Sekjen Caritas Internationalis Aistair Dutton: Caritas Harus Berakar pada Realitas Umat

Labuan Bajo, Katolikana.com – Caritas Internationalis, yang bekerja sama dengan Caritas Indonesia mengunjungi karya-karya dan program kerja yang telah berjalan di Paroki Santa Teresa Kalkuta Datak, Labuan Bajo, Manggarai Barat pada Sening (18/5/2026).

Umat Paroki Santa Teresa Kalkuta Datak menyambut dengan penuh sukacita atas kunjungan Caritas Internationalis dan Caritas Indonesia. Kunjungan ini menjadi momen penting bagi umat, tidak hanya sebagai bentuk perhatian Gereja terhadap umat di daerah, tetapi dimaknai sebagai upaya kehadiran Caritas dalam menjangkau umat yang membutuhkan.

Sekretaris Jenderal Caritas Internationalis Alistair Chad Duton, dalam kunjungan itu menyampaikan bahwa Caritas Internationalis dan Caritas Indonesia disatukan dalam satu ikatan kekeluargaan.

“Semua kita disini adalah satu keluarga. Seperti Paus Fransiskus katakan, tidak ada gereja tanpa Caritas. Tidak ada Caritas tanpa gereja. Di sini kita adalah keluarga Caritas,” ungkapnya. 

Alistair Chad Dutton menegaskan bahwa pelayanan Caritas harus berakar pada realitas hidup umat. Gereja dipanggil bukan hanya untuk hadir secara simbolis, tetapi sungguh menyentuh luka dan kebutuhan nyata masyarakat. Ia berharap umat di tingkat lokal, seperti di paroki, menyadari bahwa mereka adalah bagian dari jaringan kasih yang mendunia. Apa yang dialami umat di Datak juga menjadi perhatian Gereja universal.

Harapan besar diletakkan pada upaya membangun kemandirian umat. Bantuan yang diberikan harus mampu menggerakkan perubahan jangka panjang, bukan hanya menjawab kebutuhan sesaat. Ia mengajak seluruh umat untuk tidak hanya menjadi penerima, tetapi juga pelaku kasih. Setiap orang, sekecil apa pun perannya, memiliki tanggung jawab dalam membangun komunitas yang lebih adil dan berbelarasa.

Dalam dunia yang penuh krisis kemiskinan, perubahan iklim, dan ketidakadilan sosial Caritas diharapkan menjadi tanda harapan yang hidup dan nyata. 

Alistair Chad Dutton menegaskan bahwa “Caritas bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang berjalan bersama, mendengarkan, dan membangun masa depan yang lebih manusiawi.”

Uskup Labuan Bajo bersama Presiden Caritas Internationalis dan Ketua Caritas Indonesia. Foto: Vinsen Patno/Katolikana

Sinergi Caritas Indonesia

Sementara itu Ketua Pengurus Caritas Indonesia Mgr. Pius Riana Prapdi  menekankan pentingnya Gereja yang hadir dan berpihak pada yang lemah. Menurutnya, pelayanan Caritas harus menjadi wajah nyata kasih Kristus yang menjangkau mereka yang miskin, tersingkir, dan terdampak berbagai krisis kehidupan.

Ia berharap setiap program Caritas tidak berhenti pada bantuan sesaat, tetapi mampu membangun daya tahan dan kemampuan umat untuk bangkit serta mengelola hidupnya secara berkelanjutan.

Mgr. Pius mengajak seluruh umat untuk menumbuhkan semangat solidaritas dan gotong royong. Dalam konteks kehidupan paroki, nilai ini menjadi kekuatan utama untuk saling menopang dan mengatasi berbagai persoalan bersama.

“Caritas bukan hanya tugas pengurus atau lembaga, tetapi panggilan bersama seluruh umat beriman untuk menjadi pelaku kasih dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi yang berkelanjutan antara paroki, keuskupan, dan Caritas Indonesia. Sinergi ini diyakini akan memperkuat dampak pelayanan, sehingga semakin banyak umat yang merasakan manfaat nyata.

Mgr. Pius mengajak  umat untuk terus memelihara harapan di tengah keterbatasan. Dalam setiap situasi sulit, Gereja dipanggil untuk menjadi tanda harapan yang hidup serta menghadirkan terang, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas.

Harapan ini menjadi arah sekaligus dorongan bagi seluruh umat, termasuk di Paroki Santa Teresa Kalkuta Datak, agar semakin bertumbuh sebagai komunitas yang beriman, solider, dan berdaya dalam kasih.

Para delegasi Caritas Internationalis, Caritas Indonesia, dan para peserta berdialogi di Paroki Santa Teresa Kalkuta Detak pada Senin (18/5/2026). Foto: Vinsen Patno/Katolikana

Pelayanan Berkelanjutan dan Tepat Sasaran

Direktur Caritas Indonesia RD. Fredy Rante Taruk, di tempat yang sama, mengungkapkan tentang pelayanan yang berkelanjutan dan tepat sasaran. Program Caritas diharapkan tidak hanya menjawab kebutuhan sesaat, tetapi mampu menyentuh akar persoalan yang dihadapi umat, seperti kemiskinan, keterbatasan akses, dan kerentanan sosial.

RD. Fredy Rante Taruk berharap umat semakin dibekali dengan keterampilan, pengetahuan, dan kesadaran untuk mengelola kehidupan mereka secara mandiri dan bermartabat.Ia mendorong tumbuhnya kepemimpinan lokal di tingkat paroki. Umat tidak hanya bergantung pada bantuan dari luar, tetapi mampu menjadi motor penggerak perubahan di lingkungannya sendiri, melalui inisiatif dan kreatifitas bersama.

Oleh karena itu, katanya, seluruh umat agar memperkuat semangat solidaritas dan kepedulian sosial. Caritas bukan sekadar lembaga, tetapi gerakan kasih yang hidup dalam setiap pribadi umat beriman. Pentingnya sinergi antara gereja, masyarakat, dan berbagai pihak terkait. Kolaborasi ini diyakini akan memperluas jangkauan pelayanan serta meningkatkan dampak nyata bagi kesejahteraan umat.

RD. Fredy Rante Taruk mengajak umat untuk terus memelihara harapan dan ketekunan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Dalam keterbatasan sekalipun, umat dipanggil untuk tetap percaya bahwa perubahan selalu mungkin terjadi ketika dijalani bersama dalam iman dan kasih. Harapan ini menjadi dorongan kuat bagi seluruh umat, termasuk di Paroki Santa Teresa Kalkuta Datak, untuk semakin bertumbuh sebagai komunitas yang tangguh, solider, dan berdaya.

Para delegasi disambut oleh panitia di depan halaman gereja St. Teresa Kalkuta Detak. Foto: Vinsen Patno/Katolikana

Menjadi Agen Perubahan

RD. Yohanes Fredy Saldi, Pastor Paroki Santa Teresa Kalkuta Datak mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam atas perhatian dan kepedulian Caritas yang hadir secara nyata di tengah kehidupan umat.

“Kunjungan ini bukan sekadar agenda kelembagaan, tetapi menjadi tanda kasih Allah yang hadir melalui Gereja yang peduli dan mau berjalan bersama umat kecil,” ungkapnya.

Lebih lanjut, RD. Yohanes Fredy Saldi menegaskan bahwa kondisi umat di paroki masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama dalam aspek ekonomi dan akses terhadap kebutuhan dasar. Oleh karena itu, kehadiran Caritas menjadi harapan baru yang menguatkan langkah umat untuk bangkit dan berkembang.

Ia juga mengajak seluruh umat untuk tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi menjadi subjek utama perubahan. “Kami berharap umat di Paroki Datak semakin berani berproses, saling mendukung, dan bersama-sama membangun kehidupan yang lebih baik. Caritas hadir untuk mendampingi, tetapi kekuatan utama tetap ada pada kebersamaan kita sebagai umat,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan pentingnya semangat gotong royong dan solidaritas sebagai kekuatan khas umat. Nilai ini, menurutnya, harus terus dipelihara dan dikembangkan agar setiap program yang dijalankan dapat berakar kuat dan berkelanjutan.

RD. Yohanes Fredy Saldi menyampaikan harapan agar kunjungan ini menjadi awal dari kerja sama yang lebih erat dan berkelanjutan. “Semoga kehadiran Caritas tidak berhenti di sini, tetapi menjadi bagian dari perjalanan panjang kita bersama dalam menghadirkan kasih, harapan, dan perubahan nyata bagi umat,” tutupnya.

Sambutan ini disambut hangat oleh umat yang hadir, yang merasakan bahwa kunjungan Caritas Indonesia menjadi momen penting untuk memperkuat iman, harapan, dan persaudaraan di Paroki Santa Teresa Kalkuta Datak.

Presiden Caritas International dan Indonesia, serta Uskup Labuan Bajo melakukan panen sayuran yang ditanam kelompok tani dampingan Caritas Indonesia di Paroki Santa Teresa Kalkuta Datak. Foto: Vinsen Patno/Katolikana

Peninjauan Lapangan: Dari Pupuk Organik hingga Panen Perdana

Dalam kunjungan ke Paroki Santa Teresa Kalkuta Datak, para delegasi berkesempatan meninjau langsung kebun contoh yang dikelola oleh kelompok tani lokal. Rangkaian kunjungan lapangan ini meliputi Persemaian (Seedling Nursery): Tempat penyiapan bibit-bibit tanaman, Bedengan Tanam (Planting Beds): Area produksi sayur-mayur, Bank Ternak dan Kompos: Integrasi antara peternakan dan produksi pupuk organic, Area Panen Perdana: Simbol keberhasilan pengelolaan lahan secara mandiri.

Max, seorang perwakilan dari kelompok tani, berbagi pengalaman mengenai kemajuan mereka dalam memproduksi mikroorganisme lokal (MOL), pupuk organik padat dan cair, hingga pestisida alami.

Ia mengatakan bahwa kelompok tani telah berhasil menanam ribuan sayuran, mulai dari kacang panjang, tomat, cabai, hingga mentimun, yang tidak hanya dikonsumsi sendiri tetapi juga menjadi sumber pendapatan bagi keluarga.

Kebun contoh di Paroki Datak ini berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran bagi komunitas. Warga belajar bersama di kebun kolektif untuk kemudian mengimplementasikan teknik pertanian organik tersebut di pekarangan rumah masing-masing. Hal ini selaras dengan visi Caritas untuk menciptakan aktor kemanusiaan yang mandiri di tingkat akar rumput.

Kunjungan ini diakhiri dengan makan siang bersama yang menyajikan panganan lokal hasil bumi masyarakat setempat, sebelum delegasi kembali bertolak ke Labuan Bajo. Perayaan ini tidak hanya menjadi momentum syukur atas usia organisasi, tetapi juga penegasan kembali komitmen untuk membangun jembatan dan memperkuat persaudaraan melalui pemberdayaan komunitas.

Kunjungan ini merupakan rangkaian perayaan 75 tahun Caritas Internationalis dan 20 tahun Caritas Indonesia di Keuskupan Labuan Bajo. Kegiatan ini melibatkan Organ Yayasan KARINA-KWI, para Uskup dari Regio Nusra, Direktur Caritas-PSE Regio Nusra, Komite-komite Caritas Indonesia, para mitra dan masyarakat dampingan.

Umat Paroki Datak menunjukkan antusiasme yang tinggi melalui kehadiran aktif dalam setiap sesi pertemuan, dialog, dan pendampingan yang dilaksanakan. Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung dampak nyata dari program pemberdayaan masyarakat yang berbasis pada semangat kasih dan kemandirian.

Editor: Basilius Triharyanto

Penulis adalah kontributor Katolikana.com di Labuan Bajo.

Alistair Chad DutonCaritas IndonesiaCaritas InternationalisParoki Datak
Comments (0)
Add Comment