Katolikana.com – Matahari belum terbit, Ana kecil sudah bangun. Matanya masih terlihat sayu karena baru bangun tidur. Ana bergegas ke dapur untuk menyiapkan bekal untuk piknik dan rekoleksi. Di dapur Mama Ana dan Kakak Ana sedang sibuk mempersiapkan konsumsi untuk acara. Mereka masuk dalam seksi konsumsi dan mendapat jatah untuk menyiapkan konsumsi untuk sebagian peserta. Sebagian lainnya akan disiapkan oleh seksi konsumsi lainnya.
Gereja Ana hari ini mengadakan acara piknik dan rekoleksi untuk keluarga. Kebetulan, minggu ini ada libur panjang dari Hari Jumat hingga Senin. Pesertanya sangat banyak, sehingga panitia menyewa lima bis untuk mengangkut semua peserta ke tempat rekoleksi. Jumlah peserta yang banyak juga menjadi alasan panitia membagi-bagi jatah persiapan konsumsi, sekaligus berbagi rejeki.
Ana tidak mau merepotkan mama dan kakak. Ana sudah menyiapkan bahan-bahan untuk bekalnya di kulkas. Ana sangat suka dengan roti lapis tuna. Ana, walaupun masih kecil, sudah pintar membuat makanan favoritnya itu. Ana belajar membuatnya bersama mama beberapa minggu lalu. Ana dengan telaten dan sepenuh hati menyiapkan roti lapis tuna untuk bekalnya selama piknik. Ana membuat lima roti lapis tuna, satu untuk mama, satu untuk papa, satu untuk kakak, dan dua untuk Ana. Ana sangat senang.
Papa Ana bangun. Papa segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke gereja. Ana menyusul mandi setelah roti lapis tuna yang Ana buat selesai. Ana memasukkan roti lapis tuna ke dalam kotak bekal makanan yang menjadi hadiah ulang tahunnya yang ke lima. Kotak bekal itu ditutup dengan rapat dan dimasukkan ke dalam tas ranselnya yang sudah berisi Kitab Suci dan alat tulis.
Papa dan Ana pergi ke gereja duluan. Mama dan kakak nanti menyusul. Mama dan kakak pergi ke gereja setelah semua makanan sudah siap. Panitia seksi konsumsi akan pergi ke tempat rekoleksi dengan kendaraan lain setelah bis peserta pergi lebih dulu..
Semua peserta sudah berkumpul di gereja. Semua peserta sudah masuk ke dalam bis dan bersiap untuk berangkat. Perjalanan ke tempat rekoleksi membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Ana terlihat senang. Bis mulai berjalan menuju tempat rekoleksi. Semua peserta bersuka cita. Mereka bernyanyi bersama di dalam bis.
Perjalanan cukup lancar hingga mulai naik ke puncak. Jalanan mulai semakin padat. Jalanan dipenuhi oleh kendaraan pribadi. Tidak heran, saat ini sedang libur panjang. Banyak keluarga juga ingin pergi berlibur keluar kota. Bis muali sering berhenti. Ana mulai bosan. Ana mulai sesekali membuka tas ranselnya dan mulai tergoda untuk memakan satu jatah roti lapis tunanya. Tapi Ana selalu berhenti sebelum membuka kotak bekal makanannya itu. Ana mau makan bersama dengan papa, mama, dan kakak nanti di tempat rekoleksi. Makan bersama pasti lebih menyenangkan pikirnya.
Ana bisa menahan diri. Bis peserta akhirnya sampai tujuan. Waktu tempuh hampir 4 jam. Hampir dua kali dari waktu tempuh normal. Peserta dikumpulkan untuk terlebih dahulu bermain game outbound. Permainan outbound keluarga yang menyenangkan. Ana senang. Ana gembira.
Jam menunjukkan lewat jam satu siang. Ana mulai lapar. Semua peserta sudah kelelahan. Panitia mengumpulkan semua peserta ke pendapa besar, tempat untuk rekoleksi bersama romo pendamping. Tempat itu juga menjadi tempat untuk makan siang bersama.
Semua peserta sudah berkumpul. Semua peserta duduk di atas tikar bersama-sama. Peserta menunggu konsumsi dibagikan. Ana juga menunggu mama dan kakak sebelum membuka bekal makan siangnya. Papa sudah mengijinkan Ana untuk membuka bekal makan siangnya dan memulai duluan, tapi Ana masih tetap bersabar untuk membuka bersama mama, papa, dan kakak.
Mama dan kakak Ana belum datang. Begitupun konsumsi yang mereka bawa. Peserta mulai berbisik membicarakan konsumsi yang belum datang. Di depan panggung, panitia juga mulai berkumpul membicarakan sesuatu. Romo pendamping juga ikut dalam diskusi itu. Ana melihatnya bingung.
Papa Ana bilang kalau Ana mau, Ana boleh makan duluan. Papa Ana bilang kalau mama dan kakak Ana masih terjebak macet bersama dengan konsumsi yang mereka bawa. Jadi, konsumsi akan datang terlambat.
Ana melihat ke depan panggung. Ana melihat wajah kakak panitia dan wajah romo pendamping yang khawatir. Ana berdiri dari tikar dan membawa kotak bekal makan siangnya. Ana berlari kecil menuju depan panggung. Anak kecil yang berlari terlihat sangat mencolok dari kerumunan peserta yang semuanya sedang duduk bersila beralas tikar.
Ana menarik baju romo. Ana memberikan kotak bekalnya kepada romo.
Ana berkata, “Ana punya roti lapis tuna 5, romo dan kakak pendamping makan dulu saja, sambil tunggu mama datang bawa makanan”
Romo pendamping tersenyum. Romo pendamping mengambil kotak bekal makanan Ana, membukanya dan mulai berdoa untuk memberkati roti lapis tuna yang diberikan oleh Ana.
Semua orang melihat apa yang dilakukan Ana. Semua orang tidak mendengar apa yang dikatakan Ana pada romo. Hanya romo dan panitia yang mendengar apa yang dikatakan Ana.
Setelah memberkati roti lapis tuna Ana, romo berniat untuk mengembalikannya kepada Ana, tapi Ana sudah berbalik badan dan berlari kembali ke tikar, tempat papanya menunggu. Papa Ana melihat apa yang dilakukan Ana sambil tersenyum bangga.
Gestur kecil itu mengundang anak-anak lain yang juga membawa bekal untuk maju ke depan. Ada yang maju sendiri. Ada yang maju bersama teman-teman, Ada yang maju dengan ayah-ibu nya. Semuanya mengumpulkan bekal yang mereka bawa untuk kemudian diberkati oleh romo.
Semakin lama, semakin banyak bekal yang terkumpul. Panitia mulai bergerak membagikan bekal-bekal itu pada semua peserta secara acak. Semakin dibagi, semakin banyak anak-anak yang membawa bekal yang mereka bawa untuk diberkati di depan panggung.
Ditengah kesibukan itu, panitia pembawa konsumsi datang. Mereka membawa makanan yang sudah mereka siapkan. Mereka terjebak macet sehingga datang sangat terlambat. Panitia mulai bekerja keras membagi makanan yang disediakan panitia dan makanan yang diberikan oleh anak-anak kepada semua peserta.
Semua peserta sudah mendapat makanan. Makanan yang belum terbagi masih banyak. Panitia masih bisa membagi makanan-makanan itu untuk petugas keamanan, petugas kebersihan, dan pengunjung-pengunjung lain yang juga datang di tempat piknik tersebut. Tidak ada makanan yang terbuang, tidak ada yang tidak dapat makanan.
Acara dapat dilanjutkan, walaupun sedikit mulur dari jadwal. Rekoleksi bisa dilanjutkan setelah semua peserta makan siang. Semua bahagia, semua senang.
Ana hanya membagikan bekal makan siangnya untuk orang lain. Sikap sederhana ini kemudian menggerakkan hati banyak orang. Semuanya mau ikut untuk berbagi.
Dari Ana kita belajar kalau berkat bisa saja datang ketika kita mau berkorban dan berbagi. Semua peserta bisa makan, semua pengunjung dapat makan siang, hanya karena gesture kecil dari Ana kecil yang mau berbagi.
Peneliti biologi molekuler di perusahaan swasta. Alumnus Universitas Surabaya dan Universitas Gadjah Mada. Ia punya hobi menulis.