Kenaikan Yesus: Saat Para Murid Berhenti Menatap Langit

Oleh Sr. M. Paskalia, OP

Katolikana.com—Ada satu detail menarik dalam kisah Kenaikan Yesus yang sering luput dari perhatian. Setelah Yesus terangkat ke surga, para murid hanya berdiri dan menatap langit. Mereka diam, mungkin bingung, mungkin kehilangan arah. Lalu dua malaikat berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit?” (Kis 1:11).

Pertanyaan sederhana ini sebenarnya menjadi titik balik iman Gereja. Kenaikan Yesus bukan peristiwa perpisahan yang menyedihkan, melainkan awal sebuah perutusan besar.

Bukan Kisah Perpisahan

Secara manusiawi, Kenaikan bisa terasa seperti kehilangan. Setelah kebangkitan yang penuh sukacita, Yesus justru “pergi”. Namun Injil Lukas mencatat sesuatu yang mengejutkan: “Mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita” (Luk 24:52).

Mengapa para murid bersukacita jika Guru mereka baru saja meninggalkan mereka? Jawabannya terletak pada cara Gereja memahami Kenaikan. Yesus tidak pergi untuk menjauh, tetapi untuk hadir dengan cara yang baru. Ia tidak lagi dibatasi ruang dan waktu. Kehadiran-Nya menjadi universal.

Dalam Katekismus Gereja Katolik dijelaskan bahwa Kenaikan Kristus menandai masuknya kemanusiaan Yesus secara definitif ke dalam kemuliaan Allah di surga (KGK 665). Artinya, dalam diri Yesus, kemanusiaan kita sudah lebih dahulu sampai kepada Allah. Surga bukan lagi sesuatu yang asing; jalan menuju ke sana telah dibuka.

Dari Melihat ke Atas, Menuju Melangkah ke Dunia

Para murid awalnya hanya memandang ke langit. Itu reaksi yang sangat manusiawi. Ketika mengalami perjumpaan rohani yang mendalam, kita pun sering ingin tinggal dalam rasa nyaman itu. Namun malaikat justru mengajak mereka kembali ke bumi.

Iman Kristiani tidak berhenti pada pengalaman spiritual pribadi. Iman selalu berujung pada perutusan. Sebelum naik ke surga, Yesus berkata: Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku (Kis 1:8). Kenaikan menjadi jembatan menuju Pentakosta. Dari murid yang takut, mereka akan berubah menjadi pewarta yang berani.

Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium menegaskan bahwa Gereja diutus untuk menyatakan dan menyebarluaskan Kerajaan Allah di antara semua bangsa  (LG 5). Dengan kata lain, setelah Yesus naik ke surga, kini dunia menjadi medan karya para murid.

Yesus Tidak Jauh

Sering kali kita membayangkan surga sebagai tempat yang sangat jauh di atas sana. Padahal iman Gereja tidak memahami Kenaikan sebagai perjalanan geografis. Paus Benediktus XVI pernah menjelaskan bahwa Kenaikan berarti Yesus masuk ke dalam ruang Allah, sebuah realitas yang melampaui batas dunia fisik. Justru karena itu, Ia dapat hadir di mana saja.

Janji Yesus kiranya tetap berlaku: Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat 28:20). Kehadiran Kristus kini dialami melalui Sabda, Ekaristi, komunitas Gereja, dan terutama melalui Roh Kudus yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari umat beriman.

Spiritualitas Kenaikan di Tengah Hidup Sehari-hari

Kenaikan Tuhan sebenarnya sangat dekat dengan pengalaman hidup kita. Ada masa ketika seseorang harus pergi  agar orang lain bertumbuh. Seorang guru melepas muridnya, orang tua melepas anaknya, pembimbing memberi ruang bagi yang dibimbing untuk berjalan sendiri. Yesus melakukan hal yang sama. Ia mempercayakan dunia kepada para murid-Nya.

Santo Paulus mengingatkan: Carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada (Kol 3:1). Mencari yang di atas bukan berarti melarikan diri dari dunia, tetapi menjalani dunia dengan arah yang jelas. Orang Kristiani hidup dengan kaki di bumi, tetapi hati tertuju pada Allah. Kenaikan mengajarkan bahwa harapan Kristiani selalu mengarah ke depan. Dunia bukan tujuan akhir, tetapi tempat kita menabur kasih.

Gereja yang Tidak Diam

Pertanyaan malaikat kepada para murid juga menjadi pertanyaan bagi Gereja masa kini: apakah kita masih sibuk menatap langit tanpa bergerak? Iman tidak hanya dirayakan di altar, tetapi diwujudkan dalam kehidupan nyata: merawat yang sakit, menguatkan yang lemah, memperjuangkan keadilan, dan menghadirkan pengharapan di tengah masyarakat.

Dokumen Gaudium et Spes mengingatkan bahwa misteri manusia hanya menjadi jelas dalam misteri Sabda yang menjelma (GS 22). Dalam Kristus yang naik ke surga, manusia menemukan arah hidupnya. Kita tidak berjalan tanpa tujuan. Kita adalah umat yang sedang menuju kepenuhan hidup bersama Allah.

Hari Raya Kenaikan akhirnya mengajak kita melakukan hal sederhana namun mendalam: berhenti hanya menatap langit, lalu mulai melangkah. Karena Kristus yang naik ke surga bukan meninggalkan dunia, melainkan mempercayakan dunia kepada kita  agar melalui hidup kita, orang lain dapat merasakan bahwa surga sebenarnya sudah mulai hadir di bumi. (*)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Kenaikan Yesus Kristus
Comments (0)
Add Comment