Yogyakarta,Katolikana.com – Di tengah dunia yang menghadapi polarisasi, konflik berkepanjangan, disrupsi teknologi, serta berbagai tantangan kemanusiaan, dua tokoh dengan latar belakang berbeda menyampaikan pesan yang berpadu dalam satu semangat.
Masa depan dunia, menurut mereka, membutuhkan pemimpin yang berani memeriksa dirinya sendiri, membangun dialog, dan menempatkan martabat manusia di atas kepentingan maupun kekuasaan. Kongres ini mengangkat pentingnya dialog, rekonsiliasi, dan kepemimpinan yang melayani.
Berdasarkan Siaran Pers yang diterima Katolikana.com pada Kamis (30/7/2026), pesan tersebut disampaikan pada Kongres XI World Union of Jesuit Alumni (WUJA) di Yogyakarta, yang diikuti oleh lebih dari 1.000 delegasi alumni Jesuit dari 30 negara. Mengusung tema “United in Spirit, Leading with Purpose”.
Kongres ini menjadi ruang perjumpaan alumni sekolah pendidikan Jesuit lintas negara, budaya, profesi, dan generasi untuk mendiskusikan tantangan kepemimpinan di tengah perubahan dunia yang semakin kompleks.
Benang merah tentang kepemimpinan
Meski berangkat dari latar belakang yang berbeda, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Pater Arturo Sosa, S.J. menyampaikan benang merah yang sama tentang kepemimpinan.
Kepemimpinan sejati tidak lahir dari dominasi ataupun kekuasaan, melainkan dari kebijaksanaan, kerendahan hati, dan keberanian melayani sesama.
Bagi keduanya, seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu mengambil
keputusan, tetapi juga membangun rekonsiliasi, menjaga martabat manusia, dan menghadirkan harapan di tengah dunia yang semakin terfragmentasi.
Pada pidato pembukaannya, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan
Hamengku Buwono X mengajak para peserta melihat kembali makna kepemimpinan melalui refleksi diri.
Hamemayu Hayuning Bawana
Menurut Sri Sultan, perubahan besar tidak pernah dimulai dari ambisi mengubah dunia, melainkan dari keberanian manusia memeriksa cara dirinya memandang dunia.
Mengutip falsafah Jawa Hamemayu Hayuning Bawana, Sri Sultan HB X
menekankan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan
intelektual atau kewenangan, tetapi juga kebijaksanaan untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kehidupan bersama.
Di tengah derasnya arus informasi dan kebisingan dunia modern, keheningan menjadi ruang untuk menemukan kejernihan berpikir, mendengar suara hati, dan mengambil keputusan yang berpihak pada kemanusiaan. “Sebelum memperbaiki dunia, manusia perlu berani memeriksa caranya memandang dunia,” ungkap Sri Sultan HB X.
Pesan tersebut kemudian diperkuat oleh Pater Jenderal Serikat Jesus, Arturo
Sosa, S.J., yang menyampaikan pidato utama mengenai panggilan para alumni Jesuit untuk menjadi agen rekonsiliasi, keadilan, dan harapan di tengah berbagai tantangan global.
Menjaga martabat manusia
Menurut Pater Arturo, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari gelar ataupun prestasi akademik, melainkan dari pribadi yang dibentuk setelah seseorang kembali ke tengah masyarakat. Ia kemudian mengutip mendiang Pater Peter-Hans Kolvenbach, S.J., dalam deklarasi tahun 2000, Pater Arturo menegaskan, ukuran sejati pendidikan Jesuit adalah bagaimana para alumninya menggunakan pengetahuan, pengalaman, dan kepemimpinan mereka untuk menjaga martabat manusia, membangun rekonsiliasi, serta menghadirkan kehidupan yang lebih adil dan selaras bagi semua.
Berbagai tantangan
Dalam pidatonya, Pater Arturo juga mengingatkan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan yang saling berkaitan, mulai dari perang, perubahan iklim, perkembangan kecerdasan buatan, hingga meningkatnya polarisasi sosial.
Menurutnya, tantangan tersebut tidak dapat dijawab hanya dengan kemajuan teknologi atau kekuatan ekonomi, tetapi membutuhkan pemimpin yang mampu membangun dialog, mempertemukan berbagai perbedaan, dan mengutamakan martabat manusia dalam setiap pengambilan keputusan.
Kongres XI WUJA berlangsung 29 Juli 2026 hingga 2 Agustus 2026 dengan berbagai agenda yang mempertemukan para alumni Jesuit dari berbagai belahan dunia.
Momentum ini menjadi tonggak penting bagi Indonesia sebagai negara Asia pertama yang dipercaya menjadi tuan rumah World Union of Jesuit Alumni sejak organisasi tersebut berdiri 70 tahun lalu.
Semangat kolaborasi lintas negara Kehadiran ribuan alumni Jesuit dari berbagai belahan dunia mencerminkan semangat kolaborasi lintas negara dalam menjawab tantangan global melalui nilai nilai pendidikan Jesuit yang mengedepankan kemanusiaan, kepemimpinan, dan pelayanan.
World Union of Jesuit Alumni (WUJA) merupakan organisasi yang beranggotakan perkumpulan-perkumpulan alumni sekolah dan universitas pendidikan Jesuit dari seluruh dunia untuk membangun jejaring internasional, berkontribusi pada misi Serikat Jesus, serta memperkuat dinamika universal pendidikan Serikat Jesus.
Nilai-nilai Ignasian dan humanis
Melalui kongres dunia yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali, WUJA menghadirkan ruang dialog mengenai berbagai isu global berdasarkan nilai-nilai Ignasian dan humanis yang menjadi ciri khas pendidikan Serikat Jesus.
Kongres XI WUJA di Yogyakarta menjadi momentum istimewa karena bertepatan dengan peringatan 70 tahun World Union of Jesuit Alumni.
Mengusung semangat kolaborasi global, WUJA 2026 dirancang sebagai Leaders’ Summit yang bertujuan membangun jejaring alumni Jesuit yang semakin kuat, memperluas kemitraan yang memberikan dampak nyata bagi Jesuit dan masyarakat luas, serta mendiskusikan berbagai tantangan dan peluang yang akan membentuk masa depan yang lebih baik.
Penyelenggaraan WUJA 2026 juga mencatat sejarah sebagai kongres WUJA pertama yang berlangsung di kawasan Asia, dengan Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah.
Memadukan agenda akademis, spiritual dan budaya
Perhelatan Kongres WUJA XI berlangsung selama lima hari, dengan rangkaian acara memadukan agenda akademis, spiritual dan budaya mulai dari penyambutan di USD Yogyakarta, pembukaan bernuansa tradisi Jawa di Gereja Ganjuran, kunjungan ke Candi Borobudur, hingga malam puncak peringatan HUT ke-70 WUJA. (*)
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta