Surakarta, Katolikana.com – Rumah Sakit Brayat Minulya Surakarta menggelar kegiatan Pembinaan Jejaring Rujukan dan IHT Kegawatdaruratan Maternal, Neonatal, KB dan Stunting.
Kegiatan ini dihadiri dokter umum RS Brayat Minulya 10 orang, Bidan dan perawat RS Brayat Minulya 27 orang, Bidan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) 12 orang yang terdiri dari Klinik Assisi, Puskesmas Manahan, Puskesmas Gilingan, Puskesmas Banyuanyar, Puskesmas Stabelan dan Puskesmas Sibella.
Kegiatan dilaksanakan Sabtu (11/7/2026) di Aula RS Brayat Minulya Surakarta.
Narasumber materi Maternal dr. Daniel Dwi Nugroho, Sp.OG dan materi Neonatal dr. Putri Nilla Shanty, Sp A. Keduanya dari RS Brayat Minulya Surakarta.
Tujuan kegiatan
Tujuan diselenggarakan kegiatan menurut Ketua Penyelenggara dr. Elisabeth Susilowati, MM Kepala Bagian IGD RS Brayat Minulya untuk mencegah Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), meningkatkan pelayanan rujukan di RS Brayat Minulya, meningkatkan Ketatalaksanaan Kewaspadaan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal, membina jejaring terkait rujukan KB non alami, dan update ilmu stanting.
Sambutan Direktur Medis
Direktur Medis RS Brayat Minulya dr. Albertus Septian Rahardi, dalam kata sambutan mengungkapkan bahwa pemerintah memberikan perhatian besar bagi ibu dan anak sebagai generasi masa depan. RS Brayat Minulya dengan berjejaring menanggapi dengan ikut menekan AKI dan AKB serta meningkatkan kompetensi bidan dan perawat. Dokter Septian mengingatkan peserta untuk berperan mendampingi keluarga agar tidak mengalami 3 Terlambat dan 4 Terlalu.
“Tiga Terlambat” adalah terlambat memutuskan, terlambat mencapai tempat pelayanan kesehatan dan terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.
Sementara “Empat Terlalu” adalah terlalu muda melahirkan (usia ibu kurang dari 21 tahun), terlalu tua melahirkan (usia ibu lebih dari 35 tahun), terlalu sering melahirkan (lebih dari dua anak), dan terlalu dekat jarak kelahiran (jarak kelahiran kurang dari tiga tahun).
Perdarahan pasca persalinan
Mengawali pemaparan materi dr. Daniel Dwi Nugroho, SP. OG mengajak peserta mengingat kembali pemahaman akan Perdarahan Post Partum dan melakukan diagnosis perdarahan pasca persalinan.
Darah nifas atau perdarahan setelah melahirkan adalah hal yang normal jika berlangsung hingga 3–6 minggu. Namun, jika darah merembes lebih dari 1 pembalut penuh per jam atau disertai pusing, demam, dan nyeri hebat hal ini perlu diwaspadai, terutama jika:
Kehilangan darah > 500 mL setelah persalinan pervaginam
Kehilangan darah > 1000 mL setelah persalinan sesar (SC)
Setiap kehilangan darah yang memiliki potensia untuk menyebabkan gangguan hemodinamik.
Selanjutnya dr. Daniel mengajak peserta melakukan Analisis Perpanjangan Masa Hidup, Peluang Survival dan Waktu Resusitasi serta Penatalaksanaan Khusus
Perdarahan Pasca Persalinan.
Deteksi dini stunting
Pada sesi kedua, narasumber dr. Putri Nilla Shanty, Sp.A mengajak peserta untuk mampu melakukan Deteksi dan Intervensi Dini Stunting.
Stunting adalah gangguan pertumbuhan pada anak yang ditandai dengan perawakan pendek dimana tinggi/panjang badan tidak sesuai dengan usia (PB/U atau TB/U < -2 SD). Penyebabnya ialah kurang gizi kronis, asam amino esensial yang lengkap dan cukup yang terdapat dalam protein hewani.
Penyebab kekurangan gizi kronis : asupan gizi tidak adekuat, kebutuhan gizi yang meningkat dan gangguan absorbsi nutrisi.
“Stunting harus dicegah pada usia kurang dua tahun karena stunting memengaruhi perkembangan otak. Maka gerakan memberikan ASI sesuai ajakan WHO: Setiap bayi seharusnya mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupannya, untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, setiap bayi harus mendapat MP-ASI yang cukup serta aman ASI diteruskan sampai usia 2 tahun atau lebih perlu dilakukan”, kata dr. Putri Nilla Shanty, Sp.A.
Selanjutnya dr. Putri Nilla Shanty memaparkan materi prinsip pencegahan stunting dan Kegawatdaruratan Neonatal (Masalah pada BBLR dan Bayi Prematur).
Kesan peserta
“Kami dari Puskesmas Manahan berjejaring dengan Rumah Sakit Brayat Minulya, mengikuti kegiatan Jejaring Rujukan dan IHT Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal, sungguh mendapatkan banyak manfaat, karena sama-sama melakukan pelayanan pada masyarakat yang bersama-sama berupaya menurunkan angka kematian dan kesakitan pada ibu dan bayi. Selain itu dapat menambah dan merefresh skill dan pengetahuan dalam penanganan kasus maternal dan neonatal. Selain itu juga menyelaraskan jejaring antara puskesmas dan rumah sakit sehingga semakin kooperatif dan sinergis”, kata Fitri Hastuti Bidan Puskesmas Manahan Surakarta yang ikut hadir dalam kegiatan.
Profil RS Brayat Minulya
Pada saat IHT drg. Ary Kurniawan Kepala Bagian Humas dan Marketing berkesempatan memaparkan Profil RS Brayat Minulya Surakarta yang saat ini sedang meningkatkan jejaring dengan berbagai pihak untuk menghidupi semangat berjejaring dengan berbagai pihak yang berkehendak baik untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi lebih banyak warga masyarakat. (*)
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta