Kisah Para Rasul 20:28-38; Yohanes 17:11b-19
Katolikana.com – Menjelang sengsara dan wafat-Nya, Yesus tidak memikirkan diri-Nya sendiri. Ia berdoa. Isi doa-Nya bukan memohon supaya dilepaskan dari penderitaan, melainkan untuk para murid yang akan ditinggalkan.
Inilah tanda pertama dari seorang pemimpin sejati: ia tidak berfokus pada keselamatannya sendiri, melainkan pada keselamatan orang-orang yang dipimpinnya.
Mohon menjaga para murid
Yesus memulai dengan memohon kepada Bapa agar memelihara dan menjaga para murid-Nya. Dalam Yohanes 17:11b-12, Yesus berkata, “Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.”
Seorang pemimpin sejati tidak mengandalkan kekuatannya sendiri untuk melindungi anak buahnya. Ia menyadari keterbatasannya dan menyerahkan mereka kepada Tuhan yang jauh lebih besar dan lebih kuasa.
Pemeliharaan iman
Pemeliharaan yang Yesus minta bersifat mendalam. Bukan sekadar perlindungan fisik dari bahaya, melainkan memelihara iman dan kesatuan di antara para murid. Yesus tahu bahwa setelah kepergian-Nya, mereka akan menghadapi berbagai tekanan yang dapat memecah belah mereka.
Doa pemimpin sejati selalu mencakup permohonan agar kesatuan dan integritas spiritual tetap terjaga di tengah gelombang kehidupan.
Selanjutnya, Yesus meminta agar Allah Bapa melindungi mereka dari yang jahat. “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.” (Yohanes 17:15).
Tidak melepaskan dari pergumulan hidup
Ini pelajaran penting bahwa pemimpin sejati tidak melarikan diri dari realitas dunia yang keras. Ia tidak memisahkan para pengikutnya dari pergumulan hidup.
Sebaliknya, ia memohonkan kekuatan bagi mereka untuk tetap tegar di tengah dunia tanpa harus menjadi bagian dari kejahatan.
Permohonan ini menunjukkan pengakuan bahwa ada kuasa kegelapan yang nyata dan aktif berusaha menjatuhkan kaum beriman. Seorang pemimpin rohani sejati tidak naif tentang adanya kejahatan. Ia tidak berpura-pura bahwa semua baik-baik saja.
Dengan jujur, ia mengakui ancaman tersebut dan membawa pengikutnya kepada Tuhan yang sanggup melindungi dari kuasa jahat yang tidak terlihat namun nyata dampaknya.
Firman-Mu adalah kebenaran
Doa ketiga Yesus sungguh luar biasa. Dia berdoa, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran” (Yohanes 17:17). Pengudusan itu proses memisahkan dari dosa dan menyerah total kepada kehendak Allah. Pemimpin sejati tidak hanya menginginkan agar para pengikutnya selamat secara instan, tetapi juga semakin serupa dengan Kristus hari demi hari. Ia merindukan pertumbuhan karakter, bukan sekadar kenyamanan hidup.
Ketiga doa ini menunjukkan satu pola yang konsisten: Yesus sepenuhnya memercayakan para murid kepada Allah Bapa. Tidak ada satu kalimat pun dalam doa-Nya yang menunjukkan bahwa Ia mengandalkan kemampuan murid-murid untuk menjaga diri mereka sendiri. Sebaliknya, Ia menyerahkan mereka ke dalam tangan Bapa yang sanggup menjaga dan menguduskan. Inilah kerendahan hati seorang pemimpin sejati—kesadaran bahwa hanya Tuhan yang sanggup memelihara, melindungi, dan menguduskan.
Berlutut di hadapan Bapa
Yesus mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari popularitas, kekayaan, atau prestasi duniawi. Ukurannya adalah sejauh mana pemimpin itu memikirkan keselamatan jiwa para pengikutnya. Dan cara melakukannya bukan dengan mengendalikan mereka, melainkan dengan berlutut di hadapan Bapa dan memohonkan hal-hal terbaik bagi mereka. Itu adalah panggilan bagi setiap kita yang ingin menjadi pemimpin sejati untuk lebih banyak berdoa daripada memerintah, dan lebih percaya pada Allah daripada kemampuan diri sendiri.
Rabu, 20 Mei 2026
HWDSF
Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.