Penuh Sesak, Umat Bintaran Hadiri Misa Perdana Songolasan di Taman Doa

 

 

Yogyakarta, Katolikana.com—Misa perdana songolasan di Taman Doa Bintaran dihadiri lebih dari seratus umat Bintaran pada Senin (19/10/2026). Bangku-bangku kecil yang disiapkan terisi penuh. Bahkan, umat terus mengalir hingga menjelang misa dimulai.

Antusiasme umat Bintaran tersebut patut diapresiasi, meski sejak awal sudah disampaikan bahwa misa devosi ini sifatnya manasuka, bukan wajib. Begitu juga para relawan petugas yang telah menyiapkan diri sejak awal. Untuk memandu umat, disediakan lembar doa ”Litani Santo Yusup.”

Sebagaimana namanya, misa Songolasan diselenggarakan setiap tanggal 19 di Taman Doa Bintaran. Sebagai gereja yang berlindung pada Santo Yusuf, Paroki Bintaran memperingati perayaan Santo Yusuf setiap tanggal 19 Maret. Dari situlah, diputuskan setiap tanggal 19 akan diadakan misa ekaristi untuk Santo Yusuf atau songolasan dalam Bahasa Jawa.

“Kalau tanggal 19 jatuh pada hari Sabtu maka songolasan diajukan ke hari Jumat. Sebaliknya, kalau tanggal 19 jatuh pada hari Minggu maka songolasan diundur ke hari Senin. Misa ini tidak boleh bersaing dengan ekaristi di gereja karena devosi itu sifatnya mengikuti, bukan mengganti,” jelas Romo Yulius Sukardi, Pr saat mengawali misa.

Destinasi Tempat Ziarah Baru

Sejak diresmikan pada 1 Oktober 2026 oleh Romo Marcellinus Tanto, Pr, Vikaris Episkopalis Kevikepan Yogyakarta Timur, Taman Doa Bintaran mulai dilirik oleh peziarah. Tak hanya dari umat Bintaran, ada juga umat yang datang dari luar paroki, bahkan dari luar kota.

Dengan konsep ruang terbuka, Taman Doa ini dilengkapi bangku-bangku kecil yang memberi privasi bagi umat yang berdoa. Selain itu, di tempat ini tersedia pula tempat untuk membakar ujub, permohonan, atau apa pun yang ingin didoakan bersama Santo Yusuf.

Sebelumnya, tepat di belakang bangunan gereja juga telah dipasang patung Santo Yusuf pelindung Gereja Bintaran. Tak jarang selepas misa ekaristi tampak umat yang berdoa sejenak di depan patung tersebut.

Meski demikian, umat yang datang diharapkan bukan hanya menyampaikan permohonan, tetapi  juga olah kesalehan untuk mengalami rahmat-rahmat Allah melalui doa, melalui laku dan peziarahan dalam devosi.

Relief Yusuf Tidur dan Mimpi-mimpinya

Dalam homilinya pada misa perdana songolasan, jelas Romo Yulius Sukardi, Pr mengulas ulang mimpi-mimpi Yusuf. Mulai dari Malaikat Tuhan yang  meminta Yosef untuk tidak takut mengambil Maria sebagai istrinya, sebab Anak yang dikandung Maria berasal dari Roh Kudus  (mimpi pertama), Malaikat Tuhan memerintahkan Yosef membawa Kanak-kanak Yesus dan Maria mengungsi ke Mesir demi menyelamatkan Yesus dari ancaman pembunuhan oleh Herodes (mimpi kedua), Malaikat Tuhan menyampaikan bahwa Yosef dapat kembali ke tanah Israel karena orang-orang yang hendak membunuh Yesus telah meninggal (mimpi ketiga), hingga setelah dinasihati lewat mimpi, Yosef memilih untuk pergi ke daerah Galilea dan tinggal di Nazaret (mimpi keempat).

Relief yang menggambarkan saat Yusuf tidur beserta mimpi-mimpinya. Atas ki-ka: mimpi pertama dan kedua. Bawah ki-ka mimpi ketiga dan keempat. (foto: dok. pribadi)

“Perhatikan, posisi tidur Yusuf itu tidak enak, tidak nyaman. Kenapa? Karena semasa ia tidur, Yusuf mengalami masalah besar dan kebingungan. Tetapi justru di saat tidur itulah, dia dihampiri Tuhan. Inilah istimewanya,” tegas romo yang akrab disapa dengan Romo Kardi.

Agar mendapatkan visualisasi nyata bagaimana Yusuf tidur beserta mimpi-mimpinya, umat dipersilakan mendalaminya lewat relief mimpi Yusuf yang ada di Taman Doa Bintaran. Saat peresmian, Romo Marcellinus Tanto, Pr berharap agar Taman Doa ini menjadi ruang bagi umat untuk membangun intimitas kita dengan Tuhan melalui situs-situs yang ada.

Gereja Santo Yusup Bintaran yang telah berusia lebih dari 90 tahun ini adalah saksi pertumbuhan rohani masyarakat Katolik pribumi di Yogyakarta. (foto: dok. pribadi)

Gereja Jawa Pertama di Yogyakarta

Gereja Santo Yusup terletak di Kampung Bintaran, Yogyakarta. Sejak pertama kali berdiri, keunikan arsitektur gereja ini telah menarik perhatian karena berbeda dari bangunan gereja lain pada zamannya.

Bangunan berarsitektur gaya Eropa, berbentuk persegi panjang menghadap ke utara ini, dibangun dengan landasan beton. Bentuk atapnya yang melengkung juga dari beton dengan lonceng pada bagian atap depan.

Gereja yang kemudian dikenal dengan sebutan “Gereja Jawa Pertama di Yogyakarta” ini sejak awal pendiriannya dikhususkan sebagai tempat ibadah bagi umat Katolik pribumi, khususnya masyarakat Jawa.

Pendirian gereja di Bintaran dilatarbelakangi oleh keterbatasan kapasitas Gereja Santo Fransiskus Xaverius di kawasan Kidul Loji. Pada masa itu, ruang ibadah diutamakan bagi orang-orang Eropa, sementara umat Katolik pribumi beribadah di gudang di sisi timur gereja. Kondisi itulah yang mendorong gagasan untuk membangun gereja tersendiri bagi umat Katolik Jawa.

Pembangunan Gereja Santo Yusup dimulai pada 1933 dan diresmikan pada Minggu, 8 April 1934. Upacara peresmian dipimpin oleh Mgr. A. Th. Van Hoof, SJ, selaku Vikaris Apostolik, didampingi Pastor Van Kalken, SJ selaku Kepala Misi Jesuit di Jawa, serta Pastor G. Riestra, SJ  sebagai pastor kepala di Yogyakarta.

Gereja yang telah berusia lebih dari 90 tahun ini adalah saksi pertumbuhan rohani masyarakat Katolik pribumi di Yogyakarta.

Penulis, umat di Paroki Santa Maria Regina, Tangerang Selatan.

Gereja Santo Yusup BintaransongolasanTaman Doa Bintaran
Comments (0)
Add Comment