Makna dan Tujuan Bekerja

2 Tesalonika 3:6-10.16-18

 

Katolikana.com – Bacaan pertama dari liturgi sabda hari ini mengandung pelajaran yang amat relevan.

Surat Paulus kepada jemaat Tesalonika mengandung ajaran tegas: “Barang siapa tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Pernyataan ini bukan sekadar ancaman, melainkan fondasi spiritual tentang martabat manusia. Kerja adalah bagian dari keikutsertaan manusia dalam karya penciptaan Allah.

Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dan salah satu wujudnya adalah kemampuan untuk berkarya, mengolah alam, dan memelihara kehidupan. Karena itu, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan panggilan ilahi yang memuliakan Tuhan.

Paulus mengajarkan agar setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, terutama dalam hal memberi makan. Ia tidak menghendaki adanya orang yang membebani orang lain karena kemalasan.

Ajaran ini menekankan solidaritas yang sehat: menolong sesama itu baik, tetapi jangan sampai pertolongan itu justru mematikan semangat kerja orang lain. Dengan bekerja, manusia menghidupi martabatnya sebagai pribadi yang merdeka dan bertanggung jawab.

Namun, bagaimana jika Paulus hidup di era modern ini?

Ia pasti menyaksikan realitas yang berbeda. Banyak orang menganggur bukan karena malas, tetapi karena mesin dan kecerdasan buatan menggantikan peran manusia. Pabrik-pabrik otomatis, sistem digital, dan penggunaan robot telah menutup ribuan lapangan kerja.

Paulus tentu tidak akan menyalahkan para penganggur. Ia adalah rasul yang peka terhadap situasi nyata. Ia memahami bahwa kemiskinan kini tidak selalu disebabkan oleh kemalasan, tetapi oleh struktur ekonomi yang tidak adil.

Seandainya Paulus masih hidup, ia mungkin akan berseru: “Jangan menghakimi mereka yang menganggur! Ujilah dirimu sendiri, hai para pengusaha dan pemilik modal. Sudahkah kamu menciptakan lapangan kerja? Sudahkah kamu menggunakan teknologi untuk memperluas martabat manusia, bukan menggantikannya?”

Paulus akan mengingatkan bahwa kerja adalah panggilan untuk melayani sesama, bukan sekadar alat produksi. Ia akan mendorong gereja dan masyarakat untuk menciptakan pekerjaan baru yang bermartabat, melatih keterampilan, dan membangun ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil.

Paulus juga akan menekankan bahwa bekerja adalah bentuk kasih. Orang yang beriman tidak boleh tinggal diam melihat saudaranya kelaparan karena tidak ada pekerjaan. Ia akan mengajak semua pihak—pemerintah, industri, dan gereja—untuk bekerja sama mencari solusi. Jangan sampai ajaran “tidak bekerja, jangan makan” dipakai untuk menyalahkan korban ketidakadilan struktural.

Pada akhirnya, Paulus akan meneguhkan kembali damai sejahtera Kristus (ayat 16). Kerja bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menghidupi kasih dan keadilan. Di tengah perubahan zaman, panggilan kita tetap sama: bekerja untuk kemuliaan Allah dan kesejahteraan sesama. Jika pekerjaan sulit didapat, maka kita dipanggil untuk menciptakannya, berbagi, dan tetap percaya bahwa Tuhan menyediakan jalan. Semoga damai Kristus menyertai kita semua dalam upaya mengatasi masalah kerja, pengangguran, kemiskinan, dan ketidakadilan.

Rabu, 26 Agustus 2026
HWDSF

Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.

Bekerja martabat dan meneruskan karya Tuhan
Comments (0)
Add Comment