Maluku Tenggara, Katolikana.com—Sebuah rosario milik Nen Dit Warat, perempuan asal Kolser, hilang saat ia pergi ke kebun. Setelah dicari, rosario itu ditemukan. Kejadian tersebut terulang hingga tiga kali, dan menurut tutur umat setempat, rosario itu selalu ditemukan di lokasi yang sama.
Kisah itulah yang diwariskan sebagai bagian dari sejarah berdirinya Gua Maria Imakulata Kolser di Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara. Di tempat rosario tersebut ditemukan, umat kemudian membangun gua yang menjadi ruang doa dan ziarah lintas generasi.
Menjelang peringatan satu abad pemberkatannya pada 8 Desember 2026, sejarah Gua Maria Kolser dapat ditelusuri melalui prasasti, catatan misionaris, dan tradisi lisan umat. Masing-masing menyimpan bagian berbeda dari perjalanan tempat ziarah tersebut.
Memilih antara Kolser dan Sathean
Gagasan pembangunan Gua Maria muncul ketika Pastor Henricus Nollen, MSC melihat kuatnya devosi umat kepada Bunda Maria. Ia ingin menghadirkan tempat khusus bagi umat untuk berdoa dan berziarah.
Dua lokasi dipertimbangkan, yakni Kolser dan Sathean. Menurut kisah yang diwariskan masyarakat Kolser, Pastor Nollen mengajak umat menjalani novena selama sembilan hari untuk memohon petunjuk dalam menentukan lokasi.
Dalam masa doa itulah rosario Nen Dit Warat disebut hilang dan ditemukan kembali di tempat yang sama hingga tiga kali.
Peristiwa tersebut disampaikan kepada Kepala Desa Kolser saat itu, Bakrar Maturbongs, yang kemudian meneruskannya kepada Pastor Nollen. Umat memaknainya sebagai jawaban atas doa mereka dan petunjuk untuk membangun gua di Kolser.
Kisah rosario ini hidup dalam tradisi lisan masyarakat. Melalui penuturan antargenerasi, nama Nen Dit Warat tetap dikenang sebagai bagian dari awal berdirinya Gua Maria Imakulata Kolser.
Jejak Pemberkatan pada 1926
Prasasti di lokasi gua mencatat bahwa Gua Maria Imakulata Kolser diberkati oleh Pastor Henricus Nollen, MSC pada 8 Desember 1926. Tanggal tersebut bertepatan dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda atau Imakulata.
Jejak tertulis lainnya terdapat dalam Almanak Bunda Maria Hati Kudus, tahun ke-39, edisi 1 Januari 1929. Dalam tulisan berjudul “Pemuji Maria di Kei”, Jos. V. D. Kolk, MSC menyebut bahwa Mgr. Yohanes Aerts juga memberkati patung dan gua secara khidmat dengan dihadiri banyak umat.
Prasasti dan tulisan dalam almanak tersebut merekam pemberkatan oleh dua tokoh berbeda. Keduanya menjadi bagian dari sumber sejarah Gua Maria Kolser, meskipun hubungan waktu antara kedua pemberkatan itu masih perlu ditelusuri lebih lanjut.
Patung dari Belanda
Tulisan dalam almanak tahun 1929 juga mencatat asal-usul patung pertama di Gua Maria Kolser. Sebuah keluarga dari Belanda menyumbangkan patung besar Bunda Maria dari Lourdes beserta patung kecil Santa Bernadette.
Sumbangan tersebut membantu mewujudkan keinginan umat Kei memiliki tempat devosi kepada Bunda Maria. Batu karang setempat digunakan untuk membangun gua yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya.
Almanak itu turut menggambarkan kehidupan devosi umat pada masa tersebut. Gua berada di tepi jalan umum yang ramai dilalui masyarakat Kei Kecil. Orang yang melintas memberikan penghormatan singkat kepada Maria, sementara umat Kolser mengenang para penyumbang dalam doa.
Dalam perjalanan berikutnya, patung pertama itu mengalami kerusakan. Menurut riwayat yang diwariskan umat, kerusakan terjadi akibat guncangan bom Jepang. Bagian yang tersisa disebut hanya leher hingga kepala.
Patung Bunda Maria yang kini berada di gua merupakan patung pengganti. Kendati patungnya telah berganti, tempat tersebut tetap digunakan umat untuk berdoa dan berziarah.
Akar Iman sejak 1891
Sejarah umat Katolik Kolser bermula beberapa dasawarsa sebelum pemberkatan Gua Maria. Berdasarkan dokumen MSC yang menjadi rujukan naskah ini, orang Kolser pertama yang dibaptis adalah Ignatius Bak Maturbongs pada 23 Agustus 1891.
Saat itu, Ignatius tinggal di Langgur bersama orang tuanya, Martinus Lakes Maturbongs dan Martina Kahaiwul Savsav. Ia menerima baptisan bersama beberapa orang lainnya, yakni Josep Morsin Maturbongs, Helena, dan Kahaiwul Savsavubun.
Pada 16 Juni 1892, kedua orang tua Ignatius turut dibaptis di Langgur bersama Damianus Lad Maturbongs.
Damianus kemudian menjadi katekis yang diutus membuka sekolah dan mengajarkan iman di Hollat, Kei Besar. Bersama Venantius Maturbongs, ia juga membantu pembukaan misi Katolik di Tanimbar bersama Pastor Klerk dan Pastor Capper.
Perkembangan umat berlanjut. Pada 3 Juni 1894, enam pemuda Kolser menerima baptisan di Langgur. Mereka adalah Rustikus Baad Reyaan, Leonardus Kerbau Maturbongs, Canisius Sardik Maturbongs, Melkior Santiong Maturbongs, Cassianus Sam Maturbongs, dan Venantius Sier Maturbongs.
Rangkaian pembaptisan tersebut menunjukkan bahwa iman Katolik telah tumbuh di kalangan masyarakat Kolser selama lebih dari tiga dasawarsa ketika Gua Maria diberkati pada 1926.
Ruang Doa Lintas Generasi
Sejarah Gua Maria Imakulata Kolser mempertemukan perjalanan umat setempat, karya para misionaris dan katekis, serta dukungan para dermawan dari luar Kepulauan Kei.
Prasasti mencatat tanggal pemberkatannya. Almanak merekam sumbangan patung dan kehidupan devosi umat. Sementara itu, tradisi lisan merawat ingatan tentang Nen Dit Warat dan rosarionya.
Menjelang usia satu abad, Gua Maria Imakulata Kolser tetap menjadi tempat umat membawa doa dan meneruskan devosi kepada Bunda Maria. Bersama tempat itu, kisah tentang rosario yang tiga kali ditemukan di lokasi yang sama terus diwariskan.
Panduan Berkunjung
Gua Maria Imakulata Kolser berada di Ohoi (Desa) Kolser, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Tempat ziarah ini dikenal sebagai Gua Maria Stasi Santa Maria Imakulata Kolser, yang berada dalam pelayanan Paroki Langgur.
Pengunjung dapat menyebut tujuan “Gua Maria Imakulata di Ohoi Kolser” kepada pengemudi atau warga setempat. Setelah tiba di Kolser, mintalah petunjuk menuju gua kepada pengurus stasi atau umat setempat. Nama stasi tersebut dapat digunakan untuk memperjelas tujuan.
Untuk pencarian awal, gunakan kata kunci “Gua Maria Imakulata Kolser Maluku Tenggara” di aplikasi peta. Tautan pencarian Google Maps dapat membantu pencarian, tetapi belum merupakan pin lokasi yang terverifikasi.
Bagi rombongan, sebaiknya koordinasikan kunjungan terlebih dahulu dengan pengurus Stasi Kolser atau Paroki Langgur untuk memastikan akses, waktu kunjungan, dan kemungkinan penggunaan tempat untuk doa bersama. Selama berada di lokasi, jagalah keheningan, kebersihan, dan hormati umat yang sedang berdoa. (*)
Kontributor: Robertus Remetwa
Sumber: Prasasti Gua Maria Imakulata Kolser; Almanak Bunda Maria Hati Kudus, tahun ke-39, edisi 1 Januari 1929, khususnya tulisan “Pemuji Maria di Kei” karya Jos. V. D. Kolk, MSC; dokumen MSC mengenai pembaptisan awal umat Kolser pada 1891–1894; serta tradisi lisan umat Kolser.
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.