Ketika Seorang Gadis Muslim Menjadi Simbol Persaudaraan di Labuan Bajo

Momen indah perjalanan ziarah menuju puncak Festival Golo Koe “Maria Assumpta Nusantara”.

Labuan Bajo, Katolikana.com—Pemandangan sederhana dalam perjalanan Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara yang mungkin tampak biasa bagi sebagian orang, namun menyimpan pesan mendalam bagi mereka yang menyaksikannya daripada sekadar sebuah prosesi keagamaan.

Di salah satu sudut perjalanan ziarah, seorang gadis Muslim berjilbab berdiri dengan penuh hormat. Dengan tangannya, ia menyematkan selendang pada Arca Bunda Maria. Tidak ada sekat yang terasa. Tidak ada jarak yang mencolok. Yang tampak justru sebuah persaudaraan yang hidup. Seorang anak bangsa menghormati iman yang berbeda, sementara komunitas Katolik membuka ruang bagi kehadiran dan partisipasi saudara-saudaranya yang Muslim.

Momen itu terjadi ketika Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara melawati wilayah Paroki Sok Rutung, dalam rangkaian perjalanan ziarah menuju puncak Festival Golo Koe “Maria Assumpta Nusantara” pada Selasa, 4 Agustus 2026.

Dari Ziarah Menjadi Perjumpaan

Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara mulai melakukan perjalanan ziarah pada 10 Juli 2026. Dari satu paroki ke paroki lainnya di wilayah Keuskupan Labuan Bajo, arca tersebut bukan hanya melewati ruang-ruang gerejawi, tetapi juga menjumpai masyarakat, kebudayaan, tradisi, dan kehidupan sosial yang begitu beragam. Ia selalu hadir dengan wajah yang unik bagi siapa saja yang menerimanya dengan hati yang terbuka dan tulus.

Memasuki wilayah Kevikepan Labuan Bajo, satu hal semakin terasa, bahwa ziarah ini telah berubah menjadi ruang perjumpaan. Bunda Maria tidak hanya disambut oleh umat Katolik. Saudara-saudari Muslim yang hidup berdampingan dengan umat Katolik dalam keseharian pun turut hadir, menyambut dan mengambil bagian dalam prosesi.

Pemandangan di Paroki Sok Rutung menjadi salah satu simbol paling kuat. Selendang yang disematkan oleh seorang gadis Muslim kepada Arca Bunda Maria seakan menjadi bahasa sederhana yang mengatakan bahwa perbedaan iman tidak harus melahirkan jarak. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi pintu untuk saling mengenal, menghormati, memperkaya dan berjalan bersama. Di situlah kekuatan Festival Golo Koe menemukan salah satu maknanya yang terdalam.

Festival yang Merayakan Persaudaraan

Festival Golo Koe bukan hanya festival religi. Ia juga merupakan festival budaya yang merangkul keberagaman dan kemajemukan. Panggung seni mempertemukan kekayaan budaya Nusantara. Stan-stan pameran menghadirkan aneka kuliner dan kreativitas masyarakat.

Sementara prosesi Maria Assumpta Nusantara membawa dimensi spiritual yang berakar pada kebudayaan lokal dan diarahkan pada satu tujuan yang lebih besar: kemanusiaan dan persaudaraan. Karena itu, Festival Golo Koe dapat dilihat sebagai sebuah laboratorium harmoni sosial dan toleransi lintas agama.

Sebagai salah satu festival Top KEN 2026, Festival Golo Koe terus memperlihatkan wajah pariwisata yang bukan hanya indah untuk dikunjungi, tetapi juga bermakna untuk dialami. Pariwisata tidak berhenti pada panorama alam. Ia juga berbicara tentang manusia. Tentang bagaimana orang-orang dengan latar belakang berbeda dapat duduk bersama, berbagi ruang, merayakan kebudayaan, dan membangun kehidupan bersama.

Dengan demikian, Festival Golo Koe menawarkan sebuah wajah pariwisata yang partisipatif, berbudaya, berkelanjutan, sekaligus inklusif. Labuan Bajo tidak hanya menawarkan keindahan alam. Labuan Bajo juga menawarkan sebuah pengalaman tentang bagaimana keberagaman dapat dirayakan sebagai kekayaan.

Dari Koeksistensi Menuju Proeksistensi

Vikep Labuan Bajo, Rm. Yuvens Rugi, menyebut Festival Golo Koe sebagai mozaik persaudaraan universal. Menurutnya, festival ini tidak hanya memperkokoh kebersamaan antaragama yang telah terbangun, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan pariwisata yang semakin inklusif. “Kebersamaan lintas iman ini tidak hanya diperlihatkan dalam seremoni budaya, tetapi juga dalam perayaan iman,” ungkap Romo Yuvens Rugi, kepada Katolikana.com pada 3 Agustus 2026.

Lebih jauh, ia melihat relasi tersebut bukan sekadar koeksistensi—hidup berdampingan—tetapi bergerak menuju proeksistensi, yakni keberadaan bersama yang mendorong setiap pihak untuk bertumbuh secara kreatif. Dalam perspektif itu, persaudaraan bukan hanya berarti “kita tidak saling mengganggu”, tetapi “kita saling membantu agar dapat tumbuh bersama.”

Inilah salah satu sumbangan penting Festival Golo Koe bagi kehidupan sosial, telah membuktikan bahwa toleransi dapat bergerak dari sekadar konsep menjadi pengalaman konkret yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Momen indah seorang gadis Muslim memberi penghormatan pada Archa Bunda Maria pada Festival Golo Koe 2026 di Labuan Bajo. Foto: Vinsen Patno/Katolikana.com

 

Ketika Perbedaan Menjadi Berkat

Pengalaman serupa dirasakan Romo Ferdy Mayus, Pastor Paroki Sok Rutung. Baginya, keterlibatan umat Muslim dalam prosesi Arca Bunda Maria merupakan pengalaman religiositas yang mendalam. Bukan karena seseorang harus meninggalkan keyakinannya untuk menghormati keyakinan orang lain, melainkan karena iman yang matang justru melahirkan keterbukaan terhadap keunikan sesama.

“Perbedaan bukan pertentangan, tetapi sarana untuk mengenal semakin dekat dan memperkaya satu sama lain,” demikian ungkap Romo Ferdy Mayus ada 2 Agustus 2026.

Kalimat sederhana itu sesungguhnya menyentuh inti dari persaudaraan yang ingin dibangun. Sebab, dunia tidak menjadi damai karena semua orang menjadi sama. Dunia menjadi damai ketika orang-orang yang berbeda mampu mengakui martabat satu sama lain, menghormati keyakinan masing-masing, dan bekerja bersama demi kebaikan bersama.

Menurut Romo Ferdy, gadis Muslim yang menyematkan selendang pada Arca Bunda Maria bukan sekadar bagian dari sebuah prosesi. Ia telah menjadi bagian dari sebuah kisah persaudaraan. Sebuah kisah kecil, tetapi dengan pesan yang besar.

Dari Labuan Bajo untuk Indonesia

Semangat tersebut sejalan dengan pesan Persaudaraan Universal, Human Fraternity for World Peace and Living Together, yang ditandatangani oleh pemimpin tertinggi Umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus dan Tokoh Muslim dunia, Sheikh Ahmad al-Taye, Gran Syek Al Azhar, pada tahun 2019. Dokumen ini mengajak manusia dan seluruh ciptaan untuk membangun relasi yang harmonis demi kehidupan yang lebih baik.  Festival Golo Koe seakan menerjemahkan pesan tersebut ke dalam bahasa yang sederhana dan konkret: berjumpa, berjalan bersama, saling menghormati, dan merayakan kehidupan.

Di tengah dunia yang sering kali mudah terpecah oleh identitas, agama, budaya dan perbedaan pilihan, Labuan Bajo justru menghadirkan sebuah pesan yang sejuk: Perbedaan tidak harus menjadi tembok. Perbedaan dapat menjadi jembatan. Dan mungkin di situlah kekuatan terbesar sebuah festival.

Bukan hanya pada kemeriahan panggungnya. Bukan hanya pada banyaknya wisatawan yang datang. Bukan hanya pada keindahan budaya yang ditampilkan. Tetapi pada kemampuannya mempertemukan manusia.

Persaudaraan antar beriman umat Muslim dan Katolik pada Festival Golo Koe 2026 di Labuan Bajo. Foto: Vinsen Patno/Katolikana.com.

Menuju Puncak Festival Golo Koe

Kini Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara hampir menyelesaikan perziarahannya. Setelah melewati paroki-paroki di Keuskupan Labuan Bajo, arca tersebut memasuki wilayah kota Labuan Bajo untuk menuju puncak perayaan Festival Golo Koe yang akan berlangsung 10–15 Agustus 2026. Puncak perayaan itu bukan sekadar akhir dari sebuah perjalanan. Ia menjadi simpul dari seluruh perjumpaan yang telah terjadi sepanjang ziarah: perjumpaan dengan umat, masyarakat, budaya, tradisi, alam, dan aneka ciptaan.

Arca Bunda Maria bergerak menuju satu tujuan. Namun, perjalanan itu sekaligus mengingatkan manusia bahwa seluruh peziarahan kehidupan pada akhirnya mengarah kepada Sang Khalik—tempat segala sesuatu dipertemukan, perbedaan dilebur dalam kasih, dan setiap manusia serta seluruh ciptaan menemukan kepenuhan keberadaannya. Maka, Festival Golo Koe bukan hanya tentang datang dan melihat. Ia mengundang orang untuk datang dan mengalami: budaya, spiritualitas, kerahaman, keberagaman, dan terutama mengalami persaudaraan.

Labuan Bajo dengan segala keindahannya kini menawarkan sebuah pesan yang jauh lebih luas daripada destinasi wisata. Bagi mereka yang datang bukan hanya menikmati keindahannya, tetapi pulang dengan membawa pengalaman persaudaraan. Ini bisa menjadi wajah pariwisata masa depan yang ingin ditawarkan dalam Festival Golo Koe. Pariwisata yang tidak hanya mempertemukan manusia dengan tempat, tetapi mempertemukan manusia dengan manusia, tidak hanya merayakan keindahan alam dan budaya, tetapi juga merayakan persaudaraan.

Dan dari Labuan Bajo, pesan itu bergaung berbeda dalam iman, bersatu dalam persaudaraan. Berbeda dalam budaya, berjalan bersama dalam kemanusiaan.

Editor: Basilius Triharyanto

Penulis adalah kontributor Katolikana.com di Labuan Bajo.

Festival Gole Koe 2026Labuan BajoPilihan EditorToleransi
Comments (0)
Add Comment