Refleksi ditulis oleh Yoke Harsari Untoro
Surakarta, Katolikana.com – Sebuah cerita tentang desa yang dilanda kemarau panjang. Mata pencaharian mayoritas penduduk sebagai petani, hidup dari hasil sawah dan ladang. Meskipun dilanda kemarau panjang, mereka menaruh pengharapan akan turunnya hujan.
Kepala desa mengajak seluruh penduduk desa untuk berkumpul di lapangan desa, khusus menjalankan ritual doa kepada Tuhan memohon hujan.
Pada hari yang telah ditentukan, seluruh penduduk desa berduyun-duyun menuju ke lapangan. Namun hanya ada satu anak yang membawa payung.
Memantaskan diri
Pemantasan diri dilakukan oleh seorang anak kecil, ketika akan menerima karunia Tuhan. Ibarat akan menerima tamu agung, persiapan diri dan membersihkan rumah menjadi bentuk sikap memantaskan diri.
Saat berdoa seringkali perlu didasarkan pada sikap hati memantaskan diri dengan membersihkan diri dari kemarahan, sakit hati, kebencian, iri hati, dengki bahkan ungkapan :”Tuhan tidak mendengarkan doaku”.
Dalam kesatuan tubuh otak (representasi knowledge), badan fisik (wahana manusia untuk memiliki skill), hati (tempat sebuah desire), dan tubuh energi/eterik/bioplasmik (dipakai oleh tubuh untuk melakukan pemulihan diri dan meningkatkan daya hidup) menjadi daya membentuk kebiasaan (habit), memberikan energi dan :” Imanmu yang menyelamatkan kamu”.
(Lukas 8:46-47; Tetapi Yesus berkata: “Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku”) (…”Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Matius 9:20-22).
Hati dan pikiran dipenuhi oleh kasih, Tuhan berkarya. Kasih memaafkan, jika bisa memaafkan, segala sakit hilang.
Memaafkan dalam Doa Bapa Kami
“Manakah yang lebih mudah, mengatakan, Dosamu sudah diampuni atau mengatakan Bangunlah dan berjalanlah? (Matius 9:5).
Anak manusia berkuasa mengampuni dosa. Dalam Doa Bapa Kami permohonan pengampunan menjadi bentuk pemantasan diri untuk berbicara dengan Tuhan.
Perkataan jalan kebaikan
Ungkapan pepatah Jawa “Pangucap bisa dadi jalaran kabecikan, uga bisa dadi dalaning pati”
Perkataan bisa menjadi jalan kebaikan namun juga bisa menjadi kutukan jalan kematian.
Bijaksana dengan ucapan, karena akan dipatuhi oleh pikiran serta tubuh. Perkataan bisa mendatangkan berkat dan kutukan.
Natas, nitis, netes, dari Tuhan kita ada, bersama Tuhan kita hidup, dan bersatu dengan Tuhan kita bisa lahir kembali.
Kerahiman hati Tuhan untuk manusia salah satunya tertulis dalam doa Bapa Kami.
𝑨𝒎𝒑𝒖𝒏𝒊𝒍𝒂𝒉 𝑲𝒆𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉𝒂𝒏 𝑲𝒂𝒎𝒊, 𝑺𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝑲𝒂𝒎𝒊𝒑𝒖𝒏 𝑴𝒆𝒏𝒈𝒂𝒎𝒑𝒖𝒏𝒊 𝒀𝒂𝒏𝒈 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉 𝑲𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑲𝒂𝒎𝒊.
Karena dengan memaafkan, seseorang dimaafkan. “Dengan mengampuni, kita diampuni” (Fransiskus Assisi). Dengan menunjukkan kemurahan hati, seseorang bisa menerima kemurahan hati. Jika menanam kemurahan hati, memaafkan, akan menuai pengampunan.
“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Matius 5:7)
Refleksi kecil ini mengingatkan diriku untuk memantaskan diri dalam berdoa. (*)
___
Terinspirasi Bacaan Injil, Misa Harian Pagi, 18 Juni 2026. Homili Romo Hibertus Hartono, MSF.
Yoke Harsari Untoro – Umat Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta, gemar menulis.
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta