2 Raja-Raja 11:1-4.9-18.20 dan Matius 6:19-23
Katolikana,com – Hari ini, Gereja menyajikan dua bacaan yang saling berkaitan dalam sebuah kontras yang tajam.
Bacaan Pertama dari Kitab 2 Raja-raja 11:1-4.9-18.20 mengisahkan Ratu Atalya yang matanya gelap oleh nafsu. Ia melihat tahta dan harta sebagai segalanya, sehingga ia membunuh semua keturunan raja untuk mengamankan kekuasaannya.
Di sisi lain, Injil Matius (6:19-23) mengajar kita tentang mata sebagai pelita tubuh.
Pandangan mata
Dua bacaan ini mengajak kita merenungkan apa artinya menjadi “miskin dalam roh” dan bagaimana pandangan mata menentukan harta yang kita kumpulkan.
Kisah Atalya adalah cermin gelap dari manusia yang terikat pada harta duniawi. Ketakutan kehilangan tahta dan harta mendorongnya melakukan kekejaman yang luar biasa. Namun, ironisnya, semua usahanya untuk mempertahankan kekuasaan justru berakhir dengan kematiannya sendiri. Hidupnya dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran, sebuah gambaran nyata tentang mereka yang mengumpulkan harta di bumi, di mana “ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya”.
Menyinarkan terang
Di tengah kegelapan Atalya, Injil Yesus menyinarkan terang yang berbeda. Yesus mengajarkan agar kita mengumpulkan harta di surga, di mana tidak ada yang dapat merusak atau mencuri.
Logika hidup
Ajaran ini bukan sekadar moralitas, melainkan suatu logika hidup yang sangat praktis: di mana hartamu berada, di situ pula hatimu. Harta duniawi mengikat hati pada ketakutan, sementara harta surgawi membebaskan hati untuk hidup dalam damai.
Sikap batin yang lepas
Kunci untuk memahami semua ini terletak pada ajaran tentang “miskin dalam roh” (Matius 5:3). Menjadi miskin dalam roh bukan berarti miskin harta benda, melainkan memiliki sikap batin yang lepas dari keterikatan pada barang-barang duniawi.
Mata rohani yang bersih ini Yesus ajarkan ketika Ia berkata, “Matamu adalah pelita tubuhmu”.
Mata yang jernih adalah mata yang mampu melihat bahwa harta sejati tidak terbuat dari emas atau kekuasaan, melainkan dari kasih, kebaikan, dan kebenaran yang disimpan dalam hati.
Ajaran tentang “miskin dalam roh” adalah jawaban atas ketakutan Atalya.
Atalya takut kehilangan karena harta yang dikumpulkannya bersifat lahiriah dan dapat dirampas. Sebaliknya, orang yang miskin dalam roh menyimpan harta surgawi di dalam hati. Harta ini tidak dapat dicuri, tidak dapat rusak, dan tidak membuat orang takut kehilangan. Inilah kebebasan sejati yang ditawarkan Kristus: kebebasan dari belenggu ketakutan akan kehilangan.
Ajaran ini sangat relevan bagi manusia modern yang materialistik. Kita hidup di zaman di mana orang dikelompokkan oleh harta, bukan harta dikumpulkan untuk melayani manusia. Banyak dari kita hidup seperti Atalya dalam skala kecil: terobsesi menumpuk kekayaan, mengejar karier, dan mengamankan masa depan, namun hati dipenuhi kecemasan. Yesus mengingatkan bahwa semua usaha ini pada akhirnya sia-sia karena kehidupan di bumi bersifat sementara.
Memeriksa mata rohani
Maka, bacaan hari ini mengundang kita untuk bertobat dari cara pandang yang salah. Kita diajak untuk memeriksa mata rohani kita: apakah jernih atau keruh? Apakah kita melihat harta surgawi atau hanya terpaku pada gemerlap duniawi? Hanya dengan mata yang jernih, kita mampu melihat bahwa harta sejati adalah hidup yang dipersembahkan kepada Allah dan sesama, sebuah kekayaan yang abadi dan tak pernah pudar.
Marilah belajar dari kegagalan Atalya dan terang ajaran Yesus. Semoga kita diberi rahmat untuk menjadi miskin dalam roh, agar mata kita terang melihat harta surgawi, dan hati kita kaya akan kasih yang tidak pernah hilang. Sebab di sanalah letak kebahagiaan sejati, baik di dunia saat ini maupun di kehidupan yang akan datang.
Jumat, 19 Juni 2026
HWDSF
Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.