Ketika Jari Lebih Cepat daripada Empati

Oleh Shinta Lukito

Katolikana.com—Dahulu, orang tua kita sering mengingatkan, “Mulutmu, harimaumu.” Pesannya sederhana, tetapi dalam: berhati-hatilah dengan ucapan, sebab kata-kata yang sudah keluar tidak mudah ditarik kembali.

Kini, di tengah kehidupan digital yang serba cepat, pepatah itu mendapat bentuk baru: “Jarimu, harimaumu.” Satu sentuhan pada layar bisa mengirim gambar, video, komentar, atau kabar duka kepada ribuan orang dalam hitungan detik.

Jari yang tampak kecil ternyata dapat membawa akibat besar. Ia bisa menjadi alat solidaritas, tetapi juga dapat berubah menjadi pisau yang mengoyak martabat orang lain.

Setiap kali tragedi terjadi, terutama tragedi yang menyita perhatian publik, media sosial segera berubah menjadi ruang riuh. Foto korban beredar. Video detik-detik kejadian dibagikan. Spekulasi bermunculan. Komentar datang lebih cepat daripada doa. Dalam situasi seperti itu, rasa ingin tahu sering bergerak lebih cepat daripada belas kasih.

Kita merasa sedang peduli karena membagikan informasi. Namun, tidak semua yang dibagikan sungguh menolong. Ada kalanya tombol “bagikan” justru memperpanjang luka keluarga korban, memperluas trauma publik, dan mengubah penderitaan manusia menjadi tontonan digital.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah jari kita sedang melayani kemanusiaan, atau justru sedang mendahului nurani?

Otak yang Terlatih Mengejar Bahaya

Mengapa manusia begitu cepat bereaksi terhadap kabar buruk? Psikologi sosial memberi satu penjelasan penting: negativity bias. Roy Baumeister menjelaskan bahwa manusia cenderung lebih cepat memberi perhatian pada informasi negatif daripada informasi positif.

Secara evolusioner, otak manusia memang dibentuk untuk mendeteksi ancaman. Kabar buruk, gambar tragis, atau visual yang mengejutkan segera memicu sistem kewaspadaan dalam diri kita.

Joseph LeDoux, ahli neurosains yang meneliti emosi dan otak, menjelaskan peran amigdala sebagai pusat alarm emosional. Ketika kita melihat peristiwa yang mengerikan, amigdala dapat bereaksi lebih cepat daripada bagian otak yang bertugas menimbang secara rasional.

Inilah yang sering disebut sebagai amygdala hijack, yaitu ketika reaksi emosional mengambil alih sebelum akal sehat sempat bekerja.

Akibatnya, jari kita bergerak lebih cepat daripada pertanyaan moral. Kita membagikan video kecelakaan sebelum bertanya apakah keluarga korban siap melihatnya. Kita meneruskan foto jenazah sebelum memikirkan martabat orang yang meninggal. Kita memberi komentar keras sebelum memahami konteks yang sebenarnya.

Daniel Kahneman, melalui gagasan System 1 dan System 2, membantu menjelaskan gejala ini. Ada cara berpikir yang cepat, spontan, dan emosional. Ada pula cara berpikir yang lambat, reflektif, dan hati-hati.

Masalahnya, media sosial dirancang untuk memanjakan cara berpikir yang pertama. Ia mendorong kecepatan, reaksi segera, dan keterlibatan instan. Di ruang seperti itu, jeda menjadi tindakan moral yang semakin langka.

Dopamin dan Ilusi Kepedulian

Ada sisi lain yang perlu kita akui dengan jujur. Kadang kita membagikan kabar duka bukan semata-mata karena ingin membantu, tetapi karena ingin terlihat tahu lebih dulu. Ada kepuasan kecil ketika unggahan kita ramai, ketika orang lain memberi komentar, ketika notifikasi terus berdatangan. Otak menerima rangsangan dopamin, lalu kita merasa sedang melakukan sesuatu yang berarti.

Padahal, bisa jadi kita hanya sedang mengejar validasi sosial.

Di media sosial, tragedi mudah bergeser dari peristiwa kemanusiaan menjadi panggung keterlibatan digital. Korban yang seharusnya didoakan dan dihormati berubah menjadi konten. Duka yang seharusnya dirawat dengan hening berubah menjadi bahan percakapan yang bising. Kita menyebutnya kepedulian, tetapi bentuknya sering kali tidak berbeda jauh dari konsumsi visual atas penderitaan orang lain.

Kepedulian sejati tidak selalu harus tampil. Ia kadang justru bekerja dalam keputusan untuk menahan diri. Tidak semua foto harus dibagikan. Tidak semua video harus diteruskan. Tidak semua komentar harus ditulis. Di era digital, salah satu bentuk empati tertinggi adalah kemampuan untuk tidak menekan tombol “bagikan”.

Trauma yang Menular Lewat Layar

Judith Lewis Herman, dalam kajiannya tentang trauma, menunjukkan bahwa paparan terhadap penderitaan orang lain dapat meninggalkan bekas psikologis.

Orang yang tidak mengalami langsung sebuah tragedi tetap dapat mengalami dampak emosional melalui paparan berulang terhadap gambar, cerita, atau video yang menyakitkan. Fenomena ini sering disebut trauma sekunder atau vicarious trauma.

Artinya, ketika visual tragis disebarkan tanpa sensor dan tanpa pertimbangan, dampaknya tidak berhenti pada korban dan keluarga. Publik yang menyaksikan pun dapat ikut terluka. Anak-anak yang tidak siap melihat kekerasan bisa menyimpan ketakutan. Orang yang pernah mengalami kecelakaan dapat mengalami kilas balik. Mereka yang sedang rapuh secara psikologis bisa terdorong kembali ke dalam kecemasan atau depresi.

Setiap orang memiliki daya tahan yang berbeda. Dan Siegel menyebutnya sebagai window of tolerance, yaitu rentang kemampuan seseorang untuk menghadapi tekanan emosional. Ketika sebuah peristiwa masih berada dalam rentang itu, seseorang mungkin tetap mampu berpikir jernih. Namun ketika tekanan melampaui batasnya, orang dapat masuk ke kondisi panik, marah, mati rasa, atau menarik diri.

Di titik ini, kita perlu lebih rendah hati dalam menilai reaksi orang lain. Ada orang yang tampak kuat menghadapi kabar duka. Ada yang langsung hancur. Ada yang marah. Ada yang diam. Ada yang memilih menjauh dari media sosial. Perbedaan itu tidak selalu menunjukkan lemahnya iman atau kurangnya kedewasaan. Bisa jadi fondasi psikologis setiap orang memang berbeda.

Bayangkan dua gedung yang berdiri berdampingan lalu diguncang gempa dengan kekuatan yang sama. Gedung pertama runtuh, sedangkan gedung kedua hanya retak di beberapa bagian. Apakah gempanya memihak? Tidak. Gempanya sama. Yang berbeda adalah fondasi, struktur, kualitas bangunan, dan kondisi yang tidak selalu terlihat dari luar.

Trauma adalah gempanya. Kondisi psikologis kita adalah arsitektur bangunannya. Karena itu, kita tidak pantas menghakimi “gedung” yang runtuh hanya karena gedung lain tampak masih berdiri.

Jari yang Sama Bisa Menjadi Berkat

Meski demikian, media sosial tidak perlu dilihat semata-mata sebagai ruang yang gelap. Jari yang sama, yang dapat melukai, juga dapat menjadi sarana belarasa. Melalui media sosial, orang dapat menggalang donasi, mencari informasi keluarga korban, menyebarkan nomor bantuan, mengajak doa bersama, dan mendesak perbaikan sistem keselamatan publik.

Persoalannya bukan terletak pada teknologinya saja, tetapi pada disposisi batin manusia yang menggunakannya. Christian Lous Lange pernah mengingatkan bahwa teknologi dapat menjadi pelayan yang sangat berguna, tetapi juga bisa menjadi tuan yang berbahaya.

Peringatan ini terasa semakin relevan hari ini. Teknologi menjadi pelayan ketika ia membantu kita merawat kehidupan. Ia menjadi tuan ketika kita membiarkan algoritma, impuls, dan hasrat tampil mengendalikan nurani.

Maka, sebelum membagikan informasi tentang tragedi, kita perlu membiasakan diri pada jeda kecil. Lima detik saja sering cukup untuk mengembalikan akal sehat. Dalam jeda itu, tanyakan beberapa hal sederhana.

Apakah informasi ini benar? Apakah visual ini menghormati martabat korban? Apakah keluarga korban akan semakin terluka jika melihatnya? Apakah unggahan ini sungguh menolong, atau hanya membuat saya terlihat peduli?

Jika jawabannya meragukan, biarkan rantai informasi itu berhenti di jari kita.

Kita tidak selalu dapat menghentikan tragedi. Namun, kita dapat mencegah duka menjadi tontonan. Kita tidak selalu mampu menyembuhkan luka keluarga korban. Namun, kita dapat menjaga agar luka itu tidak dibuka berulang-ulang di ruang publik digital.

Belarasa Digital

Iman Kristiani mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Martabat itu tidak hilang ketika seseorang menjadi korban kecelakaan, bencana, kekerasan, atau tragedi publik. Bahkan dalam kematian sekalipun, tubuh manusia tetap layak dihormati. Duka keluarga tetap perlu dijaga. Air mata sesama tidak boleh dijadikan bahan konsumsi massal.

Karena itu, belarasa digital tidak cukup berhenti pada doa yang ditulis di kolom komentar. Belarasa digital menuntut disiplin batin: menahan diri, memeriksa kebenaran, menghormati korban, menjaga keluarga yang berduka, dan menggunakan media sosial untuk menguatkan kehidupan.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, empati membutuhkan keberanian untuk melambat. Di tengah algoritma yang mendorong kita terus bereaksi, kasih menuntut kita untuk berpikir. Di tengah banjir informasi, iman memanggil kita menjadi penjaga martabat manusia.

Jari kita memang kecil. Namun, melalui jari itulah kita memilih menjadi bagian dari luka atau bagian dari pemulihan.

Kasih sejati tidak diukur dari seberapa cepat kita membicarakan penderitaan sesama, tetapi dari seberapa lembut kita menjaga martabat mereka ketika duka sedang berlangsung. (*)

Penulis: Shinta Lukito, peminat dan pembelajar psikologi.

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Comments (0)
Add Comment