Dairi, Katolikana.com — Umat Stasi Santo Dionisius Lau Rambong, Desa Lau Pakpak, Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, merayakan pesta pelindung stasi melalui Perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Yohanes Bello Patty, O.Carm, Jumat (9/10/2026). Stasi ini merupakan bagian dari Paroki Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, Keuskupan Agung Medan.
Perayaan tersebut menjadi kesempatan untuk bersyukur atas penyertaan Tuhan sekaligus memperbarui komitmen dalam menghidupi iman. Teladan Santo Dionisius, uskup dan martir yang diperingati setiap 9 Oktober, mengajak umat untuk tetap setia kepada Kristus di tengah tantangan.
Menghadirkan Kebaikan bagi Sesama
Pastor Yohannes mengajak umat menjadi garam yang memberi rasa dan membawa kebaikan bagi kehidupan sesama. Sebagaimana garam memberikan cita rasa pada makanan, kehadiran umat Kristiani diharapkan menghadirkan kasih dan kepedulian di tengah masyarakat.
Iman perlu membawa perubahan positif melalui hubungan yang baik dengan sesama. Kehadiran orang Kristiani hendaknya mempererat persaudaraan dan membantu mereka yang menghadapi kesulitan.
Umat juga diajak menjadi terang dunia. Sebagaimana terang tampak melalui cahaya yang dipancarkannya, iman Kristiani perlu terlihat dalam sikap dan tindakan nyata: kejujuran, ketulusan, keberanian membela kebenaran, serta kesediaan menolong orang yang membutuhkan.
Pastor Yohannes turut mengingatkan umat agar tidak menjadi pribadi yang “abu-abu”, yakni tidak memiliki pendirian yang teguh dalam menghidupi iman. Umat perlu mampu membedakan yang baik dan yang buruk serta berani memilih kebenaran, sekalipun pilihan itu tidak selalu mudah.
Menjadi pengikut Kristus menuntut kesediaan memberikan kesaksian melalui perbuatan. Pengakuan iman perlu disertai tindakan yang mencerminkan kasih dan kebenaran.
Meneladani Kesetiaan Santo Dionisius
Pesan tersebut sejalan dengan teladan Santo Dionisius dari Paris yang dikenang karena keberanian dan kesetiaannya mewartakan Injil.
Santo Dionisius diutus ke Galia, wilayah yang kini menjadi bagian dari Prancis, untuk mewartakan Kabar Gembira. Bersama Santo Rustikus dan Santo Eleutherius, ia membangun dan meneguhkan iman umat Kristen di tengah ancaman serta penganiayaan.
Menurut tradisi Gereja, Dionisius dihukum mati dengan cara dipenggal di Bukit Montmartre. Tradisi hagiografi juga mengisahkan bahwa ia kemudian berjalan sambil membawa kepalanya sendiri. Kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi penghormatan kepada orang kudus, bukan fakta sejarah yang dapat dipastikan.
Dalam tradisi itu, umat menemukan pesan tentang keberanian dan kesetiaan yang bertahan di tengah penderitaan. Hidup Santo Dionisius mengingatkan bahwa iman perlu diwujudkan melalui keteguhan hati dan kesediaan berkorban demi kebenaran.
Bagi umat masa kini, keberanian memberikan kesaksian dapat diwujudkan melalui tindakan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: berkata jujur, menolak ketidakadilan, mengampuni sesama, dan tetap berbuat baik ketika menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan.
Mempererat Persaudaraan dan Pelayanan
Seusai Ekaristi, umat melanjutkan perayaan dengan ramah tamah dan makan bersama. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk mempererat persaudaraan serta meneguhkan kebersamaan dalam kehidupan menggereja.
Melalui pesta pelindung ini, umat diharapkan semakin mengenal dan menghidupi teladan Santo Dionisius. Keberanian mewartakan Injil dapat tumbuh melalui kesaksian hidup yang baik. Kesetiaan kepada Kristus tampak dalam keputusan sehari-hari, sedangkan semangat pengorbanan diwujudkan melalui pelayanan yang tulus.
Semangat itu perlu diteruskan di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Dengan demikian, perayaan tahunan menjadi bagian dari upaya menumbuhkan iman yang terus hidup dalam keseharian.
Menjadi garam dan terang dunia berarti menghadirkan iman yang dapat dirasakan melalui kebaikan dan dilihat melalui tindakan. Garam memberi rasa tanpa harus menonjolkan diri, sedangkan terang menerangi sekelilingnya. Melalui kasih, kepedulian, dan pelayanan, umat dipanggil membawa pengharapan bagi sesama. (*)
Kontributor: Josep Sianturi, S.Pd., Katekis Paroki Tigalingga
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.