Mengakui dan Berkomitmen Terhadap Iman.

Matius 7:6.12-14

 

Katolikana.com – Mengapa hari ini Gereja menyajikan perikop pengakuan iman dan komitmen beriman?
Melewati ayat; melompat dari ayat 6 ke ayat-ayat 12 hingga 14? Apa makna dan bagaimana ayat-ayat itu terhubung satu sama lain? Lalu, apa pesannya bagi kita?

Hal ini didasarkan pada konteks yang lebih dekat dengan Khotbah di Bukit. Perikop itu mengajarkan tentang kebijaksanaan rohani. Ayat-ayat itu mengingatkan bahwa menjadi pengikut Kristus bukan hanya soal mengakui iman, melainkan juga mewujudkannya dalam tindakan nyata. Selain itu menuntut komitmen pribadi yang sungguh-sungguh.

Tiga hal berikut membantu memaknai lebih jauh.

Kebijaksanaan dalam memberikan kebenaran

Ayat 6 menggunakan kiasan “anjing” dan “babi” yang dalam budaya Yahudi adalah hewan najis. Mereka ini melambangkan orang yang menolak kebenaran Allah. Sedang “barang kudus” dan “mutiara” melambangkan Injil yang sangat berharga.

Makna rohaninya adalah ajakan untuk hati-hati dan penuh hikmat dalam membagikan kebenaran, tidak boleh memaksakan hal suci kepada mereka yang terus-menerus menolaknya. Mengapa? Karena hal itu bisa berbahaya.

Hukum Kasih

Ayat 12 dikenal sebagai “Hukum Emas” dan mengajarkan untuk memperlakukan orang lain sebagaimana diri pribadi ingin diperlakukan.

Ini merangkum seluruh ajaran Taurat dan kitab para nabi, serta menekankan kasih aktif sebagai dasar etika Kristen.

Jalan hidup yang sempit

Ayat 13-14 mengajarkan ajaran rohani: bahwa jalan menuju kehidupan itu sempit dan hanya sedikit yang menemukannya. Ini tampak dalam fakta bahwa pengikut Kristus adalah minoritas yang menempuh jalan menyangkal diri dan taat secara penuh; berbeda dari mereka yang mengikuti jalan luas yang banyak dilewati orang tetapi menuju kebinasaan.

Secara keseluruhan, ketiga bagian ini saling melengkapi. Kita dipanggil untuk memiliki hikmat (ayat 6), mengasihi secara aktif (ayat 12), dan berkomitmen pada jalan kebenaran yang tidak populer (ayat 13-14) sebagai wujud iman yang dewasa.

Mengakui iman tanpa takut
Jelas bahwa iman itu lebih dari pengetahuan atau pengakuan, melainkan sesuatu yang nyata dihayati.

Setiap orang Kristen dituntut untuk mengakui imannya tanpa takut dan berkomitmen terhadap pelaksanaannya.

Bagaimana selama ini kita menghayati iman kita?

Selasa, 23 Juni 2026
HWDSF

Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.

Masuklah melalui pintu yang sesak
Comments (0)
Add Comment