Menapaki Spiritualitas Camino di Pulau Dewata
Ziarah menempuh jarak sekitar 23 kilometer dari Gereja Santo Petrus Negara menuju Gereja Hati Kudus Yesus Palasari.

Bali, Katolikana.com — Pastor Paroki Santo Petrus Negara, Jembrana, Romo Benediktus Deni Mary, Pr., mengapresiasi kegiatan ziarah jalan kaki yang diselenggarakan Komunitas Mlampah Ziarah Chapter Bali, Minggu (16/8/2026).

Ziarah menempuh jarak sekitar 23 kilometer dari Gereja Santo Petrus Negara menuju Gereja Hati Kudus Yesus Palasari. Kedua gereja tersebut berada di wilayah Keuskupan Denpasar.

Gereja Santo Petrus Negara berdiri sejak 1967. Dalam perkembangannya, paroki ini turut menumbuhkan devosi kepada Bunda Maria dari Guadalupe, yang dikenal melalui kisah penampakan Maria kepada Juan Diego di Bukit Tepeyac, Meksiko, pada 1531.

Bunda Maria dari Guadalupe dipandang sebagai sosok yang merangkul semua bangsa. Karena itu, devosi tersebut memiliki makna khusus bagi umat Katolik di Negara yang hidup di tengah masyarakat multikultural.

Romo Deni berharap kegiatan mlampah ziarah dapat membuat Paroki Santo Petrus Negara semakin dikenal oleh umat Katolik dari berbagai daerah.

Kegiatan tersebut diikuti 195 peserta dari sejumlah daerah di Indonesia. Romo Deni turut berjalan bersama para peserta sejak awal hingga akhir perjalanan. Chapter Bali merupakan satu dari delapan chapter yang dimiliki Komunitas Mlampah Ziarah.

Dalam homili pada Perayaan Ekaristi bersama para peserta di Gereja Hati Kudus Yesus Palasari, Romo Deni menegaskan bahwa tujuan utama ziarah bukan sekadar mencapai tempat yang dituju, melainkan mengalami perubahan diri selama perjalanan.

“Ketika kaki mulai lecet, punggung mulai berat, napas mulai pendek, dan jalan terasa tiada habisnya, kita belajar bahwa ziarah bukan perkara seberapa jauh kita berjalan, melainkan kepada siapa kita berjalan dan untuk apa kita berjalan,” tuturnya.

Romo Benediktus Deni Mary, Pr (tengah bertopi) beserta beberapa peserta singgah di Monumen Salib Suci, lokasi Gereja Perdana sejak 1940, Gereja Hati Kudus Yesus Palasari perdana. (Foto: Hogy)

Spiritualitas Mlampah dan Camino

Imam kelahiran Singaraja itu menjelaskan bahwa spiritualitas mlampah atau camino mengajarkan keberanian melangkah meskipun seseorang belum mengetahui keseluruhan jalan yang akan ditempuh.

“Kita meninggalkan Negara sebagai orang yang sama, lalu tiba bersama-sama di Palasari sebagai orang yang sedikit lebih ringan,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip ungkapan, “If you want to go fast, go alone; if you want to go far, go together.” Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Namun, jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama-sama.

A.H. Hendrawanto atau Hogy, peserta yang sejak awal mendampingi Romo Deni, membenarkan semangat kebersamaan tersebut. Dalam perjalanan, Romo Deni sempat mengajak peserta singgah di Monumen Salib Suci, yang menandai lokasi gereja pertama umat Katolik Palasari pada 1940-an. Seiring perkembangan umat, bangunan gereja lama tidak lagi mampu menampung jemaat.

Menurut Hogy, Romo Deni tetap mengikuti rute yang telah ditentukan panitia dan tidak mengambil jalan pintas, termasuk ketika memasuki lima kilometer terakhir.

“Hanya di tanjakan terakhir menuju Gereja Palasari kaki Romo mulai sedikit kram. Setelah saya semprot, Romo bisa berjalan lagi hingga garis akhir,” ujar Ketua Mlampah Ziarah Chapter Malang tersebut.

Perjalanan dari Paroki Santo Petrus Negara menuju Paroki Hati Kudus Yesus Palasari menempuh jarak sekitar 23 kilometer. Gereja Hati Kudus Yesus Palasari yang dibangun pada 1956 berada di tengah kawasan pedesaan Desa Palasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali.

Gereja tersebut memadukan arsitektur Gotik Eropa dengan unsur arsitektur tradisional Bali. Menara setinggi 33 meter berpadu dengan atap meru, candi bentar, dan ukiran khas Bali, menghadirkan harmoni dua tradisi budaya.

Tidak jauh dari gereja utama terdapat Gua Maria Palasari, yang juga dikenal sebagai Palinggih Ida Kaniaka Maria. Tempat doa dan ziarah itu berada di atas bukit serta dilengkapi taman doa, pelataran, dan rute Jalan Salib.

Seluruh peserta menyelesaikan perjalanan dalam waktu sekitar enam hingga delapan jam. Mereka melintasi desa, persawahan hijau, serta sejumlah tanjakan dan turunan yang cukup curam.

Keramahan masyarakat setempat turut menyemangati para peziarah, terutama mereka yang berasal dari luar Bali. Perjalanan tersebut menawarkan cara berbeda untuk mengalami Pulau Dewata, jauh dari destinasi wisata yang telah populer.

Seratus Persen Katolik, Seratus Persen Indonesia

Keesokan harinya, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026), Komunitas Mlampah Ziarah menggelar upacara bendera di Pantai Kuta.

Di tengah cuaca cerah dan deburan ombak, para anggota komunitas meneguhkan komitmen untuk tetap setia menjalani panggilan peziarahan.

Inisiator Komunitas Mlampah Ziarah, Roni Romel, mengajak para anggota menjadi orang Katolik yang penuh dan utuh. Mereka diharapkan saling menjaga, menguatkan iman, serta merawat semangat peziarahan, baik di dalam komunitas maupun dalam perjalanan kehidupan sehari-hari.

Ia juga mengajak anggota komunitas membawa sukacita, kedamaian, dan kesejahteraan, bukan hanya bagi sesama anggota, tetapi juga bagi masyarakat luas.

Komunitas Mlampah Ziarah berkomitmen menjadi umat Katolik yang aktif dan partisipatif sekaligus warga negara yang terlibat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Komitmen tersebut menghidupkan kembali semboyan yang diwariskan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ: “Seratus persen Katolik, seratus persen Indonesia.”

Kontributor: Ariobimo Nusantara

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

CaminoKomunitas Mlampah ZiarahMlampah Ziarah
Comments (0)
Add Comment