Medan, Katolikana.com – Asrama Mahasiswa Santo Titus Brandsma yang terletak di Komplek Unika Santo Thomas, Tanjung Sari, Medan, Sumatera Utara dipenuhi oleh para orang tua mahasiswa pada acara temu persaudaraan bersama pengurus asrama selama tiga hari, 29-31 Mei 2026.
Sekitar 100 orang tua mahasiswa bersama keluarga hadir. Mereka dari keluarga 54 orang mahasiswa yang tinggal di asrama dalam menempuh pendidikan di Universitas Katolik Santo Thomas Medan. Sebagian besar berasal dari daerah atau di luar kota Medan. Temu persaudaraan itu dengan tema “Kasih Allah yang Besar Dasar Menggapai Masa Depan yang Besar”.
Asrama Santo Titus Brandsma didirikan oleh Ordo Karmel (O.Carm) sebagai wadah pembinaan karakter, iman, dan pendidikan bagi pelajar dan mahasiswa Katolik dari luar kota. Saat ini, asrama dipimpin oleh Pastor RP Marselinus Monang Sijabat O.Carm sebagai Direktur Asrama bersama Bruder Yohanes S. O.Carm sebagai Bendahara Asrama, yang berupaya mengembangkan bakat, karakter dan kemampuan para mahasiswa asrama ini.
Pastor Monang menjelaskan temu persaudaraan para orangtua mahasiswa asrama digelar setiap sua tahun, dan ini merupakan tahun kedua. Kegiatan ini dilakukan untu memberikan makna proses pendidikan nilai di asrama, sehingga asrama tidak hanya dimengerti sebagai ‘penitipan anak’, tetai menjadi rumah kedua yang menjadi tempat menumbuhkan karakter dan nilai.
“Saya tidak mau selama para mahasiswa kuliah selama ini hanya ketika diantar dan nanti waktu wisuda kita ketemu di tempat wisuda. Saya ingin melibatkan Bapak-Ibu sebagai orang tua melihat sedikit pertumbuhan, perkembangan atau mungkin perubahan terjadi kepada anaknya. Lihatlah sendiri,” ucap Pastor Monang.
Selanjutnya Pastor Monang mengatakan bahwa pihak asrama ingin orang tua menikmati sedikit apa yang diupayakan di asrama ini dan kita kembangkan bakat-bakat para putera sehingga bisa dinikmati. Memang, zaman sekarang, tidak ada lagi anak-anak muda ini yang dipaksa dan semua mau patuh pada aturan asrama. Tetapi itulah satu kebanggaan bahwa dalam diri mahasiswa asrama yang harus ditetapkan bahwa masih sedikit kepatuhan dalam mengikuti sesuatu yang bernilai.
Nilai dan Kualitas Hidup di Asrama
Pastor Monang menjelaskan tentang proses pendidikan mahasiswa di asrama kepada para orang tua. Ia mengungkapkan sesuatu yang bernilai di asrama ini didapat melalui kegiatan dan pekerjaan dari yang kecil-kecil, meskipun ketika bekerja ada yang tidur. Kepatuhan para mahasiswa asrama ini juga terlihat dari kemauannya, mungkin terpaksa sebagian untuk mengikuti doa dan ekaristi tetapi masih ada nilai kepatuhan. Lalu, ada nilai positif dalam diri mereka yang masih mau bersosialisasi dan ini merupakan pelajaran yang besar para mahasiswa asrama ini untuk melangkah lebih jauh lagi.
“Dia akan dijumpai orang lain ketika menerima gelar sarjana, bukan kita lagi tetapi orang lain yang akan mereka hadapi. Maka sosialisasi yang ada di asrama ini menjadi pembelajaran penting bagi anak-anak kita ini bagaimana bersosialisasi, berinteraksi dengan beda suku dan sebagainya,”ujar Pastor Monang.
Keberadaan asrama ini mencoba membuat mereka berkembang, tambah Pastor Monang, sebagai seorang Karmelit, tujuan dari temu persaudaraan ini sekaligus mau mengaplikasikan nilai spiritualitas persaudaraan yang dihayati agar para orang tua mahasiswa menghayati sebagai satu keluarga kita membangun dan mendidik.
Pada kesempatan ini Pastor Monang menegaskan kembali bahwa anak-anak yang telah hadir di rumah ini bukan dititipkan tetapi diserahkan kepada kami untuk bersama-sama kita membawa karakter mereka di rumah ini bukan hanya asrama tetapi ini rumah ke 2 bagi mereka. Karena di sini ada orang tuanya, di mana yang pertama di rumah ada orang tuanya.
Komisaris Ordo Karmel Sumatera, RP. Yohanes Rudy Kartolo Malau O.Carm yang turut menghadiri kegiatan temu persaudaraan para orang tua mahasiswa asrama ini sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan Pastor Monang bersama Bruder Yohanes S. O.carm dalam mengelola asrama putera ini.
Di hadapan para orang tua mahasiswa asrama, Pastor Kartolo dalam sambutannya mengatakan bahwa para orangtua kita bukan orang kaya, namun berjuang untuk pendidikan anak-anaknya, supaya bisa mendapatkan yang terbaik. Ini mungkin yang kita rasakan menjadi yang terbaik yang sesuai pemikiran mereka.
Kata kuncinya, kata Pastor Kartolo, adalah dari pihak orangtua menunjukkan yang terbaik kepada anaknya. Jadi, kalian anak-anaknya harus tunjukkan juga yang terbaik. Supaya kalian bisa menyelamatkan dan memenuhi kerinduan-kerinduan orang tua untuk hal-hal yang terbaik diraih.
Menunjukkan Talenta dan Kasih
Temu persaudaraan ini mendapatkan kesan dari para orang tua mahasiswa. Harfi Marudut Manik dan Netty Br. Ginting menyatakan sungguh berbahagia dan bersyukur anaknya bisa dididik di asrama ini. Kami sangat percaya bisa menitipkan anak kita yang ada di sini.
“Kami juga tetap berharap supaya anak kami lebih berkembang supaya nantinya setelah selesai dari sini, buah-buah dari asrama ini pun nanti bisa digunakan di masyarakat dan harapan juga semoga sangat berguna dimanapun berada dengan buah-buah kasih Allah bisa dimanfaatkan,” ucap Netty.
Hal senada disampaikan Harfi Marudut Manik bahwa kita sebagai orangtua selalu penuh sukacita, semangat dan sehat selalu. Kami orang tua dari kampung berusaha menyekolahkan anaknya di Medan ini hingga kuliah bagaimanapun diperjuangkan untuk mewujudkan cita-cita anaknya.
Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Paroki Santa Maria Ratu Rosari Tanjung Selamat Medan, Lamhot Sitorus mewakili Pastor Paroki Tanjung Selamat Medan menyatakan acara ini telah mempererat kasih orangtua dengan anak-anak asrama dan pembina di asrama ini.
“Anak-anak (mahasiswa) ini jadi tahu sungguh cintanya orangtua kepada kalian para mahasiswa asrama, sehingga apapun pekerjaan orang tua di kampung ditinggalkan demi acara ini. Itulah besarnya pengorbanan orangtua kepada anak-anaknya,” kata Lamhot Sitorus.
“ Kalau boleh putera-putera dari asrama ini bisa ikut serta membantu pelayanan liturgi di paroki ini,” katanya.
Kegiatan Temu Persaudaraan para orang tua mahasiswa asrama ini juga diisi dengan rekoleksi bertema “Pulang Dalam Pelukan Kasih”, diberikan oleh Vikaris Episkopal Pastoral Keuskupan Agung Medan, RP. Serafin Dany Sanusi, OSC.
Rekoleksi ini untuk membangun hidup yang bermakna, seperti tentang kesuksesan, kebebasan dan kedewasaan di asrama, solidaritas, dan memahami perjuangan orang tua sebagai bagian dari panggilan hidup.
Setelah rekoleksi dilanjutkan acara game membangun rasa persaudaraan yang dibawakan Bruder Yohanes S. O.Carm. Kemudian sore hari, sesi sharing orang tua bersama Direktur Asrama dan Komisaris Ordo Karmel Sumatera. Dilanjutkan sesi pemutaran video mengenai kegiatan sehari-hari para mahasiswa dan kepanitian acara temu persaudaraan, serta sesi malam seni karya mahasiswa.
Acara ini ditutup dengan perayaan Misa yang dipimpin RP. Yohanes Rudy Kartolo Malau O.Carm didampingi RP. Marselinus Monang Sijabat O.Carm, RP. Ignatius Sukarno O.Carm dan RD. Hermanus Sahar.
Usai Misa dilanjutkan acara temu ramah-tamah yang berisikan kata-kata sambutan, persembahan tarian suku Batak Toba, Nias dan Karo. Lalu, penampilan para Suster SFD membawakan tari dan lagu. Kemudian diikuti penampilan dari para mahasiswa asrama stambuk 22, 23, 24 dan 25. Sebelum acara ditutup dengan doa, manotor bersama sambil menerima pemberkatan dari orang tua.
Editor: Basilius Triharyanto
Kontributor Katolikana, tinggal di Paroki St. Maria Ratu Rosari Tanjung Selamat Medan, Keuskupan Agung Medan.