Misa Ulang Tahun Imamat Ke-21,22, dan 38 Romo MSF di Paroki Santo Paulus Kleco Solo

Surakarta, Katolikana.com – Minggu 26 Juli 2026, pukul 17.00, Hari Minggu Biasa XVII, bertepatan dengan Peringatan Wajib Santo Yoakim dan Santa Anna, orang tua dari Santa Perawan Maria serta kakek dan nenek dari Yesus Kristus, Paroki Santo Paulus Kleco mempersembahkan Misa Syukur Rahmat Tahbisan 21, 22 dan 38 tahun Romo MSF yang kini berkarya di Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta.

Ulang Tahun Imamat Ke-21 Romo Hibertus Hartono, MSF (18 Juli 2026), Ulang Tahun Imamat Ke-22 Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF (13 Juli 2026) dan Ulang Tahun Imamat Ke-38 Romo BernardinusHaryasmara, MSF (25 Juli 2026).

Misa Syukur Peringatan 21, 22 dan 38 tahun Imamat Romo Hibertus Hartono, MSF., Romo Franciskus Anggras Prijatno, MSF dan Romo Bernardinus Haryasmara,MSF di Paroki Santo Paulus Kleco Solo, Minggu (26/7/2026)(Foto Tangkapan Layar Live Streaming KomSos Kleco)

Ketiga Romo dalam homili mengungkapkan ungkapan refleksi syukur atas panggilan, kesetiaan, serta permohonan doa yang dihunjukan menanggapi permenungan Sabda tentang apa yang diminta kepada Allah jika diberi kesempatan seperti Salomo yang meminta kebijaksanaan. Juga permenungan tentang harta berharga yang terpendam yang ditemukan di ladang serta orang yang mau menjual segala barang demi memperoleh mutiara yang sangat berharga.

Refleksi syukur Romo Hartono
Mengawali homili Romo Hibertus Hartono, MSF mengungkapkan bahwa dalam hidup jika seseorang telah menemukan harta yang terpendam atau mutiara berharga pasti akan dijaga.

Harta terpendam atau mutiara berharga itu bisa iman, panggilan, karya-karya baik, orang-orang baik yang dipercayakan Tuhan pada kita.

“Bagi saya harta berharga yang perlu saya jaga adalah imamat. Motivasi sejak kecil merupakan cara Allah menarik saya, melalui suka cita melihat cara hidup Romo yang disegani umat, menumbuhkan perjalanan imamat yang penuh tantangan yang semuanya bisa dilewati.

Kalau menemukan harta, maka dijaga dengan kesetiaan. Sikap utama yang menjadi refleksi untuk menjaga “Kerajaan Allah” sebagai harta berharga yang telah ditemukan : yaitu dengan memiliki sikap Loyalitas, menjadikan Prioritas dalam hidup. Lalu diperjuangkan dengan Pengorbanan, selanjutnya mengupayakan Pemberian diri dengan totalitas maka akan Sukacita.

Jika harta sudah ditekuni dengan Loyalitas, Prioritas, Pengorbanan, Pemberian diri secara totalitas maka kita akan melakukan dan merasakan Sukacita. Jika disingkat “LP3S”. Itulah yang mewarnai hidup imamat saya,” kata Romo Hartono dalam sharing.

“Selama 21 tahun menjalani imamat, saya merasakan semua terjadi bukan kekuatan saya tetapi kekuatan Allah. Maka motto imamat saya :’Cukuplah kasih karunia-Mu bagiku’. Sebagai ungkapan syukur saya, dalam rangka 21 tahun imamat, saya ingin menyanyikan sebuah lagu Indahnya Kasih Tuhan”, lanjut Romo Hartono.

Romo Hibertus Hartono, MSF., Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF dan Romo Bernardinus Haryasmara, MSF gembala di Paroki Santo Paulus Kleco Solo (Foto Tangkapan Layar Live Streaming KomSos Kleco)

Refleksi syukur Romo Anggras
Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF mengajak umat berefleksi sejenak, jika menjadi Salomo yang ditanya Tuhan: “Mintalah apa yang kamu harapkan daripada-Ku?”

Salomo tahu diri, sebagai raja muda meminta kebijaksanaan. Bapak ibu dan saudara, menjawab apa bisa direnungkan.

Selama 22 tahun menjadi imam saya menjalani perjalanan imamat yang ‘heroik’. Sebagai anak yang lahir dan besar di Jakarta kog bisa ingin jadi Romo.
Hal ini karena ketertarikan saya. Saya dibabtis dewasa, saat duduk di Klas 3 SMP. Tanggal 22 Desember (waktu itu) dibabtis dan terima komuni. Tanggal 23 Desember mau ikut misa pagi jauh dari Cipinang ke Rawamangun sehingga tidak terima komuni. Sebenarnya ingin. Tanggal 24 Desember terima komuni karena Malam Natal. Tanggal 25 Desember pagi terima komuni. Sore terima komuni lagi karena ngantar kakek Misa Natal Lansia sore di Rawamangun.

Saya merasakan, tiba-tiba ada kerinduan. Bagaimana caranya supaya saya bisa terima komuni setiap hari?

Ternyata jawabannya adalah jika kamu ingin menerima komuni setiap hari, jadilah imam. Disitulah saya tertarik menjadi seorang imam.

Fase menjadi imam, pengalaman banyak dinamika. Ditempatkan pada tempat-tempat yang tidak terpikirkan sama sekali. Semuanya dijalani.

Jika saya ditanya seperti Salomo ditanya, saya menjawab saya memohon kesetiaan. Karena tugas perutusan yang kadang-kadang tidak mengerti.

Namun saya mempercayai Tuhan menyertai saya. Itulah juga yang saya alami sepanjang 22 tahun dengan pengalaman jatuh dan bangun. Kalau bukan kekuatan Tuhan mungkin saya sudah “habis” di tahun-tahun yang lalu. Kesempatan ini saya hanya mengucapkan terima kasih Tuhan atas penyertaan-Mu, atas segala hal yang saya alami. Dan semuanya itu karena kebaikan Tuhan.

“Saya ingin menyanyikan Lagu Terima kasih Tuhan” sebagai refleksi syukur saya”, ungkap Romo Anggras.

Refleksi syukur rahmat imamat diungkapkan Romo Hartono, MSF., Romo Anggras, MSF dan Romo Haryasmara, MSF dalam homili.(Foto Tangkapan Layar Live Streaming KomSos Kleco)

Refleksi Syukur Romo Haryasmara
Mengawali sharing Romo Haryasmara mengungkapkan tentang konfrater: Romo Hartono menurut Romo Haryasmara, menghayati imamat dengan penuh suka cita. Karena pengalaman masa kecil yang menumbuhkan panggilan imam, menjumpai imam yang mengunjungi keluarga dan umat yang dijumpai dengan suka cita.

Romo Anggras menurut Romo Haryasmara, cocok jadi pastor kepala, berdasarkan permenungan firman memohon rahmat kebijaksanaan dan kesetiaan dalam mendampingi umat.

Saat retret 40 tahun membiara 6 tahun yang lalu, saya merenungkan bacaan Injil yang sama tentang pedagang yang telah menemukan mutiara, akhirnya apa yang ada dalam dirinya dijual untuk memberi mutiara itu.

Saya ingin dekat dengan Yesus Kristus, Sang Mutiara Sejati dan berusaha sedemikian rupa membagikan kasih Tuhan bagi saudara-saudara yang lain.

“Hari ini saya bahagia bersama Romo Anggras dan Romo Hartono. Sama seperti pedagang yang berusaha menjaga mutiara berharga dalam hatinya, saya juga mengenakan Kristus di dalam tubuh saya yang rapuh ini. Semoga kekuatan Kristus saja yang membuat saya menjadi sempurna.”

“Ketika SMP saya bercita-cita ingin jadi imam. Ketika kuliah dan lulus, panggilan itu nampaknya hilang. Lalu diingatkan Tuhan ketika bekerja di Pengadilan Negeri suara hati tergerak untuk menanggapi panggilan.

Kita perlu selalu membuka hati untuk dekat dengan Kristus Sang Mutiara yang Sejati yang akan memberikan kebahagiaan kekal”, sharing Romo Haryasmara.

Akhir sharing dan homili, Romo Haryasmara memberikan ajakan bagi anak-anak muda untuk mendaftarkan diri di MSF agar MSF panggilannya menjadi besar.

“Doakanlah kami bertiga supaya kami tetap menjadi imam sampai akhir hayat kami. Amin”, ajak Romo Haryasmara pada seluruh umat.

Pemotongan tumpeng HUT Imamat Romo Hartono, MSF., Romo Haryasmara, MSF dan Romo Anggras, MSF (Foto AY. Suratno)

Usai Misa dilanjutkan pemotongan tumpeng oleh ketiga Romo di Ruang Berthier serta ramah tamah dengan DPPH, dan tamu undangan. (*)

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta

Comments (0)
Add Comment