Bagaimana Membaca Kita Suci dengan Asyik, Berikut Metodenya?

Metode Baca Kitab Suci yang Menyenangkan.

KATOLIKANA.COM, TANGERANG SELATAN – Menyambut bulan Kitab Suci tahun ini, Seksi Kerasulan Kitab Suci Gereja Santa Maria Regina, Paroki Bintaro Jaya menyelenggarakan Festival Kitab Suci 2026. Rangkaian acara antara lain, Workshop Membaca Kitab Suci – “Ketika Sabda Menjadi Doa”, Workshop Membaca Kitab Suci Bersama Anak-Anak, dan Bible pop-up booth.

Workshop Membaca Kitab Suci – “Ketika Sabda Menjadi Doa” secara khusus dipandu oleh Romo Bernardus Hardijantan Dermawan, Pr, Pastor Kepala Paroki Bintaro Jaya Gereja Santa Maria Regina, Tangerang Selatan, pada Minggu (20/09/26).

Mengawali workshop, Romo Hardijantan menekankan pentingnya “membaca” sebelum “membacakan”.

“Mudah-mudahan bisa merasakan, apa artinya membacakan sabda Tuhan dengan membaca sabda Tuhan dalam kitab suci (membaca sendiri). Kalau lektor itu membacakan. Jadi kalau lektor tidak paham apa yang dibaca maka biasanya pendengar juga tidak mengerti. Tetapi, kalau lektornya membaca, dan paham, kemudian membacakan maka biasanya pendengar akan menangkap maknanya, ‘Oh ini toh pesan yang mau disampaikan’,” kata Romo Hardijantan.

Kegiatan Festival Kitab Suci tahun ini sebagai silih dari kegiatan lomba, seperti Narasi Kitab Suci, Tutur Kitab Suci, dan Bible Talent Show yang biasa diselenggarakan pada tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun ini tidak ada lomba di tingkat KAJ dan Dekenat Tangerang 2, jadi Paroki tidak perlu kirim wakil. Lomba-lomba itu kita tiadakan tahun ini, karena sepertinya kurang berdampak pada minat umat membaca KS,” tutur Yennita dari Kerasulan Kitab Suci Gereja Santa Maria Regina, Paroki Bintaro Jaya.

Metode Baca Kitab Suci yang Menyenangkan

Dalam workshop yang diikuti oleh 56 peserta ini Romo Hardijantan menawarkan metode yang sangat menarik untuk membaca Kitab Suci. Dengan mengambil tema Panggilan Simon (Lukas 5: 1-11), Romo yang juga pengajar KPKS Tebet dan Tangerang ini menawarkan metode membaca KS yang—meminjam istilah penyair kondang, Horatius—dulce et utile (sesuatu  yang menyenangkan atau indah dan bermanfaat).

Langkah pertama, peserta diminta membaca perikop tersebut. Bukan hanya sekali, tetapi dua kali. Pembacaan pertama untuk memahami jalan ceritanya, sedangkan pembacaan kedua untuk mengamati  tokoh dalam teks, perkataan yang disampaikan, tindakan yang dilakukan, dan bagian lain yang menarik perhatian. Dengan kata lain, peserta diajak menerapkan Lectio Divina, yaitu cara berdoa dengan Kitab Suci dengan membaca, merenungkan, berdoa, dan mengheningkan firman Tuhan sehingga sabda-Nya menjadi dialog hidup yang mengubah hati dan diwujudkan dalam tindakan sehari‑hari.

“Tahap meditasi (merenungkan) itu ibarat mengunyah-unyah atau merasa-rasakan (firman Tuhan),” jelas Romo Hardijantan. Ia juga memberikan pertanyaan-pertanyaan pada setiap ayat yang dibaca untuk menemukan pesan di dalamnya.

Dengan cara ini, peserta yang semula tampak berjarak dengan teks Kitab Suci dan berkerut untuk buru-buru mencari maknanya, berbalik menjadi lebih akrab dan antusias untuk menyelami teks dari Kitab Suci.

Sebagai contoh, untuk ayat Lukas 5:1 “Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.” Pertanyaan pancingannya antara lain: “Yesus berada di danau Genesaret pagi, siang, sore, malam?”

Kalau Pagi, misalnya, pertanyaan selanjutnya, “pagi kurang lebih jam berapa?” Apakah jam 6, jam 7? “Lalu Yesus sedang apa di danau?” Kita sambil membayangkan, Yesus melihat perahu, nelayan cuaca hari itu. “Mengapa banyak orang mau mendengarkan firman Allah? Bukankah seharusnya mendengarkan firman Allah itu di sinagoga, bukan di tepi danau?”

Atas pancingan pertanyaan terakhir, peserta mulai kesulitan menemukan jawabannya. “Nah, ini sudah sebuah pesan,” jelas Romo Hardijantan, “bahwa setiap kali melangkah, Yesus sudah memberikan pengajaran hidup. Bila Firman Allah dikerumuni di tepi pantai, kira-kira bagaimana suasana hati mereka? Bisa bermacam-macam, tetapi intinya mereka ingin ketenangan.”

Romo Bernardus Hardijantan Dermawan, Pr saat memandu workshop kitab suci di Paroki Bintaro Jaya Gereja Santa Maria Regina, Tangerang Selatan, pada Minggu (20/09/26). Foto: Ariobimo/Katolikana.com

Teks dan Konteks

Lebih jauh,  dalam membaca kita suci, Romo Hardijantan juga menanamkan pentingnya pemahaman teks dan konteks. Misalnya, pada ayat: Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. ( Lukas 5:3)

Pertanyaan untuk memahami: “Bagaimana kira-kira perasaan Simon ketika Yesus memilih perahunya?” (bingung, senang, dll.). “Apakah dia sudah mengenal Yesus?” (Sudah). “Saat apa?” Saat Yesus menyembuhkan mertua Simon (Lukas 4:38–39).

Dengan kata lain, teks memberi kita sabda yang tertulis, sedangkan konteks memberi latar belakang dan pengalaman yang melingkupi teks.  Dari sini, pada akhirnya nanti Kitab Suci tidak berhenti sebagai kata-kata, tetapi menjadi pengalaman iman yang hidup: firman yang menyapa, mengubah hati, dan menuntun tindakan.

Asyiknya Membaca Kitab Suci

Hal ini sejalan dengan tujuan dari workshop ini, yaitu membiarkan Sabda Allah menafsirkan peristiwa-peristiwa hidup kita. Kalau itu yang terjadi, membaca Sabda Allah dalam Kitab Suci akan mengasyikkan.

Tahap selanjutnya adalah berdoa. Romo Hardijantan menekankan berdoa pada dasarnya mencari kekuatan untuk hidup dalam perjalanan di dunia ini, bukan untuk mencari pengetahuan ataupun ilmu. Dengan kata lain, berdoa merupakan syarat mengalami kekuatan Allah dalam Roh yang bekerja dalam diri kita dan menemani kita, bukannya untuk menyelidiki rahasia-rahasia Allah.

Seusai pembekalan, sesi berikutnya, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mempraktikkan ulang langkah-langkah membaca narasi Kitab Suci dan menemukan pesan untuk hidup lewat perikop lain. Berbekal Lembar Kerja yang telah disiapkan oleh tim KKS Santa Maria Regina, peserta menyusuri ayat demi ayat dalam perikop, mulai dari memahami jalan cerita hingga menghasilkan doa pribadi.

Diskusi kelompok tampak sangat hidup dan penuh semangat, bahkan tanpa terasa melebihi batas waktu workshop yang telah disepakati.

“Metode ini sangat menarik, kita bisa lebih menghayati pesan dalam Kitab Suci. Saya sangat senang dan mau mengopi Lembar Kerja ini untuk mencoba menelusuri ayat-ayat KS yang lain,” komentar Edy Sukarno, salah seorang peserta, dengan wajah puas.

Ariobimo Nusantara, Kontributor di Tangerang Selatan 

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Bulan Kitab Suci NasionalKitab Suci
Comments (0)
Add Comment