Menyemaikan Karakter Anak Terang, Kemeriahan Ekaristi Pembukaan Tahun Ajaran Baru di Paroki Tegalrejo Salatiga

Misa Tahun Ajaran Baru di Paroki Kristus Raja Semesta Alam, Tegalrejo, Salatiga

 

Suasana khidmat sekaligus penuh sukacita membungkus Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Semesta Alam (GKRSA) Tegalrejo. Ratusan anak sekolah berkumpul untuk mengawali langkah mereka di tahun ajaran baru 2026/2027 melalui Ekaristi Pembukaan Tahun Pelajaran. Tidak kurang dari 500 pelajar, mulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK), memadati bangku-bangku gereja.

Salah satu dari dua paroki yang ada di Kota Salatiga, wilayah pelayanan Paroki Tegalrejo mencakup kawasan yang cukup luas, melintasi batas administratif antara Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang. Maka, perayaan pagi itu bukan sekadar perjumpaan antarumat se-paroki, melainkan representasi wajah generasi muda Katolik dari berbagai sudut wilayah perkotaan hingga pinggiran kabupaten yang bersatu dalam niat menimba ilmu.

Mengolah Rasa Syukur dan Pengharapan

Ekaristi yang dipimpin oleh Rama Walidi, MSF ini diawali dengan ajakan mendalam pada bagian pengantar. Beliau mengajak seluruh siswa, orang tua, serta pendamping untuk sejenak menengok ke belakang dan mengolah rasa syukur atas dinamika tahun ajaran yang telah lewat. Keberhasilan menaik ke kelas yang lebih tinggi, kelulusan, hingga keberanian untuk melangkah ke jenjang pendidikan yang baru merupakan rahmat penyertaan Tuhan yang nyata.

Namun, syukur atas masa lalu tidak boleh berhenti menjadi romantisme belaka. Rama Walidi menekankan pentingnya membawa semangat itu menjadi pengharapan yang teguh untuk menapaki tahun ajaran yang baru. Sukses dalam proses belajar yang telah lewat hendaknya menjadi fondasi dan pemantik optimisme agar proses belajar di masa mendatang dapat dilalui dengan tidak kalah gemilang.

Kejujuran dan Doa: Dua Pilar Anak-Anak Terang

Dalam perayaan Ekaristi tersebut, mengudara sebuah tema besar yang menjadi fondasi permenungan: “Hiduplah sebagai Anak-Anak Terang”. Melalui homili yang dikemas secara interaktif dan komunikatif, Rama Walidi menjalin dialog hangat dengan para siswa, menciptakan suasana katekese yang hidup dan tidak kaku. Beliau menggarisbawahi dua pesan utama bagi para pelajar dalam menghidupi karakter terang tersebut.

  • Kejujuran sebagai Fondasi Iman

Pesan pertama yang digarisbawahi secara tegas adalah kejujuran. Di dunia pendidikan, kejujuran paling nyata diuji melalui hal-hal sederhana namun krusial, salah satunya adalah keberanian untuk tidak menyontek. Rama Walidi mengingatkan agar anak-anak tidak pernah menyesal atau merasa rugi ketika memilih bersikap jujur, meskipun berada di tengah lingkungan yang mungkin belum sepenuhnya menghargai nilai tersebut. Kejujuran bukanlah sekadar hiasan moral, melainkan dasar utama pembentukan karakter seorang beriman.

  • Doa Rutin sebagai Kompas Kehidupan

Pesan kedua menekankan pentingnya membangun relasi yang dekat dengan Tuhan melalui doa yang rutin. Pendidikan spiritual tidak boleh terpisah dari kehidupan akademis. Doa harian hendaknya menjadi fondasi tempat anak-anak bersandar dalam suka maupun duka selama menuntut ilmu. Ketika seorang pelajar memiliki relasi yang akrab dengan Tuhan, maka kedekatan itu akan bertindak sebagai kompas kehidupan—penunjuk arah moral yang menjaga mereka agar tidak tersesat di tengah arus zaman.

Terang yang Menunjukkan Arah Kebaikan

Lebih lanjut, homili tersebut menukik pada esensi sejati dari pendidikan itu sendiri. Rama Walidi mengingatkan bahwa tujuan akhir pendidikan bukanlah sekadar mengumpulkan nilai di atas kertas atau menumpuk pengetahuan intelektual, melainkan membangun karakter. Karakter tersebut bukan sekadar sifat yang sesekali muncul, melainkan harus mengejawantah menjadi sebuah gaya hidup (lifestyle).

Karakter anak terang memiliki fungsi yang sangat konkret: membantu untuk melihat dan menunjukkan arah. Sebagaimana nyala lampu di tengah kegelapan, terang dalam diri seorang pelajar harus diwujudkan melalui perbuatan-perbuatan baik. Kebaikan yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari—baik di lingkungan sekolah, di tengah keluarga, maupun di dalam masyarakat—adalah bukti paling nyata bahwa seorang anak Katolik telah benar-benar hidup sebagai anak terang.

Momen Perpisahan dan Sukacita yang Utuh

Kemeriahan Ekaristi ini terasa semakin berkesan sekaligus mengharukan di akhir perayaan. Ibu Ana Evanti, selaku Ketua Tim Pelayanan Pendidikan Paroki Kristus Raja Semesta Alam Tegalrejo, menyampaikan ungkapan terima kasih yang mendalam kepada seluruh siswa yang hadir penuh semangat, para guru pendamping, serta orang tua.

Secara khusus, ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya ditujukan kepada Rama Walidi, MSF. Ekaristi Pembukaan Tahun Ajaran ini menjadi perayaan pungkasan yang beliau pimpin di Paroki Tegalrejo sebelum bertugas di tempat pelayanan yang baru. Di tengah kesibukan mempersiapkan kepindahan dan mengemas barang-barang, beliau masih meluangkan waktu, tenaga, dan cintanya untuk menyapa serta menguatkan anak-anak Katolik di wilayah ini.

Suasana haru perpisahan dipadu kembali dengan keceriaan anak-anak sesaat sebelum Berkat Penutup. Dengan penuh semangat, Rama Walidi mengajak seluruh umat yang hadir untuk bernyanyi bersama lagu “Di Sini Senang, Di Sana Senang”. Suara gemuruh nyanyian ratusan anak bergema di dalam gereja, menutup perayaan dengan energi positif dan kegembiraan yang meluap.

Rangkaian Ekaristi pun diakhiri dengan berkat penutup dan sesi foto bersama—mengabadikan kenangan indah, sekaligus menandai langkah awal anak-anak Paroki Tegalrejo untuk siap berproses, belajar, dan menjadi terang di sekolah mereka masing-masing.

 

Bukan siapa-siapa.

gereja kristus raja semesta alam salatigaMisa Tahun Ajaran Baru
Comments (0)
Add Comment