Labuan Bajo, Katolikana.com – Sukacita besar menyelimuti umat Paroki St. Yosef Reweng pada Rabu (18/6/2026), ketika Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menerimakan Sakramen Krisma kepada 610 umat yang terdiri dari anak-anak sekolah tingkat SD hingga SMA serta umat dewasa.
Perayaan ini menjadi momen iman yang istimewa, bukan hanya bagi Paroki Reweng, tetapi juga bagi Keuskupan Labuan Bajo yang tengah menghidupi Tahun Pastoral Persekutuan Sinergis. Kehadiran ratusan umat, keterlibatan keluarga, sekolah, paroki, dan keuskupan menjadi gambaran nyata Gereja yang berjalan bersama dalam semangat persaudaraan dan kerja sama.
Dalam kunjungan ke Paroki Reweng Mgr. Maksi didampingi oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo, Rm. Rikardus Manggu, Pr, Sekretaris Jenderal, Rm. Frans Nala, Pr, dan Direktur Puspas, Rm. Charles Suwendi, Pr.
Tiba di Paroki Reweng, suasana hangat dan penuh kegembiraan langsung terasa. Rombongan disambut dengan tarian adat “tiba meka” di pintu gerbang pastoran dan dilanjutkan dengan penerimaan adat “caca selek dan tuak-manuk kapu”.
Ratusan umat memadati halaman Gereja St. Yosef Reweng untuk menyambut sang gembala. Dalam prosesi penyambutan, Mgr. Maksi menyempatkan diri menyapa umat, berjabat tangan, bahkan memberkati anak-anak dan bayi dengan tanda salib di dahi mereka.
Dalam homilinya, Mgr. Maksi menyampaikan tiga pesan penting yang menjadi refleksi mendalam bagi para penerima Krisma dan seluruh umat yang hadir. Pertama, tentang kasih Tuhan yang terus mengalir bagi umat-Nya. Mgr. Maksi menggambarkan kasih Tuhan seperti mata air yang tidak pernah kering dan selalu mengalirkan rahmat kehidupan bagi semua orang.
“Tanpa kasih Tuhan, hidup kita tidak akan bertumbuh dan berbuah. Sakramen Krisma hari ini menjadi tanda nyata bahwa Allah terus mencurahkan kasih dan rahmat-Nya kepada kita, terutama kepada 610 saudara-saudari yang menerima Krisma hari ini,” ungkapnya.
Karena itu, ia mengajak para penerima Krisma untuk terus bertumbuh dalam kasih dan membagikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam keluarga, sekolah, lingkungan kerja, maupun masyarakat.
Pesan kedua yang disampaikan adalah tentang lidah-lidah api Roh Kudus. Mengacu pada peristiwa Pentakosta, Mgr. Maksi menjelaskan bahwa para rasul mengalami kuasa Roh Kudus melalui lidah-lidah seperti nyala api yang memenuhi diri mereka dan memberi keberanian untuk berbicara dalam berbagai bahasa.
“Itulah kuasa Roh yang membarui dan mengubah para murid. Hari ini kita juga menerima percikan lidah-lidah api itu, yang membakar semangat kita untuk bersaksi tentang Kristus dan mewartakan Injil-Nya di tengah dunia,” tegasnya.
Menurutnya, Roh Kudus bukan hanya menjadi tanda iman, tetapi juga kekuatan yang menghidupkan semangat pelayanan, persaudaraan, dan keberanian untuk menjadi saksi Kristus dalam kehidupan nyata.
Pesan ketiga menyentuh panggilan setiap orang beriman untuk menjadi pewarta Injil. Mgr. Maksi mengingatkan bahwa para murid yang sebelumnya terkunci dalam ketakutan setelah wafat Yesus akhirnya menjadi berani karena diteguhkan oleh Sabda Tuhan dan Roh Kudus.
“Hari ini kita semua juga diutus untuk mewartakan Injil dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi saksi Kristus bukan hanya di gereja, tetapi juga melalui cara hidup, perkataan, dan tindakan kita,” katanya.
Perayaan Sakramen Krisma ini sekaligus menjadi gambaran nyata semangat Tahun Persekutuan Sinergis Keuskupan Labuan Bajo. Keterlibatan aktif orang tua, sekolah, paroki, dan umat menunjukkan bahwa pendidikan iman anak-anak tidak dapat berjalan sendiri, tetapi membutuhkan kerja sama semua pihak.
Ketua panitia, Sam Sehadun, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya perayaan tersebut. “Hari ini anak-anak kami menerima kepenuhan inisiasi Kristen melalui Sakramen Krisma. Kami berharap mereka semakin dewasa dalam iman dan mampu menjadi saksi kasih Tuhan dalam hidup sehari-hari,” tuturnya.
Pastor Paroki Reweng, Rm. Benyamin Jegaut, Pr, juga mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam persiapan perayaan. “Perayaan ini berjalan lancar dan khidmat karena adanya komunikasi dan kerja sama yang baik antara paroki, sekolah, dan keluarga. Inilah semangat sinergi yang sedang dibangun dalam Gereja kita,” jelasnya.
Sementara itu, Vikjen Keuskupan Labuan Bajo, Rm. Rikardus Manggu, mengaku sangat terkesan dengan suasana perayaan yang tertib dan penuh khikmat.
“Sudah banyak kali saya mengikuti perayaan Krisma, tetapi baru kali ini saya merasakan suasana yang begitu tenang, tertib, dan khidmat. Saya melihat ada keterlibatan nyata orang tua dan sekolah dalam mendampingi anak-anak mereka. Kerja sama seperti ini sangat penting bagi masa depan Gereja,” ujarnya.
Di akhir perayaan, Mgr. Maksi kembali menegaskan bahwa sukacita hari itu bukan hanya milik Paroki Reweng, tetapi juga seluruh Keuskupan Labuan Bajo.
“Hari ini bukan hanya kamu dan paroki ini yang bersukacita, tetapi juga seluruh keuskupan kita. Ada 610 umat yang semakin dewasa dalam iman dan siap diutus untuk mewartakan Injil. Kiranya anak-anak ini terus bertumbuh dalam kasih dan persaudaraan,” pungkasnya.
Perayaan Sakramen Krisma di St. Yosef Paroki Reweng menjadi tanda hidupnya Gereja yang terus bertumbuh dalam semangat iman, persaudaraan, dan sinergi. Lebih dari sekadar sebuah perayaan sakramental, momen ini menjadi pengingat bahwa Gereja akan semakin kuat ketika seluruh umat berjalan bersama dalam semangat sinodal, solid, dan solider.
Editor: Basilius Triharyanto
Penulis adalah kontributor Katolikana.com di Labuan Bajo.