Sebar Masker, Tebar Peduli: Mahasiswa Pontianak Jaga Napas Warga
Di tengah kualitas udara kategori berbahaya, 29 mahasiswa membagikan 2.000 masker di simpang Tugu Digulis.

Pontianak, Katolikana.com — Sore itu langit Pontianak berwarna putih keabu-abuan. Bukan mendung. Di simpang Tugu Digulis, Jalan Ahmad Yani, Pontianak, 29 mahasiswa berdiri di antara deru kendaraan sambil menenteng kardus berisi masker.

Tidak ada pengeras suara. Tidak ada spanduk tuntutan. Mereka menawarkan satu hal sederhana kepada setiap orang yang lewat: masker untuk perlindungan kecil bagi paru-paru.

Aksi bertajuk “Sebar Masker, Tebar Peduli” itu berlangsung pada Minggu, 30 Agustus 2026, pukul 15.00–18.00 WIB. Sebanyak 2.000 masker dibagikan langsung kepada pengendara sepeda motor, pedagang kaki lima, dan pejalan kaki. Setiap masker diserahkan bersama satu pesan pendek: kualitas udara Pontianak sedang berbahaya, pakailah masker.

Penyelenggaranya adalah Aliansi Mahasiswa Pontianak Peduli, gabungan Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) Politeknik Negeri Pontianak, KMK Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Sekolah Tinggi Teologi Pastor Bonus, dan Universitas Widya Dharma Pontianak, dengan dukungan relawan muda lintas kampus. Aksi lanjutan dijadwalkan pada Minggu, 6 September 2026.

Kota yang Kehilangan Udara
Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) periode 30–31 Agustus 2026, kualitas udara Kota Pontianak masuk kategori berbahaya dengan konsentrasi PM2,5 mencapai 763. Pada periode yang sama, 7.377 titik panas terdeteksi di Kalimantan Barat.

Kementerian Lingkungan Hidup mencatat Pontianak Tenggara berada di angka ISPU 699 pada Rabu, 2 September 2026, dan menempatkannya sebagai wilayah dengan kualitas udara terburuk kedua di Indonesia hari itu. Sehari sesudahnya, pemantauan IQAir mencatat konsentrasi PM2,5 di Pontianak sebesar 375 mikrogram per meter kubik.

Pedoman kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2021 menetapkan batas aman paparan PM2,5 rata-rata 24 jam pada angka 15 mikrogram per meter kubik. Warga Pontianak, dengan kata lain, menghirup udara sekitar dua puluh lima kali lipat di atas ambang yang dianggap aman.

PM2,5 adalah partikel halus berukuran di bawah 2,5 mikrometer. Ukurannya cukup kecil untuk lolos dari bulu hidung, menembus alveolus di paru-paru, lalu masuk ke aliran darah. Inilah alasan kabut asap tidak hanya membuat mata perih dan tenggorokan gatal, tetapi juga memperburuk asma, penyakit jantung, dan gangguan kehamilan.

Aliansi Mahasiswa Pontianak Peduli bagikan masker kepada pengendara yang melintas di jalan protokol kota Pontianak.

Tiga Ratus Kasus ISPA Sehari
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyebut kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di kotanya mencapai sekitar 300 kasus per hari. Angka itu menjadi salah satu alasan utama Pemerintah Kota memperpanjang pembelajaran daring bagi siswa TK, SD, dan SMP.

Perpanjangan serupa berlaku untuk jenjang SMA, SMK, dan SLB se-Kalimantan Barat sesuai surat Dinas Pendidikan Provinsi tertanggal 29 Agustus 2026. Sampai akhir Agustus 2026, anak-anak Pontianak sudah tiga pekan belajar dari rumah. Pemerintah Kota juga telah menetapkan status darurat karhutla serta meminta puskesmas dan rumah sakit menyiagakan tabung oksigen.

Kebijakan itu tidak menjangkau mereka yang tetap harus keluar rumah. Pengemudi ojek daring, pedagang pasar, buruh bangunan, penjual kue keliling. Kelompok inilah yang paling sering ditemui mahasiswa di simpang Tugu Digulis, dan sebagian besar tidak mengenakan masker.

Doa di Katedral, Masker di Jalan
Aksi dimulai di gereja Katedral Santo Yosef, Keuskupan Agung Pontianak. Para mahasiswa lebih dulu berkumpul untuk berdoa bersama sebelum bergerak ke titik pembagian.

Koordinator aksi, Steven Riu, mengaku sadar bahwa 2.000 masker tidak akan menyelesaikan apa pun. Justru itu yang ingin ia tekankan.

“Ini bukan soal gratis. Ini soal peduli,” katanya. “Kami mengajak teman-teman muda untuk punya hati yang peka.”
Ia melanjutkan dengan kiasan yang kemudian dikutip berulang kali oleh peserta aksi: kegiatan ini bagaikan setitik air di dalam danau. “Walau demikian, semoga riaknya sampai ke hati masing-masing mahasiswa untuk terus peduli, seperasaan dan sependeritaan dengan masyarakat,” ujarnya.

Selain membagikan masker, mahasiswa memberikan penjelasan singkat kepada warga tentang bahaya paparan asap dan pentingnya membatasi aktivitas luar ruangan bagi kelompok rentan: anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penyandang gangguan pernapasan.

Dalam siaran persnya, Aliansi Mahasiswa Pontianak Peduli menulis kalimat yang paling banyak dikutip di media sosial: ketika negara sibuk, rakyat saling menjaga. Kalimat itu tajam, dan mungkin tidak sepenuhnya adil bagi petugas pemadam serta relawan yang bekerja siang malam di lahan gambut. Tetapi ia menangkap sesuatu yang nyata: di sebuah kota yang udaranya berbahaya selama berminggu-minggu, orang biasa berhenti menunggu.

Pukul enam sore, kardus masker sudah kosong. Kabut asap masih di tempatnya. Dua puluh sembilan mahasiswa itu pulang tanpa satu tuntutan pun tersampaikan, dan justru karena itulah aksi mereka terasa berbeda dari kebanyakan aksi di simpang yang sama.

Aksi lanjutan digelar Minggu, 6 September 2026. Narahubung: Fr. Alfred (WhatsApp 0812-3405-9188). (*)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Keluarga Mahasiswa KatolikKeuskupan Agung PontianakKMKPemuda Katolik
Comments (0)
Add Comment