Misa Perdana Romo Dionisius Amadea Prajna Putra Mahardika SJ di Gereja Santo Antonius Padua Purbayan Solo

Surakarta, Katolikana.com – Misa Perdana Romo Dionisius Amadea Prajna Putra Mahardika SJ di Gereja Santo Antonius Padua Purbayan Surakarta dilaksanakan pada Minggu Biasa XIX, Minggu (9/8/2026), Pukul 08.30. Umat memenuhi gereja, menempati tempat duduk di selasar gereja, menempati tempat duduk di aula bawah serta aula atas gedung paroki Purbayan.

Perayaan Ekaristi dipimpin Romo Dionisius Amadea Prajna Putra Mahardika SJ, (pernah menjalani masa Tahun Orientasi Kerasulan di Yayasan Kanisius Cabang Surakarta dan Paroki Antonius Purbayan 2020 -2022) dan Romo Joseph MMT Situmorang, SJ Kepala Yayasan Kanisius Cabang Surakarta.

Imam Dionisius Amadea Prajna Putra Mahardika SJ merupakan imam dari Serikat Yesus yang menerima tahbisan dari Mgr. Petrus Boddeng Timang Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin di Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta pada Rabu (29/7/2026) bersama Romo Andreas Agung Nugroho, SJ., Romo Filipus Friderick Ray Popo, SJ., Romo Gregorius Agung Satriyo Wibisono, SJ., dan Romo Klaus Heinrich Raditio, SJ.

Umat mengikuti Misa Perdana Romo Dionisius Amadea, SJ di Paroki Santo Antonius Padua Purbayan Surakarta

Permenungan dalam homili
Romo Dionisius Amadea dalam homili menyampaikan bahwa setelah Yesus memberi makan lima ribu orang dalam kisah Injil Minggu lalu, para murid masih mengalami keraguan tentang sosok Yesus. Ketika ada angin sakal, yakni angin yang bertiup dari arah depan dan berlawanan dengan arah laju perahu, para murid menyangka Yesus yang datang itu adalah hantu.

Simon Petrus yang dalam hati kecilnya berpikir bahwa itu Yesus, dan mendengar Yesus berkata : “Tenanglah, Aku ini”, Petrus mendekati Yesus dan menyampaikan permintaan :”Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”

Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, Petrus menjadi takut dan mulai tenggelam, lalu ia berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!”

“Kita ini, dalam hidup seperti para rasul dan juga Petrus. Saya yakin Allah sudah tidak kurang-kurang mengerjakan karya ajaib dalam hidup kita . Allah telah memberikan banyak rahmat, banyak berkat, tetapi yang terjadi kita seperti para rasul”, kata Romo Dionisius Amadea.

“Kita terus bergulat ketika muncul masalah, muncul persoalan, kita jatuh dalam keraguan dan ketidak percayaan. Kita mengalami iman yang jatuh bangun. Ketika saya mengalami persoalan kecil saya pun bertanya: “apakah Tuhan hendak menolong saya”. Apalagi jika badainya besar, bisa-bisa kita menyalahkan Tuhan”.

“Boleh tidak kita jatuh bangun dalam iman? Kita telah menerima babtis, menerima sakramen-sakramen. Apakah boleh mengalami pergulatan iman? Ataukah seperti jalan tol yang tidak mengalami hambatan.

Jatuh bangun iman

Manusia ada kalanya mengalami ketidakberdayaan. Ketika Yesus berkata pada Petrus :”Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Nada perkataan ini bukan nada menghakimi, namun nada yang penuh belas kasih. Berbelas kasih pada para murid, Petrus, dan kita yang seringkali kurang percaya, sering mengalami keragu-raguan.

Tema tahbisan kami, lima orang yang ditahbiskan tanggal 29 Juli 2026 : “Misericordiam Volo” yang artinya “Yang kuhendaki ialah belas kasihan”. Semangat kami berlima, kami mohon supaya kami bisa berbelas kasih seperti Yesus. Dan itu yang dikehendaki Yesus.

Apa yang dikatakan Yesus pada Petrus adalah “misericordiam” nuansanya adalah belas kasih bukan penghakiman.

Meneguhkan panggilan

Selama dua tahun saya tinggal di Paroki Purbayan, komunitas umat Purbayan sangat menolong saya, bermurah hati dan mendukung, menguatkan dan meneguhkan panggilan saya. Tetapi komunitas umat beriman Paroki Purbayan juga ada jatuh bangunnya.

It’s ok. Jatuh bangun dalam iman, bergulat dalam iman. Saya bersyukur karena “keguyuban”, komunitas umat Purbayan cukup nyata saya alami. Dan itulah yang terjadi sebagai inti pesan Injil hari ini.

Jika Yesus mengulurkan tangan pada Petrus, kita diundang mengulurkan tangan satu sama lain, saling menolong dalam kesulitan. Lewat apa? Lewat sapaan, senyuman, mendengarkan dan seterusnya.

Dalam keluarga uluran tangan Yesus terjadi ketika anggota keluarga saling menolong, saling membantu.

“Bacaan pertama meneguhkan, ternyata keajaiban Allah itu bukan terjadi dalam badai, gempa, dan api tetapi dalam angin yang sepoi-sepoi. Pertolongan Tuhan tidak selalu datang dalam mukjizat besar, keajaiban yang jarang terjadi. Tetapi lewat setiap hari, dalam kesibukan, rutinitas, mungkin dalam kejadian yang membosankan, melalui orang terdekat, orang-orang yang mungkin terabaikan, orang-orang yang tidak dipedulikan namun disitulah Allah mengulurkan tangan-Nya untuk kita. Maka marilah saling mengulurkan tangan mewujudkan belas kasih. Tuhan hadir mengulurkan tangan lewat anda,” ungkap Romo Dionisius Amadea mengakhiri homili.

Menandatangani jurnal
Usai Perayaan Ekaristi Romo Amadea SJ tampak menandatangani Lembar Kendali Misa dalam buku persiapan Komuni Pertama, yang berfungsi untuk memantau keaktifan calon penerima Sakramen Ekaristi dalam mengikuti Perayaan Ekaristi Hari Minggu (Jurnal Pelajaran Komuni).

Selain itu juga memberikan berkat pada benda rohani yang diminta oleh umat, memberikan berkat pada keluarga, umat serta beberapa guru Kanisius yang meminta berkat perdana dari Romo Dionisius Amadea, SJ.

Romo Dionisius Amadea, SJ setelah ditahbiskan akan menjalankan tugas perutusan Studi Doktoral Teologi di Universitas Santa Clara, California Amerika Serikat. (*)

Romo Dionisius Amadea, SJ bersama anak-anak calon penerima komuni pertama

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta

Comments (0)
Add Comment