Daun-Daun Kuning Berguguran

Memaknai cerita kematian akibat Covid-19

0 190

Daun-daun kuning berguguran, pohon-pohon tua tergeletak tak berdaya. Dari kampung ke kampung tenda duka berdiri, sebagian lagi tiada tenda, dan yang berduka serasa ditiup angin puting beliung dan ditelan rasa gamang. Sebab kematian orang yang dicintai dirayakan dalam kesepian. Sendiri.

Jika roda waktu bisa diputar, ingin rasanya dihentikan di bulan Maret 2020, saat wabah belum merajalela, saat kecemasan belum beredar, saat kengerian tentang pandemi belum lagi dimengerti, dan malah disebut mengada-ada. Kematian massal di negeri seberang masih dianggap sekedar hoax, kabar burung, atau sejenis propaganda, bahkan konspirasi semata. Persoalannya, berperang melawan non-human actors belum dimengerti ada.

Secara alamiah pandemi muncul dalam siklus abad. Meskipun munculnya pandemi merupakan proses alamiah atau sesuatu yang natural, pandemi bukan berarti tidak bisa dihadapi dengan kalkulasi dan perencanaan. Dari sekian catatan masa lampau, seharusnya bisa dipelajari bahwa model transmisi virus bisa dicegah. Tetapi tidak semua pemimpin atau pejabat publik mempunyai nalar atau rasionalisme yang kuat, sebagian lagi tenggelam dalam bebalisme. Sehingga ketika kematian tragis terjadi tanpa terkendali, orang hanya mampu mengatakan ‘seandainya’, tanpa mampu memperbaiki apa yang salah.

Batu Badaon (Batu Berdaun)
Dalam cerita rakyat yang paling sederhana yang dikenal tanah ini, ada cerita tentang Batu Badaon. Cerita ini cenderung membuat sedih, bahkan ketakutan tersendiri untuk anak-anak. Saya sendiri tidak ingin mendengar ulang cerita itu. Cerita ini biasanya dituturkan untuk mengingatkan anak-anak tentang penghormatan atas orang tua.

Singkatnya dalam cerita rakyat Batu Badaon dituturkan tentang bagaimana seorang Ibu ditelan batu badaon, karena anak-anak tidak mendengarkan nasehatnya. Ia lalu pergi dan menghadap batu yang ditutupi daun-daun, menangis dan menyanyi. Perlahan mulut batu membuka, dan menelannya. Lalu ia hilang dan anak-anaknya hanya menangis. Tapi Mama sudah hilang, ditelan Batu Badaon.

Ya, Batu Badaon adalah batu yang bisa membuka dan menelan. Dulu di Kupang, sebelum perumahan muncul menutupi batu-batu karang, biasanya di depan rumah ada batu karang setinggi dua meteran. Sewaktu kecil, saya membayangkan batu semacam inilah yang akan memakan Mama jika nasehat Mama tidak didengar. Jadi cerita itu tidak sekedar cerita, tetapi di tepi batu karang tinggi, tempat kami menggali dan mencari keong-keong kecil untuk ‘batede’ (saling membenturkan keong kecil hingga hancur salah satu atau dua-duanya). Tuturan itu menemukan bentuk materialnya. Amat jarang, bahkan tidak pernah saya membantah Mama. Pun setelah saya ‘selesai sekolah’, kata-kata orang tua adalah amanat untuk dituntaskan. Tidak berubah.

Ketika pandemi merebak dan para orang tua sangat mungkin menjadi korban karena mereka tergolong mereka yang rentan, cerita tentang Batu Badaon kembali muncul dalam ingatan. Apakah mungkin kita mampu menjaga para orang tua agar mereka tidak ditelan Batu Badaon. Kematian akibat pandemi, akibat COVID-19 adalah kematian seperti yang diceritakan dalam Batu Badaon. Mereka yang pergi hilang dalam sekejap ditelan malam. Tiada kengerian yang lebih daripada ketakutan menjadi anak durhaka. Di grup whatsapp sesama kawan sepermainan kami saling mengingatkan untuk menjaga orang tua kami masing-masing, dengan segala cara.

Ketika menulis cerita tentang COVID-19, dan berusaha agar pandemi itu bisa dikendalikan, saya tidak menulis untuk menyenangkan mereka yang kebetulan dianggap mampu membina peserta upacara bendera. Tidak pula untuk menyinggung para laron yang mengitari lampu. Saya cuma tidak ingin jadi anak durhaka. Anak yang tidak mampu membalas budi baik orang tua yang membesarkan dari kecil. Itu ketakutan terbesar.

 

Masyarakat sedang melakukan tes Covid-19 oleh Tim Laboratoium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT (Foto: Katolikana/Ellcid Li)

 

Mereka yang Gugur
Di kota karang rasa gamang muncul sejak Desember 2020, orangtua dari teman sepermainan berpulang dengan status COVID-19, dan untuk mengucapkan turut berduka pun kita harus pergi memutar baru tiba tanpa saling bertemu. Ini sesuatu yang tetap sulit, sebab meskipun sejak Oktober 2020, kami sudah berusaha mengantisipasi dan mendalami pertentangan batin dan konflik terkait pemakaman dengan protokol COVID-19, dengan tidak melibatkan ritus kematian yang dikenal, tetap saja konflik terkait perebutan jenasah antara keluarga dan Satgas Covid-19 yang bertugas memakamkan terjadi di mana-mana hingga hari ini.

Ironisnya tes untuk menentukan seseorang perlu dimakamkan dengan protokol COVID-19, cenderung hanya didapat ketika ‘seseorang sudah menjelang menjadi jenasah’, dan bukan saat ia hidup sehingga bisa dirawat, dan agar yang tertular tidak lebih banyak. Tetapi ini tetap tidak mungkin dilakukan di sini, laboratorium tidak dibangun, pun jika dibangun tidak diperhatikan.

Akibatnya sangat buruk. Khususnya untuk mereka yang meninggal dan harus menunggu hingga beberapa hari kemudian dan baru diketahui statusnya positif atau negatif. Sebagian dimaklumkan dimakamkan tanpa tes dan disebut ‘probable’. Mulanya saya pikir ini hanya terjadi untuk kalangan rakyat jelata, tetapi ironi ini juga dialami oleh pejabat tinggi. Pertanyaannya, jika untuk rakyat para elit tidak tergerak, dan untuk sahabatmu pun hati tidak tergerak, lalu apa yang bisa menggerakan jari-jarimu untuk bergerak?

Angka tes yang amat minim, dan terbawah di seantero Nusantara tidak membuat tergerak anak-anak NTT yang sudah menjadi orang dewasa untuk melindungi orang yang mereka cintai. Meskipun sudah diberi tiga mantra 3T (Test, Tracing, Treatment; atau diterjemahkan menjadi tes, lacak, dan rawat) tetap saja Huruf besar ‘T’ yang pertama tidak dianggap penting.

Absurditas kematian, terutama tentang kematian yang dirayakan dengan sepi dan sendiri setelah petugas-petugas ‘berseragam astronot’ akan menjadi mimpi buruk bagi keluarga. Menonton live streaming penguburan lewat facebook seorang rekan yang bekerja di BPBD setiap malam juga memberikan rasa horor tersendiri. Teringat seorang teman yang meminta agar sirine mobil jenasah dimatikan saat malam sepi ketika iringan penguburan lewat di media sosialnya. Tentu sirine itu bukan sekedar untuk membangunkan orang dari tidur lelap, tetapi untuk mengingatkan bagi mereka yang sedang tidur bahwa ‘mereka yang sedang melayani tidak sendiri’. Bayangkan kita harus memakamkan empat orang setiap malam. Bagaimana kita memahami kematian?

Setiap kali sirine mobil berbunyi ada tanya. Bagaimana kawan-kawan saya mengelola rasa duka? Tanpa ada tenda duka cita, siapa yang menghibur mereka? Apakah mungkin mereka melewati fase itu sendiri?

Kuburan Massal dan ‘Batu Badaon’
Setiap kita ingin mempersembahkan sesuatu untuk orang yang kita cintai. Terutama orang tua. Kita tidak pernah ingin ada kematian sia-sia terjadi pada mereka. Orang tua menempati ruang khusus dalam batin siapa pun. Sebab mereka yang membangun rasa, kata, dan badan kita. Jadi tidak heran, jika kita ingin agar mereka mendapatkan bagian terbaik dalam hidup. Pun jika waktunya mereka pulang, itu terjadi karena sudah waktunya mereka pupus. Pengertian ‘sudah waktunya’ tidak termasuk dalam kejadian ketika bisa dicegah namun tidak dilakukan, dan malah membiarkan.

Cerita tentang penghormatan terhadap orang tua umurnya setua ‘cerita rakyat’, setua satu angka dalam ‘10 Perintah Allah’ (Ten Commandments). Tuturan Batu Badaon mengingatkan agar kita tidak menjadi anak durhaka. Tidak menjadi Maling Kundang. Hal gemerlap di badan tiada berarti ketika kewajiban menjaga orang tua tidak dijalankan. Sesederhana itu tugas kita ketika diminta untuk ‘jadi orang’ ketika beranjak dewasa dan keluar dari rumah.

Diksi ‘jadi orang’ itu bukan karena kita punya apa, jadi apa, atau pernah kemana, tetapi jadi orang dalam pengertian yang sederhana adalah mampu menerjemahkan dengan baik cerita tentang ‘Batu Badaon’ di era pandemi. Kita tidak perlu sekolah untuk mengerti, cukup dengar ulang dan ingar cerita Mama. Jangan tunggu kematian menjemput baru bergerak, tetapi beraksi lah ketika ada waktu sebelum para orang tua ditelan ‘Batu Badaon’ pandemi COVID-19. Jika rakyat dan negara adalah konsep abstrak yang terlalu sulit untuk dimengerti oleh para pejabat dan para laron mungkin Batu Badaon akan membantu meluruskan ingatan dan tanggungjawab. Lebih sederhana.

Kupang, 25 Januari 2021

Moderator di Forum Academia NTT. Direktur Eksekutif IRGSC (Institute of Resource Governance and Social Change). Melakukan riset aksi isu petani subsisten, anak jalanan, perdagangan orang, dan pandemi Covid-19. Ia menyelesaikan studi doktoral di Departemen Sociology & Cultural Studies di University of Brimingham, Inggris. Karya tulisnya yang terbit dalam buku antologi: Tanah Ulayat, Kapitalisme dan Sikap Gereja (Oase Intim, 2015), Globalisation, the Role of the State and the Rule of Law: Human Trafficking in Eastern Indonesia (ISEAS, 2018).

Leave A Reply

Your email address will not be published.