Perayaan 60 Tahun Perjalanan Kevikepan Surakarta di Pura Mangkunegaran dan Literasi Budaya Kesehatan Secara Holistik

Memayu Hayuning Bawana Beri Inspirasi Bidang Kesehatan

Surakarta, Katolikana.com – Gereja Katolik memiliki pandangan tentang karya kesehatan sebagai bentuk nyata perwujudan kasih Kristus dan perpanjangan tangan pelayanan Yesus yang peduli pada orang sakit dan menderita.

Semasa hidup, Yesus memberi teladan dengan memberikan diri dan waktu untuk menyembuhkan orang sakit, baik fisik maupun rohani. Melayani orang sakit dianggap sebagai melayani Kristus sendiri, sesuai sabda-Nya: “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40).

Hakikat Gereja menjaga dan merawat kehidupan adalah tugas suci karena hidup manusia dianugerahi oleh Allah sejak pembuahan hingga akhir hayat.

Gereja melalui karya kesehatan bekerja sama dengan pemerintah dan berbagai pihak mengelola rumah sakit, klinik, panti wreda, panti kesehatan mental, rumah pembinaan rohani sebagai bentuk pelayanan panggilan pendampingan hidup yang holistik.

Rumah Sakit Brayat Minulya Surakarta salah satu rumah sakit Katolik di Kevikepan Surakarta

Dalam bidang kesehatan, secara khusus, karya kesehatan Katolik melihat pasien bukan sekadar sebagai objek medis, melainkan sebagai pribadi bermartabat yang mencitrakan Allah.

Pelayanan karya kesehatan menjadi tanda kehadiran-Nya di tengah dunia. Hal ini juga menjadi bentuk menghormati martabat manusia.

Setiap fase kehidupan manusia (dari awal pembuahan hingga kematian yang wajar) harus dilindungi.

Pelayanan kesehatan Katolik tidak hanya berfokus pada penyembuhan fisik semata, tetapi juga memerhatikan pendampingan mental dan rohani pasien. Pastoral kesehatan menjadi bagian yang menyertai.

Kepedulian umat untuk saling bergandengan tangan mewujudkan perhatian pada umat yang membutuhkan bantuan dana kesehatan dibangun dengan ditempelnya QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) di tempat duduk umat dalam gereja.

Bagi umat yang bisa menyisihkan dana untuk berbagi dapat berpartisipasi pada “QRIS Dana Peduli Kesehatan”. Ini merupakan bentuk gotong royong meneguhkan semangat “Nyawiji, Mawutuh, Andum Berkah”.

Merawat kesehatan secara holistik
Ketika terselenggara Perayaan Ekaristi 60 Tahun Perjalanan Kevikepan Surakarta di Pura Mangkunegaran, Rabu (7/10/2026), inspirasi filosofis “Memayu hayuning bawana” jika dikaitkan dengan karya kesehatan menjadi sangat penting jika dibaca dalam literasi budaya.

Memayu hayuning bawana dalam bidang kesehatan adalah penerapan falsafah Jawa untuk mewujudkan keselamatan, kesejahteraan, dan keharmonisan hidup melalui pemeliharaan kesehatan jasmani, rohani, serta lingkungan.

Memayu hayuning bawana berarti memperindah, memelihara, dan menyelamatkan dunia.

Ketika diterapkan di bidang kesehatan konsep ini dimaknai sebagai upaya holistik untuk menjaga keseimbangan hidup manusia agar terhindar dari penyakit dan penderitaan.

Dalam pandangan kesehatan secara holistik (raga dan jiwa), memandang manusia secara utuh; kesehatan fisik yang baik didukung oleh ketenangan batin, mental yang sehat, emosi yang stabil serta sehat rohani.

Bidang kesehatan secara holistik juga dapat memanfaatkan alam secara herbal atau tradisional.

Memanfaatkan kekayaan alam secara bijak untuk pengobatan, seperti merawat tanaman obat keluarga (toga) dan menggunakan pengobatan tradisional warisan leluhur yang selaras dengan alam. Di sisi lain adanya kepedulian sosial (gotong royong kesehatan).

Membantu sesama yang sedang sakit, menjaga sanitasi lingkungan sekitar agar tidak menjadi sarang penyakit, serta menciptakan akses kesehatan yang merata.

K.G.P.A.A. Mangkunegara X saat pembukaan klinik Mangkunegaran (Tangkapan layar dari Instagram Mangkunegaran)

Kepedulian Sosial Kesehatan
(Salinan Pelayanan Kesehatan di Mangkunegaran pada Era K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII. Dikutip dari https://mangkunegaran.id)

Pelayanan Kesehatan di Mangkunegaran pada Era K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII
Pembukaan Ziekenzorg Surakarta Tahun 1922 (Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen)
Pada awal abad ke-20, di Hindia Belanda khususnya Surakarta muncul berbagai jenis penyakit, seperti pes, malaria, diare, dan disentri. Maka dari itu, pelayanan kesehatan menjadi kebutuhan yang mendesak dan harus terpenuhi. Saat itu, terdapat beberapa rumah sakit modern di Surakarta, antara lain Panti Rogo, Zending Ziekenhuis, dan Ziekenzorg.

Ziekenzorg berlokasi di wilayah Mangkubumen yang termasuk dalam wilayah Mangkunegaran. K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII melalui bevolkingfonds (dana rakyat) memberikan subsidi dalam pembangunan rumah sakit ini pada tahun 1921. Bevolkingfonds yang disediakan oleh Mangkunegaran tidak hanya digunakan untuk membangun fasilitas umum, tapi juga biaya operasionalnya. Dana ini diutamakan untuk membantu pasien yang kurang mampu. Pada tahun 1925, dana rakyat difokuskan untuk membiayai pemeliharaan kesehatan masyarakat.

Mangkunegaran tidak hanya berfokus pada kesehatan masyarakat di perkotaan, tapi juga di wilayah pedesaan. Maka dari itu, K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII juga membangun poliklinik-poliklinik yang tersebar di berbagai wilayah, seperti di Karanganyar dan Karangpandan. Selain itu, dibangun juga poliklinik yang dikhususkan untuk memfasilitasi para pekerja pabrik milik Mangkunegaran seperti Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu.

Poliklinik Colomadu dibangun tahun 1916. Pada saat itu, jumlah pasien terus bertambah sehingga poliklinik ini kemudian diperbesar menjadi rumah sakit pada tahun 1919. Layanan yang diberikan kepada penduduk tak hanya rawat jalan, melainkan juga rawat inap.

Kehadiran fasilitas kesehatan di Mangkunegaran mendapatkan respon positif dari masyarakat. Mereka yang awalnya hanya bertumpu pada pengobatan tradisional kemudian memanfaatkan sarana kesehatan modern. Pengawasan sarana kesehatan di daerah luar Kota Mangkunegaran, baik Tasikmadu maupun Colomadu awalnya dikoordinasikan oleh dokter pabrik gula. Sejak tahun 1934 pengawasan kesehatan diawasi secara langsung oleh dokter Pura Mangkunegaran.

Selain kesehatan fisik, Mangkunegaran juga melakukan pemeliharaan kesehatan mental rakyat. Bentuknya berupa kerja sama dengan pihak rumah sakit jiwa di Mangunjayan, Lawang, Magelang, dan Bogor untuk menangani pasien gangguan kejiwaan di masing-masing wilayah tersebut. Antara tahun 1929 hingga 1937, Pemerintah Mangkunegaran mengeluarkan sejumlah dana untuk biaya rehabilitasi pengobatan dan penyembuhan penderita penyakit jiwa.

Mangkunegaran pada era kepemimpinan K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII melakukan berbagai upaya untuk mensejahterakan rakyat. Salah satunya adalah dengan memberikan fasilitas kesehatan yang tidak hanya ditujukan untuk masyarakat di wilayah kota, tapi juga pedesaan. Selain membangun, biaya operasional juga diberikan untuk memfasilitasi pasien yang kurang mampu. Dengan langkah tersebut diharapkan penduduk di wilayah Mangkunegaran dapat terhindar dari berbagai penyakit yang mewabah dan dapat hidup dengan sehat.

Kepedulian masa kini

Pura Mangkunegaran memiliki kepedulian nyata terhadap kesehatan masyarakat serta para abdi dalem dari masa lampau hingga kini.

Kepedulian masa kini ditandai dengan berbagai gerak bersama bidang kesehatan diantaranya : Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan RI bersama Pura Mangkunegaran yakni mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis bagi abdi dalem dan warga sekitar. (16/5/2026).

KGPAA Mangkunegara X hadir langsung saat CKG untuk mendukung kesejahteraan dan membangun budaya sehat yang berakar dari tradisi. Menjalin jejaring bekerja sama dengan RS Kardiologi Emirates Indonesia.

Peresmian Klinik Mangkunegaran oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkoenegara X yang bertempat di Bale Warga, Pura Mangkunegaran. (3/12/2025).

Menggelar Mangkunegaran Run yang menjadi even tahunan yang menumbuhkan budaya sehat dan budaya berolah raga. (*)

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta

Comments (0)
Add Comment