Jakarta, Katolikana.com – Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia meluncurkan kampanye gerakan penyelamatan hutan bersama lembaga lintas iman bertajuk “No Forests, No Future”, tak ada hutan, tak ada masa depan, pada Jumat (17/4/2026) di Rumah Econusa, Menteng, Jakarta. Gerakan moral lintas iman tersebut untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam perlindungan hutan dan masyarakat adat.
Peluncuran kampanye “No Forests, No Future” dihadiri oleh para tokoh agama, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan jurnalis yang menaruh minat pada masalah lingkungan. Kegiatan ini merupakan fase ketiga IRI Indonesia (2025-2029) sekaligus momen konsolidasi gagasan dan komitmen bersama merespons krisis hutan yang semakin mendesak.
Hening Parlan, Fasilitator Nasional IRI Indonesia, mengungkapkan bahwa daam dekade terakhir hutan tropis di Indonesia semakin berkurang luasnya secara signikan. Kondisi ini telah mengkhawatirkan bagi kehidupan masyarakat yang sangat bergantung dengan keberadaan hutan.
“Hutan bukan sekadar bentang alam. Ia menjaga air yang kita minum, menstabilkan iklim, dan menopang kehidupan masyarakat adat. Jika hutan hilang, maka masa depan juga ikut hilang,” kata Hening Parlan.
Relevansi Gerakan Lintas Iman bagi Keselamatan Hutan
Dalam peluncuran “No Forests, No Future”, yang dihadiri tokoh lintas iman, diantaranya dari komunitas agama Hindu, Budha, Islam, Kristen, dan Katolik, memunculkan diskusi melihat kembali peran lembaga-lembaga keagamaan dalam merespons persoalan hutan dan lingkungan, seperti dampak penambangan dan pembabatan hutan yang terjadi di Papua dan Maluku.
Masyarakat Indonesia, yang lebih dari 90 persen penduduknya memeluk agama, menjadi potensi besar bagi gerakan kolektif penyelamatan hutan, yang tidak hanya tersebar di Maluku, Papua, namun juga di wilayah lain, seperti di Kalimantan dan Sumatera.
Hening Parlan, yang juga aktivis lintas iman yang bergerak di bidang lingkungan, yang kini berfokus pada penyelamatan hutan, bersama lembaga-lembaga lintas iman melalui IRI-Indonesia menegaskan bahwa gerakan moral menjadi landasan penting dalam melakukan perubahan. Menurutnya, selama ini pendekatan perlindungan hutan banyak bertumpu pada teknokratis, dan dimensi moral dan nilai belum menjadi kekuatan perubahan yang maksimal.
“Ini adalah kekuatan moral yang sangat besar. Tapi kekuatan ini tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Ia harus menjadi gerakan bersama,” kata Hening. Ia mengibaratkan irama musik kendang yang ditabuh sendiri-sendiri kurang terdengar besar gemanya, seperti layaknya gong yang mengeluarkan gema suara yang besar.
Menurut IRI-Indonesia, seperti diungkapkan dalam rilisnya, peluncuran kampanye hutan ini tidak terlepas dari kondisi hutan Indonesia yang terus tertekan akibat ekspansi perkebunan, pertambangan, pembalakan, hingga pembangunan skala besar. Laju deforestasi yang tinggi tidak hanya berdampak pada hilangnya tutupan hutan, tetapi juga mempercepat krisis iklim dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat.
Para tokoh lintas iman yang berkumpul dalam forum itu mengungkapkan respons dan gagasan tak hanya masalah perusakan hutan, namun isu-isu pembangunan yang berdampak pada alam dan ciptaan Tuhan, namun mengenai keadilan sosial, ekonomi, dan tanggung jawab moral atas krisis lingkungan di Indonesia.
Para tokoh agama, di dalam struktur kepengurusan IRI-Indonesia, merupakan anggota dari Advisory Council. Salah satu perwakilan Advisory Council IRI Indonesia, M. Ali Yusuf mengungkapkan perlu gerakan solid yang melibatkan kekuatan agama, masyarakat adat, akademisi, dan organisasi sipil.
“IRI ingin mengakselerasi perlindungan hutan tropis dengan menghimpun kekuatan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Ini adalah gerakan bersama,” kata M. Ali Yusuf.
Dr. Fachruddin Mangunjaya, Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian UNAS sekaligus Advisory Council IRI dari unsur akademisi menyoroti perilaku manusia yang berdampak pada masalah hutan saat ini.
“Hutan sebenarnya tidak bermasalah. Manusialah yang bermasalah. Kita membutuhkan hutan, dan hutan juga membutuhkan kita. Di sinilah nilai agama menjadi penting untuk mengendalikan diri,” kata Fachruddin.
Ia menambahkan, ajaran agama memiliki perangkat moral seperti larangan merusak, dorongan berbagi, serta pengendalian diri yang dapat menjadi fondasi kuat dalam menjaga lingkungan.
Dari perspektif keagamaan, perwakilan Advisory Council IRI yang berasal dari Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLH SDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr. Suhardin menegaskan bahwa gerakan moral membutuhkan ketekunan dan kesabaran.
“Gerakan moral memang membutuhkan waktu dan kesabaran. Namun, kekuatan moralitas adalah fondasi utama yang mampu menjaga arah perubahan. Kita berada di jalur yang benar, tinggal bagaimana gerakan ini dijalankan dengan perhitungan yang matang,” kata Suhardin.
Ia juga menekankan pentingnya strategi yang tepat, mulai dari pemilihan isu, penguatan organisasi, hingga penyebaran gerakan ke daerah melalui jaringan yang solid.
Namun demikian, tantangan di lapangan tidak sederhana. Sejumlah peserta diskusi menyoroti kompleksitas kebijakan yang kerap tidak berpihak pada perlindungan hutan dan masyarakat adat. Bahkan, dalam beberapa kasus, pembangunan di satu wilayah justru memicu kerusakan di wilayah lain.
Erasmus Chayadi, perwakilan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mengingatkan bahwa tantangan ke depan semakin besar, terutama karena praktik eksploitasi kini kerap dibungkus dengan narasi “hijau” atau berkelanjutan.
Meski demikian, harapan tetap terbuka. Gerakan moral lintas iman dinilai mampu menjadi kekuatan alternatif ketika jalur advokasi kebijakan mengalami kebuntuan.
“Gerakan moral bisa disuarakan kapan saja dan oleh siapa saja. Ini kekuatan yang tidak boleh diremehkan,” ujar salah satu peserta.
Fondasi IRI Indonesia: Gerakan Moral dan Aksi Kolektif
Kampanye “No Forests, No Future” dirancang tidak berhenti pada tataran wacana. IRI Indonesia menyiapkan pendekatan terintegrasi yang mencakup peningkatan kesadaran publik, mobilisasi aksi kolektif, serta dorongan terhadap perubahan kebijakan.
Selain itu, penguatan jaringan di tingkat daerah melalui pembentukan dan aktivasi chapter menjadi salah satu fokus utama. Selama lima tahun terakhir, IRI Indonesia telah membangun sejumlah jaringan lokal, namun implementasinya dinilai masih perlu diperkuat.
“Kita sudah punya fondasi. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menghidupkan kembali energi di daerah agar gerakan ini benar-benar berdampak nyata,” kata Hening.
Bagi Hening, gerakan kampanye hutan yang dilakukan IRI Indonesia yang dilakukan secara kolaboratif akan memperkuat gerakan, seperti kolaborasi media dan generasi muda dalam memperluas pesan dan kesadaran terhadap perlindungan hutan.
“Hutan adalah rumah bersama. Menjaganya bukan pilihan, melainkan tanggung jawab moral kita semua,” kata Hening.
Pendekatan IRI Indonesia juga menggabungkan nilai keagamaan, pengetahuan ilmiah, dan advokasi kebijakan. Kombinasi ini diharapkan mampu menjangkau masyarakat luas sekaligus memengaruhi pengambil keputusan.
Ketua Permabudhi, Prof. Philip K. Widjaja, yang juga merupakan Advisory Council IRI Indonesia menilai hutan tropis Indonesia memiliki keunikan yang sangat penting bagi kehidupan global.
“Hutan di kawasan khatulistiwa memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa dan saling terhubung. Kehilangannya akan berdampak luas, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga dunia,” kata Philip.
Jurnalis dan editor. Separuh perjalanan hidupnya menjadi penulis. Menghidupkan kata, menghidupkan kemanusiaan.