Suster Felika yang Kerasan di Kampus Muhammadiyah
Kehadirannya di kampus berbasis Islam Muhammadiyah ini adalah bukti nyata inklusivitas yang hidup.

Yogyakarta, Katolikana.com—Sebuah pemandangan kontras namun sejuk sering terlihat di lorong kelas Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

Suster M. Felika Laia, SCMM, berjalan anggun. Ia mengenakan jubah kebiarawatian Katolik lengkap dengan tudung kepalanya. Di sekelilingnya, mahasiswi berhijab menyapa dan berteman dengan senyum ramah.

Suster Felika adalah mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) angkatan 2024. Kehadirannya di kampus berbasis Islam Muhammadiyah ini bukanlah sebuah kecelakaan sejarah. Ini adalah bukti nyata inklusivitas yang hidup.

Pihak kampus tidak menuntut Suster Felika mengubah identitasnya. Ia bebas berbusana sesuai panggilan imannya. Dosen mengajar tanpa membeda-bedakan. Teman-teman sekelas merangkulnya dengan hangat. Di sini, perbedaan melarut dalam semangat mencari ilmu.

Suster Felika Laia SCMM bersama para mahasiswa UAD.

Kampus Terbuka

Anggota Kongregasi Suster-suster dari Maria Bunda yang Berbelaskasih yang kini tinggal di Komunitas Santa Sesilia Yogyakarta ini mengaku alasan utama mantap memilih UAD adalah keterbukaan kampusnya. Menurutnya, UAD sejak awal menerima mahasiswa dari berbagai latar belakang tanpa membeda-bedakan.

“UAD sangat toleran dan menerima siapa saja yang kuliah di sini dengan berbagai keberagaman, baik itu suku, bahasa, maupun agama,” ujar Suster Felika seperti ditulis Warta PTM.

Selama berkuliah, Suster Felika mengaku tetap merasa nyaman beraktivitas di lingkungan kampus. Salah satu hal yang membuatnya merasa dihargai adalah kebebasan untuk tetap mengenakan pakaian kebiaraannya saat mengikuti kegiatan akademik.

“Sebagai biarawati yang tetap mengenakan pakaian kebiaraan di kampus Islam, saya merasa senang dan bisa belajar dengan nyaman karena saya diterima apa adanya. Saya tidak dipaksa menggunakan pakaian yang selayaknya digunakan oleh seorang Muslim, tetapi saya masih diperbolehkan tetap menggunakan jubah saya sebagai biarawati dan tetap studi di UAD. Itulah yang membuat saya senang dan bahagia, bahwa artinya saya tetap dihargai meskipun beda agama dengan mereka,” jelasnya.

Sikap terbuka juga ia rasakan dari para dosen dan sesama mahasiswa di ruang kelas. Penerimaan yang baik dari lingkungan sekitar membuat proses belajar mengajar berjalan lancar. Dalam kesehariannya di kampus, Sr. Felika pun berusaha membangun komunikasi yang aktif dengan teman-teman seangkatannya.

“Terkait dengan respon dosen dan teman-teman pas pertama kali dan selama kuliah bersama itu menyenangkan. Karena para dosen di UAD itu baik dan sangat toleransi sekali. Apalagi dengan teman-teman, saya tetap mencoba memberikan yang terbaik untuk mereka. Kalau saya mengalami kesulitan, saya terus terang mengatakannya kepada mereka,” ungkapnya.

Bagi Suster Felika, pengalaman paling berkesan selama menjadi mahasiswa UAD adalah rasa saling menghargai yang ia dapatkan setiap hari. Berdasarkan pengalaman positif dan momen yang membuatnya merasa nyaman dan diterima di UAD tersebut, ia mendorong calon mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk menempuh studi di UAD.

“Pengalaman saya selama di UAD menyenangkan. Mari kuliah di UAD, kuliahnya seru karena para dosen dan teman-teman sangat menyenangkan dan mereka sangat menghargai perbedaan,” tutupnya.

Keseharian Suster M Felika Laia saat beraktivitas di kampus. Foto: Istimewa

Menarik Benang Merah Sejarah

Keramahtamahan UAD terhadap Suster Felika tidak tumbuh tiba-tiba. Ada akar sejarah yang kuat dan panjang. Kita perlu mundur ke masa lampau pada tahun 1914.

Kala itu, pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, berjalan kaki dari Kauman menuju Muntilan. Tujuannya satu: mendatangi Romo Frans van Lith, SJ, di Kolese Xaverius. Kiai Dahlan tidak datang untuk berdebat akidah. Beliau datang untuk belajar sistem sekolah modern dan manajemen pendidikan guru.

Kiai Dahlan pulang membawa inspirasi besar. Beliau mengadopsi struktur tata kelola sekolah guru milik Romo Van Lith tersebut untuk mendirikan Kweekschool Muhammadiyah—sekolah pencetak guru yang di kemudian hari bertransformasi menjadi Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.

Hubungan kedua tokoh besar ini adalah teladan bagi kita semua. Ideologi dan iman tidak menjadi dinding pembatas untuk saling memajukan kemanusiaan, melainkan pelita di kala redup dan cahaya ketika kelam.

Bunga Toleransi untuk Masa Depan

Kini, lebih dari seabad kemudian, kisah Kiai Dahlan dan Romo Van Lith mewujud kembali. Kisah itu hidup dalam interaksi Suster Felika di kampus UAD. Apa yang ditanam oleh sang Kiai di masa lalu, kini tumbuh menjadi bunga toleransi yang mekar indah. Peristiwa ini membawa pesan baik bagi kebersamaan kita sebagai bangsa.

Pertama, pendidikan adalah ruang universal. Tugas utamanya adalah mencerdaskan manusia, bukan memberi sekat berdasarkan dogma. Di ruang inilah kolaborasi di atas perbedaan dapat tercipta. Kita bisa bergandengan tangan dalam urusan kemanusiaan dan pendidikan tanpa harus mengorbankan keyakinan masing-masing.

Kedua, toleransi sejati bukan sekadar menahan diri dari konflik. Toleransi sejati adalah keberanian untuk membuka pintu rumah kita, menyambut yang berbeda, dan bertumbuh bersama.

Keterbukaan kampus UAD dan keberanian Suster Felika perlahan menghapus rasa curiga. Komunikasi yang jujur dan tulus terbukti mampu meruntuhkan benteng prasangka buruk antarumat beragama yang kerap memecah belah.

Dari sinilah lahir ruang aman untuk semua. Kebersamaan yang sehat hanya akan tercipta ketika kelompok minoritas merasa aman menjadi dirinya sendiri, dan kelompok mayoritas secara tulus melindungi tanpa memaksakan kehendak.

Muhammadiyah melalui UAD telah menunjukkan bahwa merawat iman adalah tidak dengan membenci perbedaan. Ketika institusi Islam dan seorang biarawati Katolik bisa bergandengan tangan demi pendidikan anak usia dini, kita tahu bahwa di masa depan kita tidak pernah kehilangan harapan akan kebersamaan yang menumbuhkan.

“Pokoknya, kalau di Indonesia masih banyak organisasi keagamaan yang peduli pada kesehatan dan pendidikan, maka Indonesia akan baik-baik saja,” kata seorang teman.

Dan UAD adalah salah satu penyemainya. (*)

 

Posong | 7 September 2026 | 21.15 |

Kontributor: Adrian Diarto, pegiat Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Suster FelikaToleransiUniversitas Ahmad Dahlan
Comments (0)
Add Comment