Netizen dan Di Balik Fenomena Maling

Memaknai perllaku maling atau pencuri di era digital.

Katolikana.com – Bulan Juli 2026 ini, Masyarakat Indonesia diramaikan dengan berita kematian maling (pencuri) ayam taruhan yang dihakimi massa dan motornya ikut dibakar. Peristiwa ini terjadi di Tabanan, Bali. Pelaku tertangkap basah mencuri ayam dan massa menghakimi sampai tewas. Berita yang beredar pertama kali adalah tangis anak kecil yang memanggil “Bapak, bapak” ketika jenazah sang ayah hendak dimakamkan.

Sepotong berita di media massa itulah yang pada akhirnya membuat banyak orang bersimpati tanpa mencari tahu fakta sesungguhnya. Sangat disayangkan media nasional tidak menayangkan berita secara utuh, melainkan hanya mem-framing dengan lensa yang jernih jeritan seorang anak yang kehilangan ayahnya. Secara umum, tidak ada orang yang bahagia ketika ayahnya meninggal (kecuali sang ayah disfungsi).

Media nasional terlalu menekankan pada narasi pencuri ayam dihabisi massa karena ingin memenuhi kebutuhan hidup anak dan istri. Sekitar tiga hari kemudian, Polres Tabanan merilis bahwa sang ayah merupakan seorang residivis dan motor yang digunakan adalah motor hasil curian.

Mirisnya adalah, banyak influencer dan selebriti yang membela mati-matian sang keluarga residivis. Hanya dengan modal tangisan tanpa alasan yang jelas, mereka semua membabi buta membantu, mulai dari memberikan sembako, IPad, HP Iphone, motor, biaya pendidikan, sampai mau merenovasi rumah.

Menurut UU No.1 tahun 2023, residivis adalah pengulangan tindak pidana dalam waktu 5 tahun setelah selesai menjalani pidana atau pidana tersebut dihapuskan. Secara logika, sang residivis tahu betul konsekuensi yang akan dihadapi dengan melakukan pencurian tersebut. Sayangnya, banyak pihak menormalisasi perilaku pencurian.

Hal kontras terjadi pada keluarga Sumarna, satpam yang menjaga Waduk Jatiluhur di Purwakarta yang tidak mendapatkan atensi masyarakat dan pemerintah karena anak korban dipandang “tidak good-looking” oleh para selebriti dan influencer. Agak aneh memang Masyarakat Indonesia yang lebih memilih pro pada keluarga maling daripada keluarga satpam yang jujur.

Apa yang bisa dipetik dari peristiwa tersebut? Ada beberapa kutipan yang bisa untuk memahami peristiwa itu tentang kebijaksanaan, seperti yang diungkapkan dalam Amsal 3:27, “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” Dan juga dalam 2 Tesalonika 3:10. “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.”

Apakah pantas jika orang Indonesia lebih bersimpati kepada residivis daripada seorang satpam? Mengingat pekerjaan yang halal ini tidak akan bisa membuat kaya mendadak.

Kita tahu, amuk massa sering terjadi kepada pelaku kejahatan, seperti pencurian. Itu semacam konsekuensi yang umum di negeri ini. Yang sedih juga adalah masyarakat di sana sudah melaporkan ke pihak berwajib tapi tidak diproses oleh pihak kepolisian.

Menurut ajaran kristiani, hal itu tidak dibenarkan menghakimi massa terlebih sampai meninggal dunia. Yesus tidak mau kita menjadi hakim yang ulung tapi lupa bercermin pada diri sendiri. Injil Lukas 6:37 berkata “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum. Ampunilah dan kamu akan diampuni.”

Pada akhirnya, para pengeroyok ini mendapatkan hukuman dengan ditetapkan menjadi tersangka. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan pihak berwajib dan tentunya kepada Tuhan.

Para orang fomo yang berlomba-lomba membantu anak di Bali agar mendapatkan cuan ini lupa, ada keluarga yang dirugikan karena ayam yang sudah dipelihara dicuri begitu saja, belum lagi motor yang digunakan juga adalah hasil curian. Kita hanya punya kesempatan menindas orang yang stratanya di bawah kita, tapi kita diam menghadapi koruptor. Kita tidak punya kuasa dengan maling berdasi karena mereka terlalu punya kuasa dan backing yang kuat di belakangnya.

Kita sebagai ciptaan Tuhan yang diberikan akal budi, hendaklah menggunakan logika dan nalar dengan sebaik mungkin. Ketika kita menerima berita atau video, harus dianalisis terlebih dahulu bagaimana kronologisnya, latar belakangnya.

Masyarakat sangat mudah diberikan narasi setengah-setengah oleh media untuk menaikkan engagement, sehingga di sinilah diperlukan hikmat dan kebijaksanaan dalam mengolah dan membaca informasi yang diterima. Kita perlu menyeimbangkan logika dan perasaan agar tidak terlalu mudah bersimpati dan memperlakukan orang lain secara wajar, menaruh simpati pada yang lebih pantas.

Maling juga banyak jenisnya. Ada yang maling isi rumah, maling motor, maling uang Perusahaan, sampai maling uang rakyat. Beda maling beda perlakuan. Kita cenderung tidak berani bertindak kepada maling uang rakyat alias koruptor.

Kita lebih banyak diam melihat koruptor dan hanya bisa melihat dari layar kaca, karena terkadang kita tidak bisa melawan hal yang terlalu berkuasa. Tanpa sadar kita juga pernah menjadi maling, misalnya maling waktu orang lain (telat janjian), merebut pasangan orang lain, maling jatah makan kantor, maling pekerjaan orang lain dengan mengakui itu buah pikiran dan tenaga kita. Bahkan, kita maling kemuliaan Tuhan dengan menganggap semua hal ini terjadi karena kemampuan kita. Kita tidak lebih dari maling, hanya beda jalur saja.

Lahir di Bandung, domisili Jakarta. Pemerhati pendidikan, isu sosial, dan psikologi umum. No IG, prefer genuine relationship. Let’s make Indonesia greater than before!

Comments (0)
Add Comment