Refleksi keteladanan Ibu Magdalena Daemen Pendiri Kongregasi OSF.
Yogyakarta, Katolikana.com – Yayasan Marsudirini menggelar “NoBar” Nonton Bareng launching film berjudul “Bunga Lily di Taman Revolusi”. Nonton Bareng di gelar pada Selasa (26/5/2026), pukul 10.00 -13.00 di Auditorium Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Hadir dalam acara ini Wakil Rektor III Universitas Sanata Dharma Caecilia Tutyandari, Ph.D., Pater Yoseph Iswarahadi SJ dan Pater FX Murti Hadi Wijayanto, SJ., dari Studio Audio Visual /PPPM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, penulis naskah film , pemain film, pendukung produksi, para siswa SMP Marsudirini dan SMA Marsudirini Muntilan, SMP Marsudirini dan SMA Marsudirini Santa Maria Yogyakarta, Para mahasiswa ASMI Santa Maria Yogyakarta dan tamu undangan.
Film Bunga Lily di Taman Revolusi pada putaran pertama akan diputar untuk para siswa sekolah Marsudirini dan komunitas OSF, putaran kedua akan dipertimbangkan untuk diputar bagi umat maupun masyarakat.
Proses kreatif yang didasarkan pada refleksi yang mendalam menjadi buah-buah tontonan yang menjadi tuntunan dalam meneladan keutamaan Ibu Magdalena Daemen pendiri kongregasi OSF.
Berikut ini proses kreatif yang dinarasikan dan menjadi refleksi pembuatan film Bunga Lily di Taman Revolusi dalam video.
- Saund track film
- Tujuan pembuatan film
- Proses kreatif pembuatan film
- Kesan pemeran film
- Potongan film yang meneguhkan semangat Deus Providebit, Tuhan yang menyelenggarakan
Terbitnya Novel Bunga Lily di Taman Revolusi
Berdekatan dengan waktu launching film Bunga Lily di Taman Revolusi, salah satu dari penulis naskah , Andreas Jarot Surya Legowo juga menulis novel dengan judul yang sama dengan judul film yang diterbitkan Penerbit Kanisius Yogyakarta. Melalui intreprestasi dan imajinasi dan didasarkan pada referensi sejarah Magdalena Daemen ia menuangkan dalam sebuah novel.
Menurut Pater Iswarahadi, SJ novel ini sebagai novel rohani. Sedangkan menurut Sr. M. Patrice, OSF, novel ini menjadi peneguh refleksi meneladan Ibu Magdalena Daemen yang memiliki kesediaan diri menangkap sapaan Tuhan lewat ketekunan, perjuangan dan keberanian iman.
Proses kreatif yang dilakukan para guru Marsudirini yang berkolaborasi dengan Universitas Sanata Dharma dan Penerbit Kanisius memberikan jejak literasi dalam bentuk media audio visual (film) dan tulis (novel) sebaga pemantik untuk selalu meneguhkan refleksi dan menguatkan literasi.
Link terkait launching Film Bunga Lily di Taman Revolusi
Refleksi bunga lily
Bunga lily dalam tradisi dan legenda Kristen menggambarkan iman Kristen yang tahan uji dalam menghadapi kesulitan. Keindahannya saat mekar, eksotis, merujuk pada keindahan tiap orang beriman. Salah satu bunga yang terkenal adalah Easter Lily yang namanya diambil dari kejadian di mana darah Yesus Kristus yang disalib terjatuh ke bunga lily.
Referensi yang lain legenda bunga lily berakar dari dua peristiwa kisah sengsara Kristus. Di Taman Getsemani tradisi menyebutkan ketika Yesus berdoa dalam penderitaan yang mendalam, peluh dan tetesan darah-Nya jatuh ke tanah dan kemudian tumbuhlah bunga lily putih yang merekah. Di Bukit Golgota saat Yesus disalibkan, tetesan darah-Nya yang jatuh ke tanah suci menumbuhkan bunga lily putih (sering disebut Madonna Lily) sebagai simbol kemurnian, pengampunan, dan pengharapan.
Sementara secara historis dan teologis, bunga lily putih (Lily Paskah) telah lama menjadi simbol penting kebangkitan, kesucian Kristus, serta lambang pengharapan akan kehidupan yang baru.
Secara khusus, Bunga lily pada logo Yayasan Marsudirini melambangkan kesucian, ketulusan hati dan kemurnian niat dalam mendidik tunas muda. (*)
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta