Surakarta, Katolikana.com -Praksis doa dalam agama Katolik dipahami sebagai percakapan dan ungkapan hati serta pikiran kepada Allah, yang berakar pada tradisi Kitab Suci, Katekismus Gereja Katolik, dan teladan hidup Yesus Kristus.
Bulan Oktober sebagai Bulan Rosario, di lingkungan, pada saat doa rosario, pemimpin doa mengawali dengan menyampaikan ujub atau intensi doa. Intensi doa bisa intensi pribadi (yang diungkapkan dalam hati), intensi keluarga, lingkungan atau intensi lainnya.
Dalam doa rosario, rangkaian manik-manik rosario Katolik memiliki makna simbolis yang mendalam sebagai sarana permenungan misteri iman dan doa. Melalui perantaraan Bunda Maria umat menghunjukkan doa pada Bapa dan meneladan hidup Kristus.
Umat duduk melingkar, mau menunjukkan semangat kebersamaan dan melambangkan kekekalan serta kasih Tuhan. Lingkaran yang berkesinambungan menunjukkan semangat doa yang tidak berkesudahan.
Melalui Doa Rosario umat mengekspresikan doa lisan, doa verbal. Doa yang diucapkan dengan kata-kata secara lisan.
Melalui Doa Rosario umat merefleksikan permenungan yang termuat dalam peristiwa-peristiwa rohani misteri kehidupan Yesus Kristus dan Bunda Maria.
Membangun semangat doa, melalui Doa Rosario di lingkungan merupakan bentuk penghayatan iman Katolik.
Pengangkatan pikiran dan hati
Mengutip Katekismus Gereja Katolik (KGK 2559), doa adalah mengangkat pikiran dan hati kepada Allah, atau memohon hal-hal yang baik daripada-Nya. Doa adalah respons atau jawaban manusia atas kasih dan panggilan Allah yang sudah lebih dulu menyapa manusia. (*)
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta