Mgr. Maksimus Regus: Keluarga adalah Gereja Mini

Labuan Bajo, Katolikana.com – Pada hari Minggu (10/5/26) Mgr. Maksi mengadakan kunjungan kegembalaan di Stasi Wetik, Paroki St. Yosef Freinademetz Wajur. Kunjungan ini mempertegas komitmennya untuk selalu dekat dengan umat dan berjalan bersama dengan mereka.

Hal ini telah ditunjukkannya sejak awal ketika dipercayakan menjadi gembala umat di keuskupan baru, Keuskupan Labuan Bajo. Hampir setiap Minggu, ia merayakan ekaristi bersama umat baik di pusat paroki maupun di stasi sambil melihat, mengalami, merasakan situasi mereka, dan berdialog dengan mereka. Ia menyapa siapa pun, orangtua, orang muda, anak-anak, dan di mana pun, di jalan, di kampung, di rumah. Inilah sosok “gembala yang baik”, yang selalu hadir dalam pengalaman nyata umat dan menyapa mereka dalam segala situasi.

Dalam perayaan ekaristi di Kapel Stasi Wetik, Mgr. Maksi menyampaikan tiga hal penting. Pertama, Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya. Tuhan yang bangkit tidak membiarkan orang-orang percaya hidup sendirian seperti “yatim piatu”, tetapi menyertai mereka secara baru dengan Roh-Nya. Roh itu berkarya dalam setiap pribadi, keluarga, dan Gereja serta meneguhkan mereka dalam pergumulan hidup apa pun.

Kedua, bersaksi dengan kelembutan hati. Hal ini berarti orang beriman selalu menghadirkan kebaikan dan damai sejahtera dalam hidupnya. Ia tidak menjadi sumber perpecahan, sebaliknya mengayomi dan mempersatukan. Dengan cara hidup demikian ia menampakkan kehadiran Tuhan bagi sesama.

Ketiga, janji seorang penolong. Yesus meneguhkan para murid-Nya: Aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian. Aku akan mengutus seorang penolong yang akan menyertai kamu selama-lamanya. Dialah pegangan para murid, yang dapat diandalkan dan dipercaya, sebab Ia adalah Roh Kebenaran. Janji Tuhan inilah yang sedang kita nantikan sekarang.

Uskup Mgr. Maksimus Regus bersama Orang Muda Katolik di Stasi Wetik, Paroki St. Yosef Freinademetz Wajur.

Keluarga sebagai Gereja Kecil

Dalam sambutannya di akhir perayaan ekaristi, Mgr. Maksi mengatakan bahwa keluarga adalah Gereja mini. Ia menjadi tempat pembentukan awal baik dari segi iman maupun karakter. Gambaran kehidupan Gereja tampak nyata dalam keluarga. Keluarga mengungkapkan secara konkret dimensi kehidupan Gereja yang mencakup persekutuan, pewartaan, pengudusan, dan pelayanan.

“Setiap keluarga mesti bertumbuh dalam iman dan persekutuan hidup bersama. Hal ini akan membantu kita dalam mewujudkan persekutuan yang lebih luas dalam kehidupan KBG, stasi, paroki, dan keuskupan kita. Kita juga diajak untuk menghidupi visi Gereja yang sinodal, solid, solider.”

Selanjutnya, Pastor Paroki Wajur, RD. Edy Menori menyampaikan terima kasih atas kehadiran Bapak Uskup di tengah-tengah umat dari ketiga stasi, Wetik, Rejing, dan Wol. Di tengah kesibukan pelayanan yang padat, apalagi baru saja mengikuti pengukuhan sebagai Guru Besar di Ruteng, Bapak Uskup rela datang ke Stasi Wetik, melewati medan yang cukup sulit. “Bersama seluruh umat kami mengucapkan profisiat dan selamat atas jabatan Guru Besar dari Bapa Uskup.

Kami sangat berbangga, karena menjadi Uskup pertama di NTT yang meraih jabatan ini. Sekalipun demikian, Bapa Uskup tetap setia mengunjungi dan menyapa umat yang sederhana. Kami melihat dalam diri Bapa Uskup model gembala yang baik, tetapi juga gembala intelektual yang cerdas dan bijaksana”. Ini merupakan kunjungan kedua seorang uskup ke Stasi Wetik setelah tahun 1970-an oleh Mgr. Wilhelmus van Bekkum, SVD.

Ketua Stasi Wetik sekaligus Ketua Panitia, Faldi Dagung, mengucapkan terima kasih atas kunjungan kegembalaan yang meneguhkan dari Bapa Uskup. “Sejak lama kami merindukan kedatangan Bapa Uskup, dan hari ini terjawab. Kami menyiapkan acara hari ini sejak beberapa bulan lalu. Kepanitiaannya sebagian besar orang-orang muda, yang melibatkan ketiga stasi. Semuanya berjalan baik dan lancar berkat arahan dan bimbingan dari Pastor Paroki dan Vikaris Parokial. Kami mohon motivasi dan pesan-pesan kegembalaan Bapa Uskup untuk pertumbuhan iman dan kemajuan hidup bersama kami di sini”.

Mgr. Maksi mengadakan kunjungan kegembalaan di Stasi Wetik, Paroki St. Yosef Freinademetz Wajur pada Minggu (10/5/2026). Foto: Vinsen Patno/Katolikana

Pastoral Pendidikan

Setelah perayaan ekaristi, Bapa Uskup berdialog dengan dialog tokoh-tokoh umat atau masyarakat, orang-orang muda dan anak-anak. Banyak pertanyaan yang diajukan, sebagian besar terkait pendidikan, seperti nasib sekolah-sekolah Katolik, kesejahteraan guru, dan peran Yasukmabar.

Ketua Yasukmabar, RD. Ivan Selman, mengatakan bahwa selama ini Yayasan sudah berkomunikasi dengan para pihak mulai dari Dinas PKO Kabupaten untuk memperjuangkan kesejahteraan guru-guru di sekolah Katolik. Juga melalui forum MNPK untuk menyampaikan aspirasi kepada Kementerian Pendidikan Nasional. “Yayasan membantu para guru melalui SK yang dikeluarkan untuk banyak kebutuhan mereka. Juga melalui pendataan Dapodik sehingga para guru bisa mendapatkan bantuan-bantuan dari pemerintah, seperti sertifikasi. Itulah bentuk-bentuk perhatian Yayasan terhadap kesejahteraan guru”.

Selanjutnya, Bapa Uskup menegaskan pentingnya menjaga identitas sekolah Katolik di tengah dinamika perubahan yang terus terjadi. “Kebijakan pemerintah terkait pendidikan selalu bersifat politis, dan berubah-ubah setiap waktu. Kebijakan diambil hari ini, besok bisa berubah lagi tergantung arah politik. Sekolah-sekolah Katolik tidak bisa begitu saja mengikuti perubahan-perubahan kebijakan atau regulasi seperti itu. Identitas dan jati diri sekolah Katolik mesti dipertahankan. Namun, kita tetap memperjuangkan atau menuntut perhatian pemerintah terhadap sekolah-sekolah kita, karena sesungguhnya kita mengambil bagian dalam tugas mereka untuk mencerdaskan anak-anak bangsa”.

Rangkaian acara dialog dan kebersamaan dengan umat di Stasi Wetik berlansung dalam suasana penuh persaudaraan dan keakraban. Anak-anak Sekami dan orang-orang muda menampilkan tarian daerah dan lagu-lagu yang bernuasa budaya Manggarai. Mereka berharap Bapa Uskup selalu mendukung mereka dalam aneka kegiatan, baik di tingkat stasi dan paroki maupun tingkat keuskupan.

Penulis adalah kontributor Katolikana.com di Labuan Bajo.

Comments (0)
Add Comment