarga yang memberikan perhatian inklusi bagi penyandang disabilitas.
Homili dengan dialog
Pada saat homili Vikep Kevikepan Surakarta menyampaikan homili dengan sejenak berdialog menghampiri anak dan remaja yang mengikuti Misa.
Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro menanyakan apakah anak-anak ada yang memiliki hewan piaraan di rumah. Apakah anak-anak mencintai hewan piaraan, memberi perhatian dan memberikan makan pada hewan piaraan?
Hal ini mendapatkan jawaban dari anak dan remaja yang memiliki hewan piaraan anjing, hamster, ikan nila, ayam. Mereka menjawab menyayangi hewan piaraan dan memberikan makan pada hewan piaraan.
Peneguhan untuk menjadi domba yang baik
Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr dalam homili meneguhkan, berdasarkan inspirasi bacaan Injil, Yesus menyatakan diri sebagai Gembala yang baik bagi domba-dombanya.
“Sama seperti kita sayang hewan piaraan, Yesus mencintai kita, menjaga domba-dombanya. Yesus mengenal satu persatu, dan memanggil untuk dekat dengan-Nya, untuk mendapatkan berkatnya, dikasihi, disayangi, dijaga dan dilindungi. Sekarang tinggal kita, mau tidak menjadi domba-domba yang baik yang berjalan mengikuti Yesus.
Mengenal suara-Nya dan siap menerima perintah Gembala untuk mengikuti-Nya. Jika mengikuti Dia akan menerima berkat, dibawa ke rumput yang hijau, diberi air, dan perlindungan serta berkat yang cukup: terpenuhi kebutuhan dan tercapai cita-cita”, ungkap Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr.
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta