Surakarta, Katolikana.com – “Keluarga merupakan akar dan pondasi bagi pendidikan serta iman anak. Anak-anak akan bertumbuh pendidikannya, mencapai keberhasilan kelulusan di pendidikan formal, bertumbuh dalam iman, jika keluarga mendampingi pendidikan anak, terlibat dalam kegiatan gerejawi dan mengolah rohani melalui refleksi, meditasi serta mendengarkan Sabda Tuhan.
Berkumpul dalam keluarga mengembalikan semangat awal, mengenang kebersamaan dan menyatukan kasih dalam hidup berkeluarga”.
Demikian ungkapan Romo Albertus Nugroho Widiyono, SJ yang akrab dipanggil Romo Nugie, SJ dalam homili Misa Syukur Keluarga Thomas Didimus di Lingkungan Santo Markus Wilayah Santo Andreas Paroki Santo Paulus Kleco, Surakarta, pada Selasa (25/8/2026) Pukul 18.30 WIB.
Ujub Perayaan Ekaristi : Syukur atas kelulusan putrinya dari Universitas Negeri Yogyakarta, Kumpul Keluarga dan mohon berkat bagi keluarga.
Kumpul keluarga
Misa syukur keluarga merupakan perayaan iman, yang dihadiri anggota keluarga, keluarga besar dan umat lingkungan.
Selain bersyukur atas pendampingan Tuhan dalam perjalanan pendidikan anak, Misa keluarga menjadi ungkapan syukur keluarga karena bisa berkumpul bersama dan meneguhkan keeratan keluarga yang beberapa waktu lamanya terpisah karena berdomisili di berbagai tempat.
Keluarga menjadi pendukung utama perkembangan anak. Ibu selalu punya waktu untuk mendoakan putra-putrinya, dimanapun putra putrinya berada.
Hati seorang ibu ibaratnya memiliki “telepati” kemampuan jarak jauh mendeteksi kondisi batin putra putrinya. Bahkan ketika anaknya sakit, seorang ibu hatinya merasa gelisah.
“Ketika saya mendapat misi jalan kaki dari Purwokerto ke Indramayu, tanpa bawa uang, tidak boleh naik kendaraan, ‘ngemis’, ibu saya mendapat berkat “ingkung” atau “ayam goreng utuh”. Adik saya Romo Hartono cerita pada ibu: “Ibu hari ini kita dapat berkat ayam goreng utuh, kita bisa makan enak, tetapi Mas Nugie (Romo Nugie) tidak tahu bisa makan atau tidak? Karena saat ini Romo Nugie jalan kaki dari Purwokerto ke Indramayu. “ngemis” dapat atau tidak, kita tidak tahu”.
“Mendengar kata-kata adik saya Romo Hartono, ibu saya tidak jadi makan ayam. Bahkan mulai saat itu juga ibu ikut berpuasa seminggu. Itulah kasih ibu. Ketika tahu anaknya prihatin, ibu juga semakin ikut prihatin”, kata Romo Nugie.
Hubungan yang meneguhkan
“Hubungan orang tua dengan anaknya, meneguhkan. Kadang-kadang pengalamannya lucu, beraneka cerita. Bahkan ada yang aneh. Tetapi justru di situlah jika kita berani melihat, Tuhan mendidik dengan kisah kesedihan, kebahagiaan, dan tragedi.
Kehilangan bapak ketika saya duduk di klas 3 SMA menjadikan saya melakukan discerment panggilan. Peneguhan keluarga membantu saya untuk melanjutkan panggilan dengan ketekunan doa dan kesabaran.
Permenungan berdasarkan Injil, bagaimana mendalami pewartaan sabda, mendalami doa kita untuk membersihkan bagian dalam cawan kita, bagian dalam rohani kita, menjadi penting.
“Hidup kita seringkali dipengaruhi oleh faktor eksternal,faktor luar. Moralitas, kejujuran, kesetiaan, komitmen sungguh-sungguh teruji terutama bangsa kita.
Kita tidak bisa mengubah bangsa ini, namun kita bisa memulai mengubah keluarga kita. Membangun keluarga dengan baik. Mengeluarkan apa yang baik dalam diri kita sebagai ungkapan kasih”, kata Romo Nugie mengakhiri homilinya.
Ketercapaian pendidikan, kumpul keluarga, memohon rahmat perjalanan hidup dan keluarga selanjutnya, merupakan perjalanan rohani.
Umat diajak belajar menggantungkan diri pada belas kasih Tuhan dan kebaikan anggota keluarga yang mendukung perjalanan “peregrinasi” sepanjang jalan hidup. (*)
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta