Surakarta, Katolikana.com – Komunitas Belajar Katekis (Komberkat) Gereja Santo Paulus Paroki Kleco Surakarta pada Minggu (10/5/2026), pukul 18.30 – 21.00 mengadakan pertemuan katekis yang diikuti 23 orang katekis. Para katekis dalam pertemuan ini mendalami tema: “Makna dan Rahmat Sakramen Gereja” di Ruang Berthier.
Format pertemuan “Komberkat” berbentuk sarasehan, dengan nara sumber katekis. Kali ini yang menjadi nara sumber Yohanes Kintun Raharjo dan Lukas Didik Prakoso.
Katekese, menurut Yohanes Kintun Raharjo, berakar dari dua kata: kat dan echo. Kat: Berarti “keluar”, “pergi”, atau “meluas”. Echo: Berarti “gema”, “suara”, atau “menggema”. Secara harfiah, katekese berarti “menggema” atau “menggemakan kembali”.
Katekese dalam konteks iman, berarti mewartakan atau mengajarkan sabda Allah agar menggema dalam kehidupan umat.
Menggemakan Firman
Secara etimologis, katekis adalah seseorang yang bertugas menggemakan atau mewartakan Firman Tuhan kepada umat.
Katekis adalah umat awam yang dipilih, dibina, dan diutus oleh Gereja Katolik untuk mengajarkan ajaran iman, tradisi, serta moral Katolik kepada umat, baik anak-anak maupun orang dewasa.
Mereka berfungsi sebagai pendidik, saksi iman, dan penginjil yang membantu membawa umat menuju kedewasaan iman.
Tugas katekis selain mempersiapkan penerimaan Sakramen Babtis, Sakramen Ekaristi dan Sakramen Krisma juga mendampingi umat dalam menghayati dan memaknai sakramen-sakramen dalam Gereja.
Sakramen dalam Gereja Katolik adalah tanda yang kelihatan dan sarana nyata yang ditetapkan Kristus untuk menyalurkan rahmat Allah guna menguduskan manusia dan membangun Gereja.
Sakramen memberikan rahmat keselamatan, menguatkan iman, serta menyertai setiap tahapan hidup umat beriman dari kelahiran hingga dipanggil Tuhan.
Berbagai temuan pemaknaan sakramen yang kurang tepat
Sementara itu nara sumber kedua Lukas Didik Prakoso menyampaikan beberapa temuan pemaknaan sakramen yang kurang tepat yang menjadi bahan diskusi dalam bahasan tema:”Makna dan Rahmat Sakramen Gereja”. Temua tersebut antara lain:
- Seorang anak menjelang menerima komuni pertama, saat Misa sibuk sendiri, berbicara dengan temannya dan tidak khusyuk mengikuti Misa
- Seorang pemuda ketika ditanya motivasi mengikuti pelajaran persiapan penerimaan babtis dan sakramen krisma karena “hanya” untuk mempersiapkan perkawinan
- Orang tua Katolik tidak membabtiskan anaknya sejak kecil karena takut melanggar hak asasi dan kebebasan memilih agama bagi anak
- Ada umat yang datang ke gereja mengikuti Misa, terlambat sampai bacaan kedua, namun dengan ‘santainya’ menerima komuni
- Umat menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit dalam kunjungan pastor ke lingkungan, ketika ditanya ketua lingkungan apakah berkenan menerima Sakramen Tobat, memberi jawaban :”Jangan, jangan, saya takut”.
- Seorang umat mengalami larangan menerima Sakramen Ekaristi, tidak diperkenankan menerima komuni karena halangan pernikahan tetap ‘nekad’ menerima komuni
- Seorang umat telah menerima babtis dari Gereja Kristen, namun belum menerima pengakuan penerimaan dalam Gereja Katolik ikut-ikutan menerima komuni saat bersama pasangannya ikut Misa
- Umat pada saat mengikuti Misa, sibuk melakukan chating padahal sebelum Misa sudah ada ajakan untuk tidak mengaktifkan HP
- Dan berbagai persoalan lain tentang pemaknaan sakramen yang kurang tepat.
Nara sumber Lukas Didik Prakoso memandu jalannya sarasehan, sharing, tanggapan dan membuat kesimpulan pemaknaan sakramen yang sesuai dengan ajaran Gereja Katolik dan menyikapi jika menemukan perihal pemaknaan sakramen yang kurang tepat yang dilakukan umat.
Sukacita katekis
Komberkat selain menjadi sarana menyegarkan tugas katekis juga menambah sukacita perutusan menjadi katekis.
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta