Di Bawah Naungan Maria Assumpta Nusantara 

Peziarahan Arca Bunda Maria itu membawa pesan persaudaraan dan cinta budaya lokal.

Labuan Bajo, Katolikana.com – Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara terus melanjutkan ziarah rohaninya melintasi wilayah Keuskupan Labuan Bajo. Setelah mengunjungi paroki-paroki di Kevikepan Wae Nakeng dan Kevikepan Pacar, kini prosesi agung itu memasuki wilayah Kevikepan Labuan Bajo.

Prosesi Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara menghadirkan semangat baru dalam perjalanan iman umat Keuskupan Labuan Bajo. Setelah disambut dengan antusias dan penuh sukacita di Kevikepan Wae Nakeng dan Kevikepan Pacar, kini Bunda Maria melanjutkan ziarahnya menuju paroki-paroki di Kevikepan Labuan Bajo.

Peziarahan Arca Bunda Maria itu membawa pesan persaudaraan, harapan, serta ajakan untuk semakin mencintai budaya lokal sebagai rumah tempat iman bertumbuh.

Perjalanan Bunda Maria dari satu paroki ke paroki lainnya tidak hanya menjadi ungkapan devosi umat, tetapi juga menghadirkan pengalaman iman yang memperkuat persaudaraan, membangkitkan kembali kecintaan terhadap budaya lokal, serta memperlihatkan wajah Gereja yang semakin berakar dalam kehidupan masyarakat Manggarai.

Di setiap tempat yang disinggahi, umat menyambut Arca Bunda Maria dengan penuh sukacita. Kain songket, selendang, topi Manggarai, serta beragam ornamen lokal menghiasi perjalanan Bunda Maria di setiap prosesi.

Ritus penerimaan dan pengantaran berlangsung dengan iringan tari-tarian tradisional, bunyi gong dan gendang, serta lantunan lagu-lagu Manggarai yang menggema di tengah perayaan. Seluruh unsur budaya Manggarai berpadu harmonis dengan doa-doa Gereja. Ritus ini telah menghadirkan pengalaman iman yang menyentuh sekaligus membanggakan akar budaya masyarakat Manggarai.

Prosesi ini memperlihatkan bahwa iman Katolik tidak hadir untuk menghapus budaya, melainkan menyucikan, mengangkat, dan memperkaya nilai-nilai luhur yang telah hidup dalam masyarakat. Kehadiran Bunda Maria menjadi tanda bahwa Kristus menjumpai umat-Nya di tengah kehidupan nyata, termasuk melalui bahasa, adat istiadat, simbol, ritus, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Nuansa dan ritus budaya lokal Manggarai begitu terasa kuat dalam prosesi perarakan arca Bunda Maria Assumpta di Labuan Bajo. Foto: Vinsen Patno/Katolikana.com

Karena itu, ziarah Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara merupakan sebuah ziarah inkulturatif ziarah yang mempertemukan iman dengan budaya dalam satu kesatuan yang saling menghidupkan.

Vikaris Episkopal Kevikepan Pacar, Rm. Didimus Mbembo, mengatakan bahwa salah satu pesan penting dari kunjungan Bunda Maria adalah menghidupkan kembali kesadaran akan identitas budaya masyarakat Manggarai.

“Kunjungan Bunda Maria mengangkat kembali budaya-budaya kita dan menegaskan identitas kita sebagai orang Manggarai. Bunda Maria ingin agar kita tidak meninggalkan kekayaan ritus dan budaya yang kita miliki, tetapi menjaga, merawat, dan mengembangkannya. Sebab iman yang sungguh berakar adalah iman yang bertumbuh dan hidup di dalam budaya. Festival Golo Koe tahun ini membantu umat melihat dimensi budaya dalam perziarahan iman sebagai orang Katolik,” katanya kepada Katolikana.com pada Jumat (24/7/26).

Semangat yang sama juga dirasakan oleh umat di Paroki Compang. Pastor Paroki, Romo Flori Suyanto melihat bahwa kehadiran Arca Bunda Maria menjadi momentum untuk kembali menghargai kearifan lokal di tengah derasnya arus perubahan zaman.

“Nilai-nilai budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi fondasi yang membentuk semangat persaudaraan, solidaritas, dan sikap ramah terhadap siapa pun. Nilai-nilai inilah yang menjadi jiwa hospitalitas masyarakat Manggarai dan sekaligus menjadi kekuatan dalam membangun pariwisata yang berakar pada martabat manusia dan budaya lokal. Kehadiran Bunda Maria mengingatkan kembali bahwa kemajuan tidak boleh memutus hubungan masyarakat dengan akar budayanya,” kata Romo Flori, Sabtu (25/7/26).

Memang sejak pertama kali, Festival Golo Koe “Maria Assumpta Nusantara” dirancang sebagai festival religi-budaya yang bertumpu pada spiritualitas Gereja sekaligus kekayaan tradisi masyarakat Manggarai. Ikon utama festival, Maria Assumpta, melambangkan harapan dan perjalanan umat menuju kepenuhan hidup dalam Allah. Namun perjalanan itu tidak ditempuh secara individual, melainkan sebagai ziarah komunal dalam semangat persaudaraan, sinodalitas, dan keterbukaan terhadap semua orang.

Masyarakat Katolik di Labuan Bajo mengarak arca Bunda Maria Assumpta pada Jumat (24/7/2026). Foto: Vinsen Patno/Katolikana.com

Memasuki penyelenggaraan yang kelima, sekaligus untuk kedua kalinya sebagai bagian dari Top KEN (Karisma Event Nusantara), Festival Golo Koe semakin menegaskan identitasnya sebagai ruang perjumpaan antara iman, budaya, dan pariwisata yang berkelanjutan.

Puncak seluruh rangkaian kegiatan akan berlangsung pada 10–15 Agustus 2026 di kawasan Water Front City Labuan Bajo, menghadirkan berbagai perayaan iman dan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Manggarai sekaligus wajah keramahan Keuskupan Labuan Bajo bagi Indonesia dan dunia.

Prosesi Maria Assumpta Nusantara akhirnya menjadi lebih dari sekadar perjalanan sebuah arca. Ia adalah perjalanan iman yang menghidupkan kembali akar budaya, memperkuat persaudaraan, menumbuhkan rasa bangga akan identitas lokal, serta menunjukkan bahwa Gereja sungguh hadir, berjalan bersama umat, dan bertumbuh di tengah budaya yang mereka hidupi setiap hari.

Editor: Basilius Triharyanto

Jurnalis dan editor. Separuh perjalanan hidupnya menjadi penulis. Menghidupkan kata, menghidupkan kemanusiaan.

Festival Golo KoeKeuskupan Lauan Bajo
Comments (0)
Add Comment