Surakarta, Katolikana.com – Komunitas Katekis Paroki Santa Maria Kartasura adakan temu katekis dengan Komunitas Katekis Paroki Santo Paulus Kleco (Komberkat) dalam tajuk “On Going Formation dan Srawung Katekis”.
Tujuan On Going Formation (OGF) dan Srawung Katekis Paroki Santa Maria Kartasura dan Paroki Santo Paulus Kleco untuk mempererat persaudaraan dan meningkatkan katekese. Acara ini terselenggara pada Rabu, 20 Mei 2026, pukul 18.00 -21.00 WIB bertempat di Aula Adrianus Paroki Santa Maria Kartasura.
Hadir dalam acara ini Katekis dari Paroki Santa Maria Kartasura sebanyak 25 orang dan dari Paroki Santo Paulus Kleco sebanyak 25 orang. Pendamping Romo Gregorius Kriswanta, Pr dari Paroki Santa Maria Kartasura.
Acara ini berawal dari perjumpaan antara Koordinator Tim Pelayanan Katekis Paroki Santa Maria Kartasura, Yohanes Ageng Wibowo, dengan Koordinator Tim Pelayanan Katekis Paroki Santo Paulus Kleco, Yolenta Sari, dalam pertemuan kolasi di Gereja St. Pius X Karanganyar.
Berawal dari pertemuan itu membuahkan ide untuk bersinergi dan mengadakan kegiatan “srawung”.
Srawung adalah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti berkumpul atau bertemu. Lebih dari sekadar pertemuan interaksi fisik, srawung mengandung filosofi mendalam tentang sambung rasa (membangun ikatan emosional), bertukar pikiran, dan menjalin silaturahmi untuk mempererat persaudaraan.
Temu katekis ini menyatukan dua paroki, saling meneguhkan dan bersama mempersiapkan diri menjadi katekis yang dirindukan di zaman ini, bekerja sama satu dengan yang lain, membahagiakan, menginspirasi dan meningkatkan kompetensi serta mempererat persaudaraan.
Kegiatan ini menjadi jalan sinodal dan dialog untuk semakin meneguhkan pelayanan di paroki masing-masing.
Sharing dua putaran
Dalam pertemuan ini diadakan sesi sharing 2 putaran.
Sesi 1, membahas : “Tantangan dan kebahagiaan katekis”
Sesi 2, membahas :”Model katekis yang diharapkan di zaman ini, dan harapannya bagi komunitas katekis”.
Sesi 3, peneguhan dari Romo Gregorius Kriswanta, Pr.
Dalam peneguhan Romo Gregorius Kriswanta, Pr menyampaikan bahwa peran katekis dalam Gereja sebagai ujung tombak pewartaan. Katekis mengembalikan identitas gereja yaitu persaudaraan dalam Kristus. Dalam melaksanakan tugas pelayanan katekis bersinodal dan berdialog.
Katekis adalah seorang pendamping tidak hanya pendidik tetapi seorang pendamping seperti Yesus yang mendampingi umat dalam perjalanan ke Emaus.
Ada hal khusus dan menarik dalam pertemuan antara katekis dua paroki ini. Yolenta Sari, menyampaikan bahwa temu katekis dua paroki menarik karena bisa memahami tantangan yang dialami katekis.
Tantangan yang dihadapi hampir sama : Waktu, cuaca dan teknologi.
Selain itu dalam pertemuan ini juga dibahas mengenai ensiklik terbaru yg dikeluarkan Paus Leo XIV tentang Artificial Intellegence (AI) yang menjadi pesan pada hari komunikasi sosial sedunia.
Nota Pastoral KAS
Nota Pastoral Ardas IX Keuskupan Agung Semarang (2026–2030) menekankan peran katekis dalam membentuk umat yang beriman , Cerdas, Tangguh, Misioner, dan Dialogis CTMD).
Katekis dipandang sebagai ujung tombak Gereja. Umat Allah KAS sebagai persekutuan paguyuban murid Kristus berjalan bersama dalam semangat sinodalitas.
Peran Katekis dalam Ardas IX
Formasi iman, katekis diharapkan mengembangkan formasio iman fundamental, eklesial, total, dan integral agar umat beriman semakin cerdas dan tangguh.
Selain itu katekis diharapkan mampu memiliki sikap visioner dan dialogis. Katekis menjadi fasilitator yang menumbuhkan semangat pewartaan dan keterbukaan terhadap dialog lintas iman.
Sebagai pendamping umat kecil, lemah, miskin, tersingkir, difabel (KLMTD), katekis dituntut membangun semangat bela rasa dan kerjasama lintas bidang.
Pada zaman ini, katekis diajak memiliki semangat adaptasi terhadap teknologi, perlu menguasai media digital untuk reksa pastoral yang efektif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Sedangkan untuk sinodalitas, katekis berperan sebagai penggerak communion of communities (paguyuban-paguyuban murid Kristus) yang berjalan bersama.
Tantangan dan Catatan Penting
Romo Gregorius Kriswanta, Pr dalam srawung katekis mengingatkan adanya beberapa resiko, tantangan dan hal-hal penting yang perlu menjadi kajian bersama katekis.
Resiko formalitas: Katekis bisa terjebak hanya pada rutinitas tanpa memperhatikan konteks hidup umat.
Kebutuhan pelatihan: Diperlukan program formasi berkelanjutan agar katekis siap menghadapi isu sosial, budaya, dan teknologi.
Sinodalitas nyata: Katekis harus menghindari pola hierarkis lama, dan benar-benar membangun kebersamaan umat.
Dalam Nota Pastoral Ardas IX KAS menegaskan bahwa katekis bukan sekadar pengajar iman, tetapi fasilitator sinodalitas, penggerak pastoral digital, dan pendamping umat yang lemah.
Peran ini sangat strategis untuk mewujudkan Gereja di KAS menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan. (*)
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta