Fakfak, Katolikana.com – Uskup Keuskupan Timika Mgr. Bernardus Bofiwos Baru merasa antusias dan bahagia menyaksikan umat Muslim yang turut menghadiri Perayaan Hari Raya Pentakosta, sekaligus perayaan syukur satu tahun episkopal dirinya sebagai Uskup Keuskupan Timika. Perayaan itu berlangsung penuh sukacita dan nuansa persaudaraan di Stasi Tritunggal Maha Kudus Kampung Sakartemen, Paroki Santa Maria Merapi, Kabupaten Fakfak, Minggu (24/5/2026).
Perayaan diawali dengan Misa Pentakosta yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan seremonial dan makan bersama umat dari tiga stasi di wilayah Paroki Santa Maria Merapi, yakni Stasi Tritunggal Maha Kudus Kampung Sakartemen, Stasi Santo Eduardus Kampung Pasir Putih, dan Stasi Imanuel Kampung Mendopma.
Suasana kebersamaan terasa begitu kuat dalam perayaan tersebut. Tidak hanya umat Katolik yang hadir, tetapi juga sejumlah umat Islam dari Kampung Pasir Putih dan Kampung Pirma yang turut ambil bagian dalam kegiatan yang berlangsung di halaman Gereja Mandok Mahk, Gereja Sakramen. Kehadiran lintas umat beragama itu menjadi simbol hidupnya toleransi dan persaudaraan di Kabupaten Fakfak.
Dari laporan lapangan yang diterima Katolikana.com, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru mengaku terharu melihat antusiasme umat dan keterlibatan berbagai pihak dalam perayaan tersebut. Ia menilai perayaan tahun ini memiliki makna yang istimewa karena dihadiri representasi umat dari berbagai wilayah di Tanah Papua.
“Saya sendiri hadir di sini untuk kedua kalinya. Pertama tahun 2012 saat gereja ini masih baru. Karena itu saya melihat perayaan tahun ini sungguh istimewa. Ada roh yang menggerakkan kita semua. Hampir seluruh representasi umat hadir, mulai dari Merauke sampai Sorong,” ujar uskup.
Menurut Uskup Bernard semangat persatuan tersebut telah menunjukkan Gereja Katolik di Papua terus bertumbuh sebagai rumah bersama yang mampu merangkul semua kalangan. Ia mengapresiasi kehadiran tokoh gereja, pemerintah, DPR, MRP, tokoh adat, hingga masyarakat lintas agama yang hadir dalam satu perayaan persaudaraan.
Uskup juga secara khusus menyampaikan apresiasi kepada umat Islam dari berbagai kampung yang terus terlibat dalam sejumlah perayaan besar Gereja Katolik di Tanah Papua, termasuk dalam perayaan satu tahun episkopal dirinya dan Hari Raya Pentakosta di Fakfak.
“Kerukunan dan kebersamaan yang terbangun di Fakfak ini adalah warisan berharga yang harus terus dijaga. Toleransi antarumat beragama di daerah ini wajib menjadi contoh bagi semua orang,” katanya.
Ia menambahkan, partisipasi saudara-saudara Muslim dalam kegiatan gereja menjadi tanda bahwa persaudaraan antarumat beragama di Papua masih terpelihara dengan baik.
“Ini tanda bahwa persaudaraan kita semakin kuat dan tersambung kembali,” ujarnya yang disambut tepuk tangan umat.
Lahirnya Pastor-pastor Muda Fakfak
Dalam kesempatan itu, uskup juga mengenang perjalanan panggilan imam di Papua, khususnya di Fakfak. Ia menyebut mulai bermunculannya pastor-pastor muda asal Fakfak sebagai tanda harapan baru bagi gereja di Tanah Papua, antara lain Pastor Adrianus Tuturop, Pr dan Pastor Martin Hombahomba, Pr. Lalu, ada para frater yang saat ini masih menjalani masa pembinaan.
Salah satu kenangan menarik yang ia catat ketika penahbisas Pastor Jonathan Fatem. Bagi Mgr. Bernard, salah satu peristiwa penting yang menginspirasi banyak anak muda Papua untuk masuk seminari dan mengabdikan diri sebagai imam. Dari semangat itu kemudian lahir berbagai panggilan baru dalam gereja.
Selain panggilan imam dan hidup membiara, uskup turut menyinggung keberadaan berbagai bentuk pelayanan dalam Gereja Katolik, seperti kongregasi, ordo, serikat, dan institut sekuler yang selama ini berkarya di Papua dalam bidang pendidikan, kesehatan, misi, dan pelayanan sosial.
“Kita di Papua mengenal banyak kongregasi mulai dari SJ, MSC, OSA, OSC, SVD hingga kongregasi-kongregasi baru. Semua hadir untuk melayani umat,” ungkap Mgr. Bernard.
Dalam sambutannya, Mgr. Bernard juga memperkenalkan Ibu Valen, seorang perempuan Amungme yang tergabung dalam Institut Sekuler dengan spiritualitas Ursulin. Menurutnya, kehadiran institut sekuler menunjukkan bahwa pelayanan gereja tidak hanya dilakukan di biara atau paroki, tetapi juga di tengah kehidupan masyarakat sehari-hari.
Uskup berharap semakin banyak generasi muda Papua terpanggil menjadi pastor, suster, maupun pemimpin di berbagai bidang kehidupan, termasuk pemerintahan, DPR, dan MRP, demi membangun masa depan Papua yang lebih baik.
Di akhir sambutannya, uskup menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, masyarakat Kampung Sekru, kelompok koor, para penari, mama-mama yang menyiapkan konsumsi, para suster, serta komunitas doa yang telah bekerja keras menyukseskan perayaan tersebut.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Komunitas Kerahiman Ilahi Papua yang selama ini aktif mendoakan persatuan gereja dan perdamaian di Tanah Papua, khususnya di wilayah-wilayah konflik.
“Gereja harus hidup, bukan hanya melalui liturgi, tetapi juga lewat kelompok-kelompok kategorial dan komunitas doa. Semua anggota gereja harus bergerak bersama seperti satu tubuh,” kata Mgr. Bernard.
“Sekali lagi, terima kasih atas sambutan, hospitalitas, dan persaudaraan yang luar biasa. Tuhan memberkati kita semua,” kata Mgr. Bernard dengan penuh haru.
Jurnalis dan editor. Separuh perjalanan hidupnya menjadi penulis. Menghidupkan kata, menghidupkan kemanusiaan.