Pameran Kampung Purba Sangiran Tampilkan Replika Manusia Flores Seharga 1 Milyar

Rangkaian acara lomba lari marathon ‘Sangirun’.

0 49

Katolikana.com‘Selamat Datang di Kampung Purba. Tiada tempat yang paling dicintai melebihi kampung. Di mana kaki melangkah pergi, tapi hati tetap di sana. Tidak tujuan paling dirindukan selain kampung.’

Tulisan yang tertampang pada poster ini menyapa dan menyambut pengunjung pameran Sangirun.

Ya, sebagian besar orang memang merasakan suasana yang lebih indah ketika berada di kampung halaman. Inilah yang mendorong Balai Pelestarian Situs (BPS) Manusia Purba Sangiran mengadakan Pameran Kampung Purba di De Tjolomadoe Karanganyar, September 2022 lalu.

Wahyu Istiawan, staf Balai Pelestarian Situs (BPS) Manusia Purba di bidang restorasi. Foto: Visakha Metta.

Wahyu Istiawan, seorang staf BPS mengatakan, Pameran Kampung Purba ini bertujuan menampilkan berbagai fosil, artefak atau benda prasejarah guna mencapai tingkat atau masyarakat yang mengapresiasi cagar budaya.

Pameran Kampung Purba mengangkat tema ‘Jejak Peradaban Prasejarah di Nusantara’ dengan menampilkan batu-batu dan artefak yang digunakan pada zaman prasejarah.

Pameran Kampung Purba mengadakan pameran secara gratis bagi pengunjung.

“Pameran Kampung Purba membagikan berbagai informasi melalui media sosial, seperti YouTube Sangiran Kita, Instagram, TikTok, dan website. Akun media sosial Sangiran memberikan berbagai informasi mengenai rangkaian acara pameran dan lain-lain,” ujar Wahyu.

Infografis

Manusia Purba

Menurut Wahyu, di seluruh Indonesia, hanya pameran ini yang menampilkan manusia purba secara utuh dan kami akan menyelenggarakan setiap tahun.

“Kami menampilkan sejarah, evolusi, dan benda-benda berkaitan dengan manusia purba di seluruh Indonesia,” tambah Wahyu.

Wahyu memaparkan, lokasi benda-benda sejarah pada pameran berasal dari Aceh, Sulawesi, museum nasional, museum geologi karena beberapa daerah belum terdapat tempat yang memadai untuk menyimpan benda sejarah.

“Benda sejarah bagi luar negeri dihargai sangat mahal. Indonesia kaya akan benda-benda bersejarah. Cina menginginkan benda peradaban prasejarah milik Indonesia, namun belum ketemu,” ujar Wahyu.

Sangiran menyimpan berbagai penemuan fosil dan artefak yang ditemukan sisa-sisa peninggalan pada masa lampau.

Restorasi bertugas menyusun fosil maupun artefak yang berserakan menjadi bagian yang utuh.

“Kita dituntut untuk mendatangkan sebanyak mungkin orang, sehingga masyarakat bisa belajar lebih dalam mengenai sejarah pertama mengenai sejarah perkembangan manusia purba,” ujar Wahyu.

“Fokus utama Sangiran untuk mengedukasi pelajar SD, SMP, SMA, untuk mempelajari sejarah manusia purba,” ujar Wahyu.

Pameran ini melibatkan sejumlah Satuan Kerja Kementerian Kebudayaan di Direktorat Jendral Kementerian Kebudayaan, seperti BPS Sangiran, Museum Nasional, Museum Geologi, dan BPCB seluruh Indonesia.

Non Profit

Wahyu menegaskan Sangiran merupakan lembaga non-profit sehingga tidak menarik biaya tiket masuk.

“Biaya untuk operasional serta perawatan manusia purba diberikan tarif biaya administrasi. APBN memberikan biaya untuk mengadakan acara pameran ini sehingga acara pameran ini diadakan secara gratis,” kata Wahyu.

Pameran Kampung Purba menampilkan pembuatan gerabah secara langsung, seperti pada saat di kampung.

Pengunjung dapat memegang dan mencoba beberapa alat sejarah seperti alat tumbuk dan berbagai alat gerabah

Replika Manusia Flores. Foto: Visakha Metta

Manusia Flores

Salah satu replika yang ada di Pameran Kampung Purba yaitu Manusia Flores.

“Manusia purba bernama Manusia Flores yang wujud atau bentuk aslinya ada di Museum Sangiran tidak kami bawa versi aslinya karena sangat rawan rusak. Bentuk aslinya ditemukan secara utuh atau lengkap,” ujar Wahyu.

Wahyu menjelaskan, replika Manusia Flores berbahan dasar silicone rubber yang berkualitas bagus sehingga menyerupai wujud aslinya. Pada replika lain menggunakan bahan dasar gipsum.

“Replika atau mannequin Manusia Flores dibuat di Perancis yang harganya hampir 1 Milyar. Karena pameran Sangiran diadakan secara besar, maka replika tersebut dibawa dan ditampilkan pada Pameran Kampung Purba ini,” ujar Wahyu.

Fosil Homo Erectus menjadi salah satu situs penting dunia yang diakui oleh UNESCO.

“Replika yang ditampilkan pada pameran terbuat dari bahan dasar resin, yang dapat dibuat oleh pengrajin di Indonesia. Resin banyak digunakan untuk membuat patung yang ada di mall-mall,” ujar Wahyu.

Masa Pandemi

Saat pandemi, pemerintah tidak mengizinkan untuk berkerumun atau pembatasan sosial. Pameran hanya menggunakan tulisan saja dan tidak ada bentuk replika manusia purba serta dibuat seminimal mungkin.

Sangiran mengadakan pameran versi kecil tahun 2021. Pengunjungnya adalah peserta lomba lari, warga lokal sekitar Sangiran yang berada di Sragen, dan stakeholder atau pemangku kepentingan, seperti bupati.

Pameran 2022 menjelaskan perjalanan manusia purba lokal di seluruh provinsi di Indonesia.

“Sangiran merencanakan acara pameran di tahun depan yaitu tahun 2023 yang lebih luas atau besar, dengan mengundang berbagai koleksi manusia purba yang dimiliki luar negeri atau seluruh dunia, seperti Perancis, Inggris, dan lain-lain,” ujar Wahyu. (*)

Kontributor: Visakha Metta Madeline

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.