Seabad Suster Charitas (FCh) di Indonesia: Mengakar dalam Spiritualitas Muder Theresia, Berbuah Oase Kasih yang Inklusif

Foto bersama Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru, Kardinal, Para Uskup, Suster dan hadirin pada perayaan syukur 100 tahun Kongregasi F.Ch dan Charitas Hospital ,

 

PALEMBANG, Katolikana.com – Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) menggenapi ziarah 100 tahun karya pelayanannya di Indonesia. Mengusung tema “Berakar dan Berbuah dengan Sukacita”, puncak perayaan seabad ini menjadi momentum bagi para suster untuk merefleksikan kembali semangat kedinaan dan memantapkan langkah menuju pembaruan misi yang dinamis dan relevan dengan tantangan zaman.

Syukuran satu abad ini dipusatkan di Ballroom Charitas Pusat, Palembang, Kamis (9/7/2026). Perayaan diawali dengan perarakan agung pembawa vandel dari 39 Komunitas FCh yang menandai luasnya bentangan karya kongregasi ini di bumi Nusantara.

Spiritualitas Kedinaan dan Keberanian Berkorban

Misa Syukur konselebrasi dipimpin oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, dihadiri oleh ratusan Suster FCh, para imam, dan umat.

Dalam homilinya, Superior Provinsi SCJ Indonesia, Romo Andreas Suparman, SCJ, menekankan pentingnya belajar dari sejarah emas para pendahulu yang meletakkan fondasi pelayanan di atas tanah kerendahan hati.

“Perjalanan 100 tahun ini membukakan mata kita bahwa Allah yang tetap setia adalah sumber hidup. Dari para suster pendahulu, kita belajar bahwa sukacita sejati justru ditemukan di dalam kesederhanaan, penyerahan diri pada Penyelenggaraan Ilahi, dan keberanian melakukan pengorbanan diri,” tutur Romo Suparman, SCJ.

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, juga turut menyampaikan ucapan selamat atas konsistensi hidup bakti para suster. Mgr. Antonius menegaskan bahwa pelayanan kasih Suster Charitas selama seabad telah menjadi kesaksian iman yang hidup dalam menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia.

Ajakan Pertobatan Radikal dan Transformasi Digital

Pemimpin Umum Kongregasi Suster FCh, Sr. M. Patricia, FCh, menyatakan bahwa usia 100 tahun bukanlah sebuah titik henti atau sekadar angka di kalender, melainkan sebuah batu loncatan menuju masa depan baru. Di hadapan para suster, ia menyerukan pentingnya pertobatan yang radikal.

“Mari para Suster, terus-menerus kita bertobat secara total dan radikal. Mungkinkah ada yang perlu kita benahi dalam hati, dalam kesaksian pengosongan diri (kenosis), dan dinamika pelayanan kita? Kita ditantang untuk terus melangkah maju dengan semangat inovatif, tidak terlelap dalam kenyamanan masa lalu. Kita siap merangkul teknologi dengan hati yang penuh empati, agar tetap menjadi oase yang relevan bagi generasi mendatang,” papar Sr. M. Patricia hangat.

Misi Kontekstual: Dari Sumatra ke Mississippi hingga Wamena

Dalam sesi konferensi pers, Anggota Dewan Pemimpin Umum FCh, Sr. M. Carolisa, FCh, menjelaskan bagaimana karisma sang pendiri, Muder Theresia Saelmaekers, terus dihidupi secara kontekstual. Saat ini, FCh telah menyebar di 4 benua, 4 negara, dan mengelola 39 komunitas dengan karya yang sangat multisektoral—mulai dari kesehatan, pendidikan, panti asuhan, panti jompo, shelter perlindungan perempuan korban kekerasan, hingga pengelolaan ecopark dan animasi pastoral di media sosial.

“Kerinduan kami adalah kembali ke cita-cita awal pendiri: memastikan semakin banyak kaum miskin, sakit, dan tersingkir yang diperhatikan. Kami ingin kehadiran FCh di mana pun berada menjadi jembatan perdamaian yang tulus,” ujar Sr. Carolisa.

Sr. Carolisa juga membagikan kabar gembira mengenai perluasan misi global kongregasi. Setelah resmi memulai karya di Mississippi, Amerika Serikat pada tahun 2025, FCh siap menjawab permohonan Uskup Jayapura untuk memulai misi baru di Wamena, Papua, pada tahun 2027 mendatang.

Saat ini, dengan jumlah kekuatan 290 Suster, 12 Postulan, dan 16 Aspiran, FCh secara terbuka mengundang kaum muda untuk bergabung dan melanjutkan estafet pelayanan ini.

Oase Inklusif yang Diakui Lintas Iman

Dampak sosial nyata dari kehadiran Suster FCh turut diakui secara luas oleh pemerintah daerah. Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, yang hadir langsung menyerahkan piagam penghargaan, menegaskan bahwa Charitas telah bertumbuh menjadi aset kemanusiaan yang inklusif.

“Charitas sudah dirasakan menjadi milik seluruh masyarakat Sumatera Selatan, apa pun agamanya, latar belakang, dan sukunya. Semua mengakui rumah sakit ini memberikan pelayanan terbaik, ramah, dan penuh berkah,” puji Herman Deru. Gubernur bahkan menyebut kesiapan manajemen Charitas sebagai pilar utama dalam menyukseskan program “Sumsel Health Tourism 2026” yang dicanangkan pemerintah.

Puncak perayaan seabad ini ditutup dengan ramah tamah dan pementasan drama musikal reflektif berjudul “Berakar dan Berbuah”. Pementasan ini menggambarkan jatuh bangun sejarah ziarah kasih para Suster Charitas sejak pertama kali tiba di Indonesia, merawat kehidupan, dan terus melebarkan sayap kasihnya demi keselamatan sesama dan kemuliaan Tuhan.

Setelah purna bakti guru di SD Xaverius 2 Palembang saat ini sebagai pendidik di SMA Xaverius 2 Palembang dan SMP Kusuma Bangsa, Dosen Universitas Katolik Musi Charitas. Sekretaris DPP Santo Yoseph Palembang, jurnalis / kontributor di media lokal dan nasional dan aktif di beberapa organisasi.

Comments (0)
Add Comment