Eyang, Ini Cara Kami Belajar Patuhi Perintah Allah: Hormatilah Orang Tuamu

Hormat kepada orang tua perlu dilatih dan dibiasakan. Dengan dialami, bukan hanya diajarkan. PIA-PIR-OMK Lingkungan Santo Gregorius Agung, Gereja Keluarga Kudus Paroki Banteng, menempuhnya dalam “Safari Paskah”. Ini ceritanya.

Katolikana.com—Hujan turun deras sekali sejak siang. Padahal, sore hingga malam itu ada agenda Safari Paskah. Mengunjungi lansia, mengunjungi eyang-eyang. Membawa pula buah tangan.

Ditemani pendamping PIA-PIR-OMK, belasan anak itu tak gentar menembus hujan. Mereka membelah dalam beberapa kelompok. Bahkan, karena banyaknya eyang yang mesti disambangi, mereka menggelarnya dalam dua gelombang di hari lain. Selain demi menghemat waktu, pembagian kelompok juga memungkinkan mereka bisa lebih dekat dan akrab dengan eyang-eyang yang dikunjunginya.

Sekaligus beroleh ilmu humaniora dari begawan antropologi Prof. P.M. Laksono

Gregorius Agung, Lingkungan Berlimpah Lansia

Sebagai gambaran, Lingkungan Santo Gregorius Agung terhimpun dari hampir 300 umat yang tinggal di dalam 80 kepala keluarga. Rentang domisilinya radius 4 kilometer dari ujung ke ujung. Kawasan yang berbatasan dengan Paroki Santa Maria Assumpta Pakem dan Paroki Santo Petrus dan Paulus Babadan ini memang zona pertumbuhan umat yang pesat. Banyak pendatang, baik keluarga muda maupun lanjut usia.

Tentang umat lanjut usia, potretnya pun beragam. Ada pensiunan, ada yang masih aktif bekerja. Ada yang tinggal sendiri, atau bersama pasangannya, ada yang bersama anak-cucu. Ada yang sehat, ada yang dalam masa penyembuhan—sebagian tinggal di luar lingkungan dan memutuskan menjalani masa penyembuhan tinggal bersama anaknya.

Umat lansia di sini guyub. Selain aktif menyelenggarakan kegiatan di lingkungan, mereka juga rajin datang di acara-acara yang diadakan di paroki. Beberapa secara mandiri masih mampu memobilisasi diri, sebagian bergantung pada antar-jemput keluarga.

Makan bersama dan berbagi cerita sepulang dari Safari Paskah kunjungi eyang

Berkat yang Tak Semua Keluarga Dapat

Keberadaan umat lansia ini suatu berkat. Tak banyak anak yang berkesempatan menemani dan merawat orang tuanya, baik karena orang tua sudah tiada atau tinggal sendiri jauh dari mereka.

Berkat ini layak disyukuri, dihidupi, dan dibagikan. Kepada siapa lagi kalau bukan kepada generasi penerusnya. Maka, Safari Paskah 2026 ini dihelat untuk cucu-cucu supaya mereka mau turut ambil bagian merawat eyang-eyangnya. Dan perawatan yang paling dekat bisa dijangkau adalah memberikan perhatian. Menyapa. Mendengarkan. Hadir.

Gayung bersambut. Anak-anak dan remaja lingkungan yang tergabung dalam PIA-PIR-OMK antusias mengikuti safari rohani ini. Tentu ada yang canggung. Mesti omong apa? Mesti bersikap bagaimana? Beda usia bikin sungkan berbahasa. Beda generasi bikin jarak tata krama.

Namun, kecanggungan itu toh bisa dicairkan. Pelan-pelan. Para orang tua mengantar dan mendampingi mereka. Membuka jalan, mengetukkan pintu. Begitu pintu dibuka, dan mereka duduk di ruang tamu atau teras, kecanggungan itu teratasi dengan sendirinya. Dengan bersalaman mereka menerima kehangatan. Dengan mengucapkan salam mereka beroleh penerimaan. Dengan menatap wajah mereka mengunduh keteduhan. Bahkan, dengan diam mereka merasakan gemuruh percakapan batin yang mungkin baru bisa mereka pahami kelak entah kapan.

Ya, kelak entah kapan mereka akan memahami makna dari kunjungan-kunjungan ini. Belum sekarang. Namun, jika tidak dikenalkan sekarang, kelak itu tidak akan datang. Sesal, ketika mereka kehilangan.

Oma Tris, eyang tertua yang tinggal seorang diri dan ke mana-mana masih setir mobil

Perintah Allah: Hormatilah Orang Tuamu!

Begitulah. Safari Paskah ini dikemas dalam kunjungan kepada eyang supaya cucu-cucu tidak kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Dan kehilangan yang paling diantisipasi adalah kehilangan cinta kepada mereka yang sudah lebih dulu mengajarkan dan meneladankan cinta.

Ini selaras dengan teladan Sang Cinta. Seperti dikisahkan dalam Yohanes 19:26-27, saat disalibkan, Yesus memastikan ibu-Nya Maria yang sudah lanjut usia dirawat oleh murid Yohanes dengan berkata, “Perempuan, itulah anakmu!” Dan kepada Yohanes, “Itulah ibumu!” Yesus, di saat terakhir hidupnya menunjukkan kepedulian mendalam terhadap orang tua di saat penderitaan-Nya sendiri.

Ikhwal hormat kepada orang tua memang Yesus bersikap tegas. Seperti dikisahkan dalam Matius 15:3-9, Yesus menegur keras orang Farisi dan ahli Taurat yang mengabaikan perintah Allah tentang kewajiban menghormati orang tua. Mereka dianggap munafik karena lebih mengutamakan tradisi mengabaikan orang tua sebagai dalih menyembah Allah. Keliru, justru menghormati orang tualah keutamaan yang diperintahkan Allah untuk dikerjakan manusia.

Safari Paskah PIA-PIR-OMK Lingkungan Santo Gregorius Agung ini suatu upaya untuk mengunduh perintah Allah lewat aksi manusiawi yang dekat: mengunjungi eyang. Hormat pada orang tua.

Hujan sudah reda. Dan banjir ucapan terima kasih datang dari eyang-eyang. Secara langsung maupun lewat pesan teks di grup lingkungan, mereka merasa begitu bungah atas cinta yang mereka terima secara berlimpah.

Eyang Kisworo, lansia muda bersuka cita mengirim foto ini dengan ucapan:
“Makasih hampersnya ya. Berkah Dalem.”

Tim Komunikasi LEKAS (Lembaga Ekselensi Keuskupan Agung Semarang), Yayasan Kawan Tumbuh Indonesia, dan Enam Mata Co & Solutions.

Comments (0)
Add Comment