Jakarta, Katolikana.com – Diskusi buku pendidikan Papua digelar Sabtu (1/8/2026) di Ruang Media Center KWI Jakarta. Diskusi berjalan lancar dari pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Hadir pula Uskup Keuskupan Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo.
Acara mengulas tuntas kisah perjuangan para guru perintis Papua. Penerbit Gramedia mendukung penuh peluncuran karya inspiratif ini. Buku pertama berjudul Kisah-Kisah Guru Perintis bagian 1 dan 2. Karya ini mencatat dedikasi guru era 1962 hingga 1980.
Buku kedua berjudul Hati yang Menyala di Ufuk Timur. Karya ini mengulas konsep Sekolah Kesadaran ala Jesuit. Kedua buku karya Bernada Rurit dan Pastor J. Sudrijanta SJ mendokumentasikan penerapan Pedagogi Ignatian di tanah Papua.
Berdasarkan press release yang diterima Katolikana.com, penulisan buku ini menyisakan banyak tantangan besar bagi penulis. Mereka berpacu dengan waktu mencari sisa-sisa Guru Perintis. Prosedur penelusuran lapangan berlangsung berat dan menegangkan. Penulis bahkan sempat dihadang oknum warga berparang di Papua.
Namun, tekad kuat berhasil melahirkan karya sejarah yang luar biasa.
Jurnalis senior Maria Hartiningsih mengapresiasi tinggi kehadiran buku ini. Ia menilai pengambilan data lapangan dalam buku sangat tidak mudah.
Merekam sejarah kemanusiaan yang berharga
“Proses penggalian data ini sangat sulit dan medannya berat,” ujar Maria.
Menurutnya, buku ini muncul di tengah gambaran Papua yang keras. Apalagi masyarakat baru saja dihebohkan oleh film Pesta Babi.
“Buku ini menjadi oase yang menampilkan sisi lain Papua,” tambahnya.
Buku ini dinilai berhasil merekam sejarah kemanusiaan yang sangat berharga.
Diskusi menghadirkan empat narasumber utama yang berkompeten. Bernada Rurit dan Romo J. Sudrijanta, S.J. membagikan pengalaman proses kepenulisan buku.
Tokoh pendidikan Papua, Ignatius Adii, turut memberikan pandangan mendalam. Turut hadir melalui Zoom guru perintis Suratmin dan Maria Eria. Acara dipandu oleh moderator Basil Triharyanto.
Perjuangan guru pedalaman kini menjadi oase harapan bangsa. Dedikasi mereka merupakan teladan nyata bagi pendidikan Indonesia.
Hadirkan tiga nilai utama dalam trilogi buku
Uskup Keuskupan Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, yang hadir secara langsung, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap penerbitan trilogi karya inspiratif ini.
“Buku ini muncul di tengah langka dan mahalnya idealisme pendidik,” ujar Mgr. Agustinus.
Ia menegaskan pentingnya kesaksian hidup para pendidik perintis Papua tersebut. Menurutnya, kesaksian hidup jauh lebih berpengaruh daripada sekadar teori pengajar.
“Manusia saat ini akan lebih mendengarkan saksi daripada pengajar,” tegasnya.
Ia menambahkan tiga nilai positif utama yang dihadirkan trilogi buku:
Kemartiran dan Keteladanan
Menghadirkan kesaksian nyata guru dan misionaris perintis. Pengalaman hidup mereka menjadi benih peneguh karya gereja.
Integritas dan Idealisme
Menampilkan daya tahan pendidik di tengah keterbatasan. Mereka mendidik anak Papua demi menumbuhkan harapan masa depan.
Kesetiaan dan Daya Tahan
Mengisahkan ketahanan berakar Pedagogi Ignasian dan spiritualitas.
Cinta anak Papua mampu melampaui segala tantangan dan ancaman.
“Cinta kepada anak-anak Papua melampaui keterbatasan, penderitaan, bahkan ancaman,” tambah Mgr. Agustinus.
Guru pengajar dan pemimpin lokal
Penulis buku, Bernada Rurit, membagikan proses panjang di balik penulisan trilogi. Tim riset mewawancarai hingga 125 narasumber di berbagai wilayah. Transkrip wawancara tersebut bahkan mencapai lebih dari 3000 halaman.
“Guru perintis bukan sekadar pengajar, tetapi juga pemimpin lokal,” tegas Bernada.
Ia menceritakan kisah para guru yang bertugas di medan ekstrem. Mereka harus berjalan kaki selama empat hari menuju lokasi bertugas. Bahkan, ada guru yang hanya dua kali turun kota dalam lima tahun.
“Jasa mereka begitu besar, tetapi bergerak dalam kesunyian,” ungkap Bernada.
Ia menambahkan bahwa kebaikan para guru perintis membuahkan hasil indah. Anak-anak para guru tersebut kini berhasil meraih kesuksesan hidup.
“Buku ini menjadi penghormatan abadi bagi dedikasi mereka,” pungkasnya.
Pondasi kuat pendidikan di Papua
Pastor J. Sudrijanta, S.J., penulis satunya memaparkan sejarah panjang pendidikan Katolik. Misi Katolik di Papua diawali kehadiran Pater Le Cocq pada 1894.
“Strategi misi Katolik selalu membangun gereja, sekolah, dan pelayanan kesehatan,” jelas Sudrijanta.
Ia mengungkapkan gelombang guru perintis berkembang pesat sejak era 1960-an. Sepanjang 1963–1968, terdapat 414 guru yang dikirim ke Papua. Sebagian besar guru perintis tersebut berasal dari sekolah guru di Yogyakarta.
“Pengorbanan mereka di daerah konflik menjadi fondasi kuat pendidikan Papua,” tegasnya. (*)
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta