Kisah Para Rasul 15:22-31; Yohanes 15:12-17
Katolikana.com – Mengasihi itu kodrat dari setiap manusia. Bukankah penjahat pun mengasihi anak-anaknya? Meski mengasihi itu kodrati, di baliknya ada pelbagai motivasi. Ada motivasi yang tidak abadi dan sering berpusat pada diri sendiri. Ada yang sama sekali lepas dari kepentingan diri dan membawa sukacita sejati.
Injil Yohanes 15:12-17 yang dibaca pada hari ini mengajarkan motivasi mulia kepada kita. Yesus bersabda, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yohanes 15:12). Santo Yohanes mengajak kita mengasihi seperti Yesus telah mengasihi kita. Bagaimana kasih-Nya itu?
Motivasi yang bebas dari kepentingan diri sendiri
Yesus bersabda, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13). Inilah motivasi sejati dari kasih yang bebas dari kepentingan diri sendiri.
Kasih yang Yesus ajarkan itu berpusat pada orang lain dan lahir dari sikap rela berkorban yang ekstrim: menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabat yang dikasihi.
Yesus tidak hanya mengatakan, melainkan mewujudkan itu secara nyata dalam hidup dan kematian-Nya. Dia wafat di kayu salib demi menyelamatkan sahabat-sahabat yang dikasihi-Nya. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini dan motivasi kasih yang melampaui yang satu ini.
Hanya sedikit pengikut Yesus yang siap dan matang untuk mengasihi dengan cara itu. Amat sulit! Banyak yang mencoba menawar. Tetapi jawaban Yesus tegas, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yohanes 15:16). Artinya, Yesus itu pemegang peran utama. Dia yang memerintahkan itu juga membantu mereka yang diperintah-Nya. Di mana kita menemukan contoh konkretnya? Dalam diri para kudus, khususnya martir-martir.
Kisah Santo Stefanus dan Santo Maximilianus Kolbe
Mereka mempersembahkan nyawa bagi para sahabatnya. Santo Stefanus, martir pertama, menunjukkan kasih ini saat ia berdoa bagi para pembunuh yang melemparinya dengan batu.
Santo Maximilianus Kolbe secara heroik menawarkan dirinya menggantikan seorang tahanan yang tidak dikenal dan hendak dihukum mati oleh pasukan Nazi di Auschwitz. Dia menunjukkan bahwa kasih sempurna melampaui batasan teman dekat sekalipun.
Ajaran ini mengajak kita untuk mati terhadap sikap egois: mengampuni yang menyakiti, berbagi waktu dan harta, serta rela menderita demi kebenaran dan sesama.
Kasih sejati bukanlah romantisme, tetapi pemberian diri total. Para Kudus menjadi teladan bahwa kemartiran bukan hanya fisik, melainkan juga kematian terhadap keinginan diri. Dengan demikian, kita dipanggil untuk mencintai tidak hanya dalam kata, tetapi dalam perbuatan dan kebenaran, meneladan Kristus yang wafat untuk semua orang, bahkan saat kita masih berdosa.
Jumat, 8 Mei 2026
HWDSF
Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.