Katolikana.com—Festival LEKAS 2026 digelar di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, 10 Mei 2026. Tema festival karya yang diselenggarakan Lembaga Ekselensi Keuskupan Agung Semarang (LEKAS) “Transformasi Sekolahku Dimulai dari Transformasiku”. Festival penulisan artikel, poster, dan film pendek ini diikuti oleh pengurus yayasan, kepala sekolah, dan guru peserta pendidikan dan pelatihan LEKAS batch 1-3. Puncaknya dilangsungkan dalam gelar karya di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, 10 Mei 2026, diawali dengan seminar pendidikan “Menggambar Peta Harapan Baru” dengan pembicara Romo Bernadus Singgih Guritno Pr.
Baca juga: Bangun Jembatan, Bukan Tembok: Gambar Peta Harapan Baru Pendidikan Katolik
Hadir dalam puncak Festival LEKAS 2026 ini Vikjen Keuskupan Agung Semarang Romo FX Sugiyana, Kepala Unit Pengembangan Pastoral Pendidikan KAS Romo Deny Sulistiawan, Ketua LEKAS Ferdinand Hindiarto, dan tim fasilitator LEKAS: Romo CB Mulyatno, T Sarkim, R Rohandi, Titus Odong Kusumadjati, HJ Sriyanto, Risang Baskara, Albert Harimurti, AA Kunto A, JH Kurniawan, Andreas Satriawan, dan Esa Marhendra. Hadir pula pengurus yayasan, kepala sekolah, dan guru sekolah Katolik di KAS yang mengikuti Festival LEKAS 2026.
10 Pemenang, 10 Refleksi Perubahan Pembelajaran
Ada 10 peserta yang karyanya dinyatakan sebagai pemenang. Untuk kategori yayasan, pemenangnya Theresia Suprapti (Yayasan Dharma Ibu Cabang Klaten). Untuk kategori kepala sekolah pemenangnya Bernadetha Novia Sulistyaningsih Tri Astuti (Yayasan Dharma Ibu Yogyakarta), Veronica Hanny Saputri Juwitaningrum (TK Bina Kasih Yogyakarta), Erna Yuli Agustin (TK Indriyasana Babadan Yogyakarta), dan dan Petrus Adi Atmoko (SMK Theresiana Bandungan Semarang. Sedangkan untuk kategori guru pemenangnya Bonaventura Pandu Pradiptya (SMK Theresiana Semarang), Maria Retno Purwandani (SMP Eksperimental Mangunan Yogyakarta), Andreas Andri Wibowo (SMK Theresiana Bandungan Semarang), Yacinta Nova Astuti Wulansari (SD Kanisius Blongkeng Magelang), dan Endah Kusumawardani (TK Indriyasana Baturetno Wonogiri).
Dewan juri yang terdiri dari HJ Sriyanto, Risang Baskara, dan AA Kunto A menilai karya peserta dalam tiga kualifikasi: transformasi, kreativitas, dan kualitas. Menurut HJ Sriyanto, “Aspek transformasi mendapatkan bobot yang tinggi mengingat sasaran dari diklat LEKAS memang mengajak pendidik untuk menghadirkan perubahan pembelajaran yang berorientasi pada murid.” Aspek pemanfaatan teknologi, menurut Risang, “Penting namun bukan itu tujuannya.”
Ketua LEKAS Ferdinand Hindiarto sangat mengapresiasi keikutsertaan para peserta. Lebih-lebih, karena peserta mampu menunjukkan perubahan pembelajaran lewat karya-karya mereka. “Transformasi ini penting dalam peta perubahan dari sekadar pemimpin administratif menjadi pemimpin pembelajaran,” ujarnya.
Cerita perubahan setelah ikuti diklat LEKAS bisa disimak dalam cerita-cerita berikut ini:
Theresia Suprapti (Pengurus Yayasan Dharma Ibu Cabang Klaten):
Hubungan antar peran menjadi lebih terstruktur sehingga menciptakan kejelasan peranan dan tanggung jawab masing-masing. Sistem pertemuan pengurus dan pelaksana kini mengalami perubahan meskipun tetap dilaksanakan sebulan sekali. Lokasi pertemuan kini bergiliran per lembaga. Sistem rotasi lokasi ini memungkinkan semua lembaga untuk menjadi tuan rumah dan berkesempatan menampilkan praktik baiknya. Anggota pertemuan juga dapat belajar secara kontekstual dari kondisi nyata setiap lembaga.
Perubahan lainnya adalah adanya kesempatan untuk bersuara menyampaikan pendapat dan pemikirannya serta semua anggota diberi tugas untuk memimpin pertemuan secara bergantian, baik pengurus maupun guru. Sistem rotasi ini memiliki dampak pemberdayaan yang luar biasa. Setiap individu memiliki kesempatan untuk tampil di depan umum sehingga menumbuhkan rasa percaya diri dan meningkatkan public speaking. Ini menciptakan budaya organisasi yang lebih inklusif dan demokratis karena suara setiap orang didengar dan dihargai.
Veronica Hanny Saputri Juwitaningrum (Kepala Sekolah TK Bina Kasih Yogyakarta):
LEKAS membuka cara pandang saya, bahwa miskonsepsi ternyata bukan hanya muncul dari diri anak tetapi juga dapat berasal dari cara guru memahami dan menghadirkan sebuah pengetahuan. Seringkali, karena berbagai hal tanpa kami sadari pendidikan yang seharusnya membebaskan menjadi sebuah doktrin yang membatasi ruang eksplorasi anak.
Sebagai kepala sekolah yang bertanggung jawab memberi pendampingan, saya memulai semua dari percakapan di mana saya duduk bersama guru dan membawa pertanyaan seperti “apa tujuan dari memberikan materi ini?” dan seterusnya. Beberapa pertanyaan dijawab dengan yakin dan lancar.
Saat tiba pada pertanyaan “bagaimana kita mengetahui bahwa anak sungguh memahami dan bukan hanya hafal?” Guru terdiam agak lama. Di sini kembali saya teringat salah satu hal yang saya pahami dari Dokumen Gravissimum Educationis serta LEKAS, bahwa pendidikan sejati menghormati martabat pribadi, termasuk di dalam prosesnya. Maka, saya juga belajar bahwa coaching yang saya lakukan adalah ruang untuk menumbuhkan kesadaran dan bukan ruang untuk memberikan penghakiman.
Bonaventura Pandu Pradiptya (Guru SMK Theresiana Semarang):
Setelah projek selesai, kami melakukan refleksi bersama. Dalam refleksi tertulis, hampir semua siswa menyatakan bahwa projek kolaborasi ini membuat mereka lebih semangat dan serius dalam berbagai mata pelajaran. Mereka merasakan bahwa apa yang dipelajari di setiap mata pelajaran saling terhubung dan berguna untuk kehidupan nyata. Seorang siswa menulis, “Saya jadi paham kenapa matematika itu penting, karena tanpa hitungan yang tepat lulur saya terlalu encer.” Siswa lain mengatakan, “Belajar jadi lebih seru karena semua guru bekerja sama, tidak sendiri-sendiri.” Ada juga yang mengatakan bahwa “projek kolaborasi ini mendorong saya untuk bisa bekerja sama dengan teman”.
Bagi kami para guru, projek ini menjadi bukti nyata dari apa yang diajarkan dalam materi pelatihan: komunitas pembelajaran berbasis sekolah mampu meningkatkan kompetensi pendidik dan berdampak pada hasil belajar siswa. Kami tidak hanya bertukar pengetahuan, tetapi juga membangun rasa saling percaya dan tanggung jawab bersama. Budaya belajar sepanjang hayat tidak hanya terjadi pada siswa, tetapi juga pada kami, para guru.
Tim Komunikasi LEKAS (Lembaga Ekselensi Keuskupan Agung Semarang), Yayasan Kawan Tumbuh Indonesia, dan Enam Mata Co & Solutions.